Film

Liburan yang penuh dengan film dan permainan, mari lupakan sejenak laporan yang belum selesai meski batas waktu pengumpulan semakin dekat. Yah, apa lagi yang dapat dilakukan saat sudah tidak ada minat untuk mengerjakan? Meskipun beban kerja besok akan menjadi lebih berat, nikmatilah waktu singkat yang ada bersama keluarga. Lagipula wajar bukan jika orang yang telah lama tidak bersua dengan para saudara ingin menghabiskan waktu lebih dengan mereka, meski hanya nonton film bersama atau berdiskusi soal liga primer dan permainan di hp atau komputer. Yah, sekalian meracau lah malam ini, sayangnya masih belum ada anggota keluargaku yang seru untuk diajak meracau, meski hanya sekedar berbicara asal tentang dunia tanpa tahu apakah pendapat kita benar atau tidak.

Akhir-akhir ini lumayan mengikuti film detektif, terutama film detektif hasil produksi BBC yang tidak terlalu panjang untuk diikuti seriesnya. Setelah Broadchurch dan Sherlock, ternyata Luther juga merupakan serial yang menarik untuk diikuti. Ketiganya mengangkat hal yang menurutku berbeda meskipun sama-sama bercerita tentang detektif. Sherlock, yang terinspirasi dari sherlock holmes karya sir arthur conan doyle, lebih mengangkat drama yang emosional terkait kehidupan sherlock sebagai tokoh utamanya, dan jelas mempertunjukkan kelihaian deduksi dan beragam keahlian sang sherlock–hei, memang itu yang ingin dilihat oleh para penghemar sherlock holmes–dalam kasus-kasus yang dibuat lebih modern. Broadchurch, meskipun sama-sama mengangkat sisi drama yang emosional, lebih menyorot ke kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat terkait apa yang mereka lakukan setelah terjadi pembunuhan di daerah mereka. Serial ini juga lebih mempertunjukkan sisi psikologis manusia dalam beberapa hal, seperti saat kehilangan sesuatu atau seseorang yang berharga dan saat ditekan oleh semua orang yang ada di sekitar. Dalam hal ini, mungkin Luther sedikit berbeda, setidaknya itulah kesimpulanku dari 2 episode awal yang telah kulihat. Luther lebih mengangkat adu kecerdasan dan strategi antara detektif dan penjahat dengan tema yang lebih mengarah ke kriminal daripada drama.

Dan tadi juga baru saja menyaksikan film Prisoners, yah, setidaknya film itu juga mengangkat tema kriminal meski ada juga detektifnya. Bercerita mengenai penculikan anak kelihatannya merupakan salah satu metode kampanye yang baik di bidang perlindungan dan perhatian kepada anak, apalagi jika ceritanya dikemas dengan menarik. Yah, setidaknya thriller dan adegan kriminal yang diangkat menurutku menarik untuk dilihat, dari penculik yang psikopat sampai ke tindakan dari keluarga korban terhadap tersangka penculikan.

Selain itu The Time of The Doctor juga lumayan untuk dijadikan tontonan akhir tahun, sayangnya perlu mengikuti Doctor Who dari series 5 untuk (sedikit lebih) mengerti apa yang diceritakan, karena memang episode ini ditujukan untuk meninggalkan kenangan terhadap Doctor ke-11 karena ini merupakan episode terakhirnya. Agak disayangkan plot ceritanya agak terlalu terburu-buru, mungkin karena terlalu banyak logika science-fiction yang harus dijelaskan dalam 60 menit, tapi tetap saja ada hal yang menarik untuk dibahas, terutama kata-kata terakhir Doctor ke-11 sebelum digantikan. Mungkin lain kali akan dibahas.

