Idul Fitri

Tak terasa ramadhan kembali berlalu, bulan kembali berganti. Mungkin tidak sedikit manusia yang merasa kurang memaksimalkan kesempatan kali ini, yah, manusia selalu menginginkan lebih–terlepas dari apakah dia punya kapabilitas untuk berbuat lebih ataupun tidak–bukan?

Sekedar mengingatkan bahwa berandai-andai apa yang terjadi jika melakukan hal yang berbeda di waktu yang telah lampau bukanlah hal yang bijak. Kita bisa mengambil pelajaran darinya, jelas, tapi apa gunanya pelajaran yang diambil jika kita terperangkap di tempat, tidak bisa bergerak maju karena sibuk memikirkan masa lalu?

Saat usaha telah maksimal, selalu ada saat untuk berdoa. Setidaknya, pahala merupakan sebuah privilege khusus milikNya, kan? Mari berdoa agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia di sisiNya 🙂

Taqabbalallahu minna wa minkum, ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.
Semoga Allah menerima amalan kita, dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung 🙂

Selamat idul fitri semuanya, entah apakah kita termasuk golongan yang menang ataupun tidak–aku masih kesulitan menentukan standar menang itu–tapi semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu memperbaiki diri, juga golongan orang-orang yang selalu memberi manfaat bagi orang lain. Bisa dimulai dari bertukar rantang masakan ataupun sekedar bersilaturahmi dengan tetangga, anggaplah amplop berisi uang dari tetangga yang dermawan sebagai hadiah tambahan untuk menjaga silaturahmi. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? 🙂

Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan? 🙂