Ucapan

 

 

 

 

Menemukan komik yang menarik di pertengahan pekan ini. Ya, isu tidak boleh merayakan natal ataupun menyelamatinya selalu menjadi isu yang populer di akhir tahun, entah kenapa. Dan komik ini membahas toleransi antar penganut agama. Ah, sepakat ataupun tidak, isu ini selalu menarik bagi seorang muslim bukan? Yah, setidaknya perdebatan terkait ini kadang masih terjadi.

1476649_556107137808796_809921097_n

Komik ini menganggap bahwa ucapan merupakan prinsip yang mendasar bagi seorang muslim. Apa beratnya sebuah ucapan? Memang, itu hanya untaian kata. Tapi yang membedakan orang yang menganut agama islam dan tidak juga hanyalah kalimat syahadat. Ucapan juga merupakan hal yang membedakan orang yang munafik dan orang yang tidak, bukankah Rasulullah pernah bersabda “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya” dalam hadits yang diriwayat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim? Dusta dalam berkata dan ingkar dalam berjanji, padahal kata dan janji juga hanyalah ucapan, namun itu merupakan tanda orang munafik.

Mencoba googling tentang pentingnya menjaga perkataan, dan menemukan hadits arbain nomor 29 dari kitab Arba’in An-Nawawiyyah, yang menyebutkan “… Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Mau, wahai Rasulullah saw.’ Maka Rasulullah saw memegang lidahnya, beliau bersabda, ‘Tahan ini!’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, adakah kita terhitung berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya di dalam neraka dikarenakan lidahnya’, Atau ‘Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?’ ” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

Dan aku juga pernah mendengar kalimat, “Jika kau tidak cukup sayang terhadap saudaramu dengan memberitahukan keburukannya langsung kepada dirinya, janganlah kau nodai kehormatannya dengan membicarakan keburukan tersebut di belakangnya”. Lagi, semuanya hanya lah kata-kata yang mungkin tidaklah penting. Tapi hal yang sering tidak dianggap penting ini mampu menjatuhkan kehormatan orang, mampu merusak persahabatan, mampu menimbulkan kebencian, dan mampu mengawali terjadinya kejahatan. Baru-baru ini katanya ada kasus dimana seorang orang yang terhormat (kalau tidak salah semacam pendeta atau petinggi agama hindu di bali, kalau aku tidak salah ingat) yang meninggal ditusuk oleh anaknya sendiri. Alasannya? Anak tersebut tidak terima dinasihati oleh ayahnya. Lagi, hanya diawali dengan kata-kata.

Ya, kata-kata memang sepele, tapi bagi muslim, kata-kata itu merupakan hal yang signifikan. Ambil contoh dalam pernikahan, halal dan tidaknya sebuah pasangan hanya ditentukan oleh serah terima (akad) yang diucapkan dengan kata-kata. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam transaksi jual-beli, hubungan dengan dosen pembimbing atau petinggi masyarakat, bahkan hubungan dengan teman sebaya juga punya keterkaitan pada kata-kata yang kita pilih. Setidaknya itu akan berperan dalam jumlah teman yang kita miliki dan pandangan orang-orang di sekitar kita terkait diri kita, hanya dari kata-kata.

Dan mungkin itu lah penyebab kenapa menyelamati orang beragama lain atas hari rayanya bukan hal yang layak untuk dilakukan seorang muslim. Bagaimanapun, kata-kata merupakan salah satu hal yang mendasar dalam kepercayaan kita. Jika ada keharusan untuk menyelamati, entah untuk menjaga wibawa atau hubungan dengan teman, mungkin ucapan “selamat berlibur”, “selamat berkumpul dengan keluarga” dan “selamat hari libur” dapat dijadikan alternatif yang tidak menyalahi kepercayaan kita. Itu yang umumnya kulakukan, karena bagiku tanggal merah selalu merupakan hari raya, yang kurayakan dengan hal tertentu seperti shalat ied, atau hari libur, yang kunikmati dengan beristirahat, hahaha.

Oh iya, ada juga temanku yang berkata untuk tidak terlalu menggembar-gemborkan masalah ini di media sosial, berhubung memang mungkin ada orang-orang dari agama lain yang kurang senang atau tidak enak jika melihat apa yang dia percayai dipandang “kok gini sih” oleh para muslim, atau mungkin karena ada muslim yang kurang bijak dalam menyampaikan pandangannya di media sosial (entah dengan kalimat menghina atau semacamnya, dan aku tidak jarang menemukan yang seperti ini), padahal tulisan-tulisan di media sosial itu merupakan tulisan yang dapat dibaca semua orang. Yah, itu penyebab lain kenapa aku menyukai komik diatas. Menunjukkan batasan toleransi melalui aksi, tapi tetap ada prinsip yang perlu kita jaga.

Bagaimanapun juga, semester telah beres, selamat berlibur semua 😀

Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Postingan ke-133, yay! 😀

Selamat tahun baru hijriyah bagi yang merayakan.