Salah satu hal lain yang menarik, Doctor Who kelihatannya telah menjadi sebuah capaian yang hebat dari BBC. Sebagai series yang telah diputar 50 tahun, banyak aktor yang pernah bermain di Doctor Who juga mendapatkan peran di series BBC lainnya, entah apa hal yang mempengaruhi ini. Dan sayangnya british series yang bagus belum ada yang diputar di stasiun tv lokal indonesia, padahal menurutku series seperti ini lebih baik daripada drama asia timur yang sering diputar. Yah, entah itu cuma seleraku yang unik atau karena banyak yang belum berkesempatan melihat british series, tapi akan menyenangkan bisa menontonnya di indonesia. Apalagi beberapa series seperti Doctor Who juga ditujukan sebagai serial anak-anak yang dapat ditonton semua umur, terutama karena serial ini mengangkat tema kepahlawanan dari orang yang tidak menyukai kekerasan ataupun senjata, berbeda dengan kebanyakan anime yang mengangkat tema kepahlawanan dari segi pertarungan. Agak berharap post ini dibaca oleh pihak yang berwenang dalam penyiaran televisi, karena aku termasuk orang yang sudah tidak menemukan entertainment yang menarik di stasiun tv manapun saat ini, kecuali sangat sedikit. Yah, mengembalikan acara pembelajaran yang menarik seperti yang diputar oleh salah satu produsen suplemen otak pada awal 2000an lalu juga dapat menjadi solusi yang efektif, setidaknya dalam mengembalikan minatku untuk menonton televisi kembali.

Tapi terlepas dari itu, aku agak penasaran, kenapa menonton skenario dari layar kaca itu sangat menarik ya? Entah itu film kartun, sinetron, drama korea, british series, ataupun pertandingan sepakbola, melihat hal-hal yang orang lain lakukan kelihatannya sangat menyenangkan dan dapat membuat banyak orang lupa waktu. Entah apakah karena kita ingin melupakan masalah diri sendiri dengan fokus pada masalah orang lain, mencari inspirasi untuk bertindak atau berkarya, ingin mengetahui dunia yang sangat sulit kita lihat dari kehidupan kita atau kenapa, semua orang jelas punya alasannya tersendiri. Tapi yang jelas, ada juga beberapa–atau mungkin lumayan banyak, entah lah, sayang aku tidak punya data–orang yang terlalu terobsesi dengan kehidupan para karakter di film tersebut.

Menonton bukanlah hal yang buruk, jelas ada hal positif yang dapat kita ambil. Sudut pandang yang mungkin berbeda, pelajaran terkait konflik yang mungkin sedang atau akan kita alami, dan memperhatikan sebuah skenario yang mungkin terjadi dalam jangka panjang. Tapi, kelihatannya obsesi bukanlah hal yang bagus, apalagi sampai menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyelami dunia fiksional tersebut. Karena, semenarik apapun dunia fiksi tersebut, selalu ada hal yang perlu diselesaikan di dunia nyata terkait diri kita. Dan meskipun sudah terbiasa untuk menonton, ada waktunya kita perlu mengambil peran utama dalam masalah di dunia nyata, bukan?

Iklan

Doctor Who

Tema google hari ini bagus juga, ulang tahun ke-50 dari serial TV BBC berjudul Doctor Who 😀 Gamesnya juga lumayan, menggunakan Doctor untuk mengambil huruf-huruf penyusun kata GOOGLE dengan menghindari musuh bebuyutannya, Dalek. Sayang serial TV sains-fiction ini belum terlalu terkenal di Indonesia, sedikit perhalusan dari fakta bahwa acara ini memang nggak terkenal disini, haha. Berhubung hari ini adalah ulangtahunnya ke-50, yang akan berlangsung pada pukul 17:15 waktu GMT tepatnya, setidaknya aku akan mencoba menjelaskan acara apa ini menurutku. Oh, sekedar info, kalender masehi yang digunakan pada tahun 1963 sama dengan kalender masehi yang akan digunakan pada tahun ini 🙂

Doctor Who

Doctor Who adalah serial TV yang diputar BBC dengan genre science-fiction, mengangkat tema kehidupan seorang alien dari ras Time Lords atau Pengendali Waktu yang memanggil dirinya “Doctor”–setidaknya begitu lah dia memanggil dirinya, dan begitu juga orang-orang lain memanggil dirinya. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi, yang akan mengubah dirinya menjadi orang yang benar-benar berbeda saat kondisi kesehatannya sudah sangat parah, itu caranya “mencurangi kematian”–dan itu juga yang menyebabkan serial ini masih ada sampai sekarang, setiap saat aktor pemeran “Doctor” akan mundur, maka “Doctor” akan melakukan regenerasi dan diperankan oleh aktor baru. Setelah melakukan regenerasi pun sang “Doctor” akan memiliki wajah, kepribadian, sifat, dan selera yang berbeda. Namun, dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang dia pegang, nilai-nilai sebagai seorang “Doctor”. Baginya, nama adalah sebuah janji yang harus dia laksanakan, karena itu pada umumnya, dia bertingkah seperti layaknya seorang “Doctor”, sebagai penyembuh, atau sebagai orang bijak. Saat ini regenerasi yang dia lakukan sudah mendekati selusin, atau mungkin lebih, dan sekarang adalah giliran Matt Smith dalam memerankan “Doctor” kesebelas.

