5 Fingers of Doa

5 Fingers of Doa

 

Menemukan gam bar ini seat sedang melihat-lihat tumblr beberapa sahabat, kelihatannya lumayan aplikatif.

Terutama saat kita melupakan siapa yang sebaiknya didoakan dan doa seperti apa yang kira-kira tepat untuk mereka 🙂

Kisah Sebutir Kurma

Seorang sufi yang terkenal dengan kezuhudannya pernah mengalami suatu peristiwa yang mengandung hikmah untuk diambil manfaatnya: (berikut ini kisah tersebut)

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke masjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

‘Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,’ kata malaikat yang satu.

‘Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,’ jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. ‘Astaghfirullahal adzhim’ ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. ‘4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?’ tanya ibrahim. ‘Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma’ jawab anak muda itu. ‘Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?’. Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. ‘Nah, begitulah’ kata ibrahim setelah bercerita, ‘Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?’. ‘Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.’ ‘Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.’

Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. ‘Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.’ ‘O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.’

‘Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…

Orang-orang yang didoakan malaikat.

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka
malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga
malaikat berdoa Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam
keadaan suci.” (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk
menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat
akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia. (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada (orang orang) yang berada pada shaf shaf terdepan (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra bin Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan
sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu
bershalawat kepada orang orang yang menyambung shaf shaf (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan Amin ketika seorang Imam selesai membaca Al
Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, Jika seorang Imam membaca ghairil maghdhuubi
alaihim waladh dhaalinn , maka ucapkanlah oleh kalian aamiin , karena
barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan
diampuni dosanya yang masa lalu (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa )
kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana
ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata,
Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang orang yang melakukan shalat shubuh dan ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu
para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas
malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap
tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ashar dan malaikat
yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit)
sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah
bertanya kepada mereka, Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?, mereka
menjawab, Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami
tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah
mereka pada hari kiamat (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia
berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata
aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang
hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara
keduanya berkata, Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan
lainnya berkata, Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
( berdoa ) kepada orang orang yang sedang makan sahur
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah ”. (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar
ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat
Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali
Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di
waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh (Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, Sanadnya shahih)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah
bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.
Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan
bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang orang yang Didoakan
Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Doa dan Usaha…

ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.

Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, “Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan….., please….. Tolong dengarkan doa hambamu ini”. Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya.

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, “Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?”. maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat.

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan

http://planetmotivasi.wordpress.com/2009/12/10/doa-dan-usaha/

Ingat, jangan pernah berdoa tanpa melakukan usaha. Itu seperti makan siang dengan roti, tidak memuaskan hati. Banyak orang yang merasa kecewa ketika Allah subhanahuwata’ala tidak mengabulkan doa yang mereka panjatkan, padahal mereka sendiri tidak pernah mencoba untuk berusaha. Sekarang coba kita pikirkan, apakah pantas seandainya kita meminta nilai UN yang bagus tapi kita hanya menghabiskan waktu untuk Online, Main PS, dan segala kegiatan yang tidak mempengaruhi nilai UN sampai kita melupakan belajar? Tapi jangan lupakan doa, karena skenario ada di tangan Allah subhanahuwata’ala, dan percayalah, Dia pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Mungkin pernah kita dikecewakan karena mengalami hal yang tidak kita inginkan, tapi ketahuilah sahabatku, terkadang suatu pola yang abstrak antara kebaikan dan keburukan akan menghasilkan corak yang indah dan mampu mempesona siapa saja yang memandangnya. Lagipula, apakah kamu yakin yang baik bagimu itu baik di mata Allah?

Mengapa kita Berdoa?

Seseorang, terutama Anda yang sering berdo’a pasti hafal beberapa do’a, sekecil apapun, sependek apapun. Namun, sadarkah kita bahwa tak selalu kita khusyuk dalam berdo’a? Hal ini adalah hal umum yang terjadi di kalangan masyarakat, terutama kawula muda yang makin larut dalam kehidupannya masing-masing. Di sini, saya akan mencoba membahas beberapa masalah dalam berdo’a dan penyelesaiannya.

1. Kepada siapa kita berdo’a?
Ini masalah paling umum di masyarakat. Rata-rata, sekolah memaksa murid untuk menghafal doa-doa harian. Hal ini membuat siswa menjadi berorientasi untuk berdo’a guna mendapatkan nilai. Hal ini menyebabkan siswa berpikir bahwa do’a adalah komplementer, membentuk jalan berpikir bahwa tidak berdo’a ya tidak apa-apa. Hal ini patut menjadi pembahasan, sebab, dengan jalan berpikir seperti ini, lama kelamaan berdo’a akan sama sekali ditinggal oleh masyarakat.