Tahun baru, baik masehi ataupun hijriyah, dianggap sebagai momen yang penting, dan banyak orang yang membuat resolusi tahun baru di awal tahun. Kedua tahun baru ini juga dijadikan sebagai hari libur, entah agar resolusi dapat dibuat dengan lebih khusyuk atau agar kita memulai tahun dengan bermalas-malasan. Yah, semoga awal dari tindakan kita dalam mewujudkan resolusi kita bukanlah kegiatan bermalas-malasan seperti itu ya 🙂

Oiya, dalam kasus ini, aku tidak akan membahas tahun baru imlek, tahun baru saka dan tahun baru dalam sistem-sistem penanggalan lain karena keterbatasan pengetahuan terkait budaya pada masyarakat yang menggunakan sistem penanggalan tersebut, hanya pikiran asal tentang tahun baru hijriyah dan masehi saja.

Sampai sekarang, aku masih belum mengerti urgensi kedua tahun baru (masehi dan hijriyah) dan ulang tahun dirayakan, aku memang tidak termasuk orang-orang yang merayakan ketiga hari itu. Aku juga mencoba memahami argumen-argumen dari beberapa kawan yang antusias menyambut momen ini, dan tetap belum mengerti.

Karena ini merupakan kesempatan untuk membuka lembaran baru? Yaaa, tiap hari juga merupakan hari yang baru sih, bahkan tiap detik juga merupakan detik yang baru, dan jelas kalo mau membuka lembaran yang baru harusnya gak perlu menunggu momen tahun baru atau ulang tahun juga.

Karena ini merupakan hal istimewa yang terjadi hanya sekali tiap tahun? Cobalah rayakan ulang tahun dimana tanggal, bulan dan harinya sama dengan tanggal, bulan dan hari lahir kita, itu hanya terjadi 3 kali dalam 28 tahun (siklus kalender berulang tiap 11 tahun, 11 tahun dan 6 tahun karena pengaruh tahun kabisat), jelas lebih istimewa bukan?

Bagaimanapun, harus diakui bahwa tahun baru merupakan momen yang tepat untuk membuat resolusi, targetan yang ingin dicapai atau dilaksanakan selama setahun kedepan. Memang aku bukan orang yang terlalu antusias dalam menyambut tahun baru, karena aku menyambut hari libur dengan menonton film, main game dan bermalas-malasan, haha. Tapi aku sendiri pernah membuat sebuah resolusi pada tahun baru masehi 2009 silam, dan sampai sekarang itu satu-satunya resolusi yang pernah kubuat saat tahun baru. Resolusinya tentang apa biar jadi rahasiaku, yang jelas aku tau ini resolusi yang baik.

Tak lama setelah melakukan perubahan berdasarkan resolusi itu, diskusi terkait ikut-ikutan merayakan tahun baru lumayan ramai di internet. Dan aku pun memang sempat berpikir ulang terkait resolusiku tersebut. Bid’ah karena mengkhususkan momen atau mengikuti kaum yang tidak sejalan? Yaa, kan jelas perubahannya menuju kearah yang lebih baik, lagian kalo dapat tekad atau hidayah buat berubahnya memang kebetulan barengan sama momen khusus kaum lain, apa yang salah? Dan Alhamdulillah efek dari resolusi itu masih bisa kurasakan dan masih berpengaruh dalam kehidupanku sampai sekarang.

Mungkin ini salah satu kesalahan kita, kita mengadakan hari besar tanpa pemaknaan. Kita tidak mengerti mengapa sebuah hari diliburkan. Jika orang-orang memaknai idul fitri sebagai hari saat kita kembali ke dalam keadaan yang suci, saat kita telah berhasil mengendalikan hawa nafsu, mungkinkah saat ini kasus tindak kriminal di jalanan masih banyak jumlahnya jika orang-orang ingin mempertahankan keadaan sucinya dan tetap mengendalikan hawa nafsunya? Jika orang-orang memaknai tahun baru sebagai ajang untuk berubah, melihat ada satu tahun penuh yang dapat dimaksimalkan untuk berkarya, mungkinkah hidup orang-orang akan menjadi lebih bermanfaat?

Entah lah, bagaimanapun juga aku hanya manusia yang bisa berandai-andai apakah dunia bisa menjadi lebih baik jika orang-orangnya begini dan begitu. Sulit untuk mengetahui asumsi kita benar atau salah jika kondisi yang kita bayangkan tidak pernah terjadi dalam dunia nyata, bukan?

Mungkin sampai saat ini aku memang belum mengerti urgensi untuk merayakan momen seperti ini, tapi pemikiran dan tulisan asal malam ini kelihatannya mengharuskanku untuk lebih memaknai momen-momen yang ada. Karena itu, izinkan aku merevisi pernyataan awalku.

Tahun ini baru saja dimulai, masih banyak waktu untuk berkarya, memberikan manfaat, berbagi, berkreasi dan beraktivitas di tahun ini. Selamat memanfaatkan tahun ini dengan sebaik mungkin, jadikan lah tahun-tahun lalu sebagai pelajaran agar tahun ini berjalan lebih baik bagi kita semua. Selamat berkarya kawan! 😀