Eleventh Doctor

Dia memiliki alat transportasi bernama TARDIS, singkatan dari Time And Relative Dimension In Space, kombinasi dari pesawat luar angkasa dan mesin waktu dengan bentuk unik, kotak polisi berwarna biru. Meski kelihatannya kecil, namun pintu masuk kotak biru ini merupakan gerbang menuju dimensi lain yang jauh lebih luas dan dapat digunakan untuk berpindah waktu dan tempat dengan cepat. Alasan kenapa menggunakan kotak polisi berwarna biru masih belum diketahui, tapi idenya unik juga. Siapa yang menyangka bahwa benda-benda di sekitar kita yang umum kita lihat (pada zaman dahulu kotak polisi berwarna biru mudah ditemukan di daerah Inggris) memiliki kemampuan melebihi apa yang kita kira?

TARDIS-Blue Police Box

Salah satu alasan utama aku menyukai serial ini adalah karena ini adalah pertunjukan mengenai dua hal yang aku suka dan sering kupertanyakan, sains dan moralitas. Ini adalah tempat yang tepat untuk melihat tentang salah satu kemungkinan bayangan teknologi di masa depan akan jadi seperti apa, kemungkinan mengendalikan gelombang suara untuk membuka pintu atau memeriksa kesehatan makhluk hidup, tamasya ke segala tempat di zaman apapun, material yang sangat kuat dan tidak dapat ditembus, dan lain sebagainya. Dari segi moralitas, serial ini menunjukkan kredibilitas sang aktor dalam menunjukkan keseriusan sang “Doctor” menepati janji sebagai namanya, sebagai orang yang selalu menolong, bijak dan berusaha menyembuhkan situasi yang ada.

Oiya, serial ini berbeda dengan Star Trek dan Star Wars. Meskipun sama-sama mengangkat tema mengenai luar angkasa dan penjelajahan, atau perang dengan ras lain, Doctor Who menurutku memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap hal-hal seperti ini. “Doctor” cenderung memilih untuk lari dari masalah, tidak menyukai aksi kekerasan dalam bentuk apapun, dan sangat jarang terlibat dalam peperangan. “Doctor”, setidaknya dalam serial yang baru di-reboot pada tahun 2005 ini, selalu memberikan pilihan bagi orang-orang yang dia hadapi, untuk pergi dan melupakan rencananya atau hancur saat bertarung, bukan hal yang umum ditemui dalam medan perang. Tokoh “Doctor” pun digambarkan sebagai sosok yang memiliki kegelapan tersendiri yang tidak dimengerti oleh para teman-teman perjalanannya. Ide bagi para musuh “Doctor” pun beragam, dan kadang menyeramkan. Seperti Dalek yang merupakan otak jahat dan bersembunyi dalam baju besi yang kuat (oke, bentuknya memang aneh, dan mungkin gak menyeramkan, tapi serial ini menggambarkannya lumayan menyebalkan), dan hanya punya keinginan untuk menghancurkan segala hal yang berbeda. Bagaimanapun, agak menyeramkan kalau tiba-tiba kita menemukan sosok orang dengan kepribadian seperti itu, menghancurkan semua orang lain hanya karena mereka berbeda, kan? Entah bagaimana, Doctor Who lebih menggambarkan mengenai hal-hal yang mungkin, atau sudah terjadi di dunia nyata. Cerita ini juga melibatkan tokoh-tokoh yang pernah ada, seperti Ratu Elizabeth, Winston Churchill, Vincent van Gogh, Agatha Christie dan masih banyak lagi. Selain itu, serial yang lebih senior dari Star Trek dan Star Wars ini juga kadang menjadi referensi dari kedua serial tersebut.