Contohnya seperti ini:
-Seorang anak telah diajarkan do’a makan. Ketika hendak makan, gurunya mengingatkan,”Hayo, jangan lupa berdo’a!”. Kemudian anak itu akan berdo’a sesuai yang diajarkan, misalnya ” Allahuma baariklana, fiima……dst”. Sampai di rumah, ibunya melakukan hal sama yang dilakukan gurunya di sekolah, dan hal itu berulang terus dari hari ke hari.-

Hal ini akan membentuk pemikiran dalam diri anak bahwa berdo’a adalah budaya sebelum makan, bukannya bentuk permohonan pada Allah. Jadi, do’a yang keluar dari mulut hanya sekadar kata-kata belaka tanpa ada pengertian lebih lanjut. Akibatnya, do’a tadi jadi tidak mujarab. Akibatnya pula, anak menjadi tak mengerti maksud dan kegunaan do’a. Do’a tadi tak didasarkan atas permohonan kita pada Allah, namun pada kebiasaan sehari-hari. Hal ini harus kita hindari agar tak terjadi yang namanya kesalahpahaman. Semua orang yang masih belum terlambat dinasehati, harus sesegera mungkin dinasehati, agar, do’a kita makbul dan tidak sia-sia. Do’a yang tanpa harap akan menimbulkan kesan bodoh dan sombong yang tentunya tidak mau kita miliki bersama.

2. Apa tujuan kita berdoa?
Doa dapat kita lakukan dengan bermacam-macam tujuan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena banyak orang yang hanya menghafal doa tanpa mengerti artinya hingga kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak kita pahami. Jika ini dilanjutkan, ada kemungkinan akan terciptanya sebuah bid’ah bahkan mantera perdukunan baru. Karena itu, kita lebih baik menghafal doa sekaligus artinya agar kita bisa lebih menghayati maksud dan tujuan doa ini dibacakan.

Dua poin itu adalah inti dari kesalahpahaman kita yang sering terjadi pada diri kita.
Sekarang pertanyaannya adalah “Sudah benarkah doa yang kita lakukan?”

Khutbah Jum’at

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Akhir-akhir ini entah mengapa semangat nge-blog saya yang pernah berada di puncak merosot sampai ke kaki, artinya semangat saya untuk nge-blog sedang turun. Tapi ya sudahlah, lagipula pekan-pekan ini juga saya punya banyak kegiatan di luar rumah. Kemarin saya harus mengikuti sidang lokakarya sebagai wakil dari ROHIS di sekolah, lalu besok saya juga harus mengikuti wawancara FORTRIS di SMA N 90 Jakarta yang dimulai pada pukul 9 pagi (Dalam Waktu Indonesia Barat). Tapi ya sudahlah, semoga saja Allah swt membantu saya dalam mengerjakan semua pekerjaan yang akan saya lakukan pekan ini dan seterusnya.

Jum’at kemari, saya mengikuti Shalat Jum’at di Masjid Al-Ishlah SMAN 47 Jakarta. Memang biasanya saya mengikuti Shalat Jum’at disana, tetapi kali ini ada yang berbeda. Entah kenapa saya tidak merasa mengantuk sedikitpun saat itu. Padahal, biasanya saya merasa mengantuk sehingga ketiduran (Nggak selalu sih, tapi sering). Jadi, saya pun mendengar isi khutbah itu dengan (Alhamdulillah) lumayan jelas. Beginilah isi khutbahnya (Kalau tidak salah seingat saya begini).

Pada zaman dahulu ada seorang pemimpin (Kalau tidak salah ya, agak samar sih) yang bernama Ibrahim (Ibn’ siapa gitu… Lupa…). Dia berkata pada umatnya “Allah berfirman, “Ut ‘uni Astajib lakum, Mintalah kepada-Ku dan akan Ku-kabulkan.” Namun, umatnya protes kepadanya. Karena doa mereka masih belum dikabulkan setelah sekian lama mereka beriman dan berdoa, belum ada tanda bahwa doa mereka akan dikabulkan oleh Allah swt, sehingga mereka pun protes kepadanya.

Umatnya pun berkata padanya, “Wahai Ibrahim, kami telah berdoa pada Allah swt. GTapi mengapa doa kami belum terkabul? Bukankah kami telah lama beriman kepadanya. Lagipula, bukankah kau berkata Ut ‘uni Astajib lakum?” Ibrahim pun menjawab “Ya, aku berkata demikian.” Mereka pun bertanya lagi, “Lantas apa sebabnya doa kami tidak dikabulkan? Sungguh, engkau telah berdusta pada kami.”

Lantas, Ibrahim pun menjawab,”Ada beberapa perkara yang menyebabkan Doa seseorang tidak dikabulkan. Yaitu engkau mengaku Allah swt sebagai Tuhanmu, tetapi engkau tidak memenuhi hak-haknya. Lalu, engkau mengaku Al-Qur’an sebagai pedomanmu, tetapi engkau tidak menghayati isinya dan mengamalkan kandungannya.” Umatnya pun bertanya,”Lalu apa lagi, wahai ulil amri?” Ibrahim pun berkata,”Engkau mengaku setan yang terkutuk sebagai musuhmu, tetapi perbuatanmu persis seperti perbuatan mereka. Engkau biarkan mereka menyeretmu kedalam kesesatan.”

Sekarang marilah kita lihat kepada diri kita sendiri, dapatkah doa kita dikabulkan oleh Allah swt jika perbuatan kita masih seperti ini?