Dalek

Awalnya, serial ini ditujukan bagi anak-anak. Aku pernah menonton dua seri episode awal dari Doctor Who, seri episode pertama mengenai kegunaan api di sebuah suku saat zaman purba, dimana pemimpin dari suku tersebut adalah orang yang dapat membuat api. Cerita ini muncul setahun setelah kejadian “Cuban Missile Crisis” pada 1962, dan menggunakan “api” sebagai metafor dari “senjata atomik”, yang dapat membawa manfaat ataupun kehancuran massal, tergantung pada penggunaannya. Seri episode kedua adalah pengenalan “Doctor” kepada ras alien yang akan menjadi musuh bebuyutannya, yaitu “Dalek”. Dalek merupakan ras yang tidak menyukai (atau takut) kepada semua hal yang berbeda, akibatnya mereka memutuskan untuk menghancurkan semua hal yang mereka anggap berbeda di semesta ini. Ada yang tahu kaum apa yang menjadi inspirasi bagi alien Dalek ini? Bagi yang belum dapat menebak, Dalek ini terinspirasi dari kelompok “Nazi”, dengan argumen bahwa semua anggota dari ras tersebut memiliki pemikiran yang sama, tidak menyukai perbadaan dan komunis. Aku tidak terlalu menangkap permasalahan dengan komunis, meski mungkin ini memang salah satu kampanye BBC untuk memenangkan ideologi liberal pada saat itu, tapi bagaimanapun, sejarah mengenai kaum Nazi bukanlah suatu hal yang baik. Oiya, tapi aku pun tidak terlalu menganjurkan untuk menonton serial yang jadul tersebut kalau mau having fun, karena jujur, aku sendiri menganggap acting beberapa tokoh saat Doctor Who baru diputar itu jelek, apalagi yang memerankan Susan–cucu dari “Doctor”. Aku merekomendasikan serial hasil reboot yang jauh lebih baik dibandingkan dengan serial zaman dahulu, special effectnya pun lebih keren, namun kalau mau mengetahui story line sesungguhnya dari kehidupan “Doctor”, silahkan cari file film zaman dulu tersebut 🙂

Dalek's Inside

Dan sekarang, serial ini telah di-reboot, setelah berhenti pada akhir tahun 1989, dan dilanjutkan dengan film Bioskop pada 1996, serial ini ditayangkan lagi pada tahun 2005. Dan hasil reboot serial ini pun menjadi lebih terkenal dibandingkan serial ini pada zaman dahulu, yang hanya dapat membangun basis fans pada wilayah Britania Raya saja. Sekarang, Doctor Who juga menjadi serial TV BBC terpopuler di Amerika. Meski memang basis story line, atau garis ceritanya agak rumit karena sang “Doctor” dapat berpindah ke waktu kapanpun dan tempat manapun, namun nilai-nilai yang dibawa, pertualangan dan kisah hidupnya–salah satu yang paling membedakan serial Doctor Who pada zaman dahulu dan saat ini adalah kehidupan asmaranya, dimana dahulu “Doctor” digambarkan sebagai sosok yang tidak peduli dengan urusan asmara dan sekarang menjadi sosok yang lebih terbuka dan peduli, mungkin pengaruh dari generasi galau saat ini yang menyukai sikap romantis–yang memang keren.

Time and Space

Malam ini serial “Doctor Who” akan memutar episode spesial 50 tahunnya, dengan judul “The Day of the Doctor”. Berdasarkan spoilernya, episode ini terkait dengan masa lalunya yang kelam saat terjadi Time War antara kaum Time Lord dan Dalek, kelihatannya menarik :3

Doctor Who Logo

Dan kalau para pembaca belum pernah menontonnya, percaya lah, serial ini seru untuk diikuti. Meski memiliki ciri khas kaum cendekia barat yang mengingkari adanya Tuhan, dan kuakui beberapa hal mungkin kurang berkenan dalam kebudayaan timur, namun nilai yang dapat diambil pun lumayan banyak. Bagaimanapun, kita dapat mengambil hikmah dari mana saja, bukan? Mari kita lihat apakah kelak serial ini bisa menjadi populer di Indonesia atau tidak, setidaknya lebih menyenangkan saat kita punya teman untuk melakukan keanehan bersama-sama 🙂