Permohonan Tanpa Pengetahuan

[Nuh] berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (memberi) belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan masuk orang-orang yang merugi.”

QS Hud (11) : 47

Ah, Allah selalu mengingatkan di waktu yang tepat ya, nyaris saja meminta sesuatu yang tidak kuketahui ilmunya :’)

Merasa diingatkan, kadang kita suka memohon akan sesuatu yang kita tidak punya pengetahuannya ya. Memohon cepat lulus, memohon cepat kerja, memohon usaha sukses, memohon cepat nikah, memohon jadi juara lomba, memohon dapat beasiswa, memohon cepat punya anak, banyak ya.

Tidak bermaksud mengatakan itu salah, karena memang tidak ada yang salah dengan menginginkannya. Hanya sekedar mengingatkan, bukankah semua lebih baik dilakukan saat setidaknya sudah ada gambaran ilmunya atau yang diminta itu seperti apa?

Beberapa kawanku sudah lulus dan tidak tahu mau berbuat apa, sudah menikah–khususnya dengan seseorang tertentu–dan (kabarnya) sudah bercerai tak lama setelah itu, sudah diterima di pekerjaan yang sudah sejak lama dia idam-idamkan dan berhenti tidak lama setelahnya karena beberapa hal yang meengecewakannya, sudah memohon pinjaman bank untuk memulai usaha tapi terlibat masalah besar karena beberapa hal yang terlambat dia ketahui. Entah apa penyebabnya, tapi agak miris memperhatikannya.

Tapi jika memang benar-benar menginginkannya, kenapa tidak mulai mempelajari ilmunya dan menspesifikkan keinginan itu sejak saat ini? Masih ada waktu kan? 🙂

Keinginan Menolong dan Ilmu Kebaikan

Sebagai makhluk sosial, tiap orang pasti punya keinginan untuk menolong orang lain. Atau setidaknya, dapat dipastikan tiap orang memiliki kemauan untuk berbuat baik. Guru yang menolong muridnya agar kelak mereka menjadi orang yang dapat melakukan sesuatu di dunia, orangtua yang menyiapkan anaknya untuk menghadapi dunia, teman satu tim olahraga yang berusaha menolong satu sama lain, orang yang memberi uang kepada pengemis di trotoar, para penjual makanan yang memberikan porsi bonus atau potongan harga bagi pelanggannya, para pelanggan yang memberikan tip atau mengikhlaskan kembalian bagi para penjual, orang-orang yang membeli dagangan karena rasa kasihan, orang-orang yang meluangkan waktunya untuk berbagi semangat, ilmu, motivasi atau harta dengan orang yang kekurangan, berapa banyak lagi contoh yang lumrah untuk ditemui di sekitar kita? Mungkin kita memang tidak selalu punya kesempatan untuk melihat hal-hal macam itu, hei, kita tidak punya kekuatan untuk mengetahui isi hati manusia lain kan? Tapi percayalah, ada orang-orang seperti itu di dunia ini, mungkin banyak orang yang kita kenal tergolong kedalamnya, kalau saja kita mau bertanya dan mereka tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

Tapi kadang keinginan untuk menolong atau berbuat baik saja tidaklah cukup untuk membantu orang lain.

Ada beberapa sahabatku yang pergi menjadi relawan di sebuah lokasi bencana, pengalaman pertama bagi mereka. Dan sebagai pengamat yang kekanak-kanakkan dan penasaran terhadap kondisi di lokasi tersebut, aku pun menanyakan bagaimana kondisi lapangan disana pada mereka. Salah satu dari orang yang kutanya menjawab sembari berkomentar bahwa menjadi relawan ternyata banyak bingungnya. Teknis tidak selalu sesuai dengan apa yang diperkirakan secara teoritis. Tapi kelihatannya memang selalu begitu bukan? Kebetulan ini juga cocok dengan novel yang saat ini kubaca, serial Young Sherlock Holmes pertama karya Andrew Lane, Death Cloud. Novel yang menceritakan kehidupan Sherlock Holmes saat remaja ini punya beberapa hal yang menarik untuk dipelajari, termasuk beberapa hal yang penting untuk membuat deduksi seperti yang biasa Holmes lakukan.

Dalam novel tersebut diceritakan saat Holmes pertama kali bertemu dengan guru les yang diajukan oleh Mycroft, Amyus Crowe, Crowe meminta Sherlock untuk berkeliling memeriksa lukisan yang ada di rumah pamannya dan menebak mana lukisan yang merupakan lukisan palsu. Sherlock menunjuk sebuah lukisan dan berkata, “Yang satu ini tidak terlukis dengan baik. Perspektifnya penuh dengan distorsi dan anatominya tidak tepat. Apakah ini lukisan palsu?”
“Tentang penipu”, kata Crowe sambil memeriksa lukisan, “para penipu yang kurang berbakat dapat tertangkap dengan cepat. Tidak jarang tipuan lebih meyakinkan dari aslinya. Kamu benar bahwa lukisannya dibuat dengan agak ceroboh, tapi ini asli.” Crowe pun menunjuk lukisan lain dan berkata, “Ini tiruan”
Sherlock pun bertanya, “Bagaimana Anda tahu?”
“Lukisan-lukisan di rumah pamanmu dilukis oleh orang yang sama, yang terkenal dengan gaya pemandangan landscape dari pelabuhan. Ini adalah lukisan dari Pelabuhan Dover, tapi pelukis ini tidak pernah mengunjungi Inggris, sementara detailnya terlalu realistis yang berarti lukisan ini dibuat di pelabuhan itu. Karena itu, ini lukisan yang dibuat dengan meniru gaya pelukis itu, ini tiruan.”
“Aku tidak mungkin dapat mengetahuinya. Aku bahkan tidak pernah belajar apapun tentang pelukis.”
“Dan apa yang dapat kamu ketahui dari hal itu?”
Setelah berpikir sejenak Sherlock pun menjawab, “Aku tidak tahu.”
“Kamu bisa membuat tebakan sesukamu. Tapi tebakanmu percuma jika kamu tidak punya pengetahuan. Informasi adalah hal mendasar dari semua pemikiran yang masuk akal. Carilah informasi. Penuhilah otakmu dengan sebanyak mungkin fakta yang dapat dimuatnya. Jangan membedakan mana informasi yang penting dan mana informasi yang trivial (kurang penting): semuanya punya potensi untuk menjadi informasi penting.”

Yah, semua ada ilmunya. Kumpulan fakta belum tentu menjadi ilmu yang tepat, sebagaimana orang yunani pada zaman dahulu yang menganggap dunia ini terdiri dari empat lapisan, tanah terletak pada lapisan terbawah, air, udara dan api pada lapisan teratas. Jika ada batu (tanah) yang jatuh ke air pasti batu akan turun ke bawah, sementara jika ada udara di dalam air pasti udara akan naik keatas, fakta tersebut yang menjadi dasar mereka berkesimpulan begitu. Jika teori itu dibahas saat ini, jelas kita akan sepakat bahwa faktanya benar tapi kesimpulannya salah. Nyatanya itu juga yang terjadi pada teori geosentris (semua benda langit mengelilingi bumi) dan teori bumi berbentuk seperti pizza. Sekarang kita semua tahu itu merupakan akibat dari rotasi (perputaran) bumi pada porosnya sehingga benda langit terlihat berputar mengelilingi bumi dan gaya gravitasi yang menarik benda agar tetap berada di tanah bola besar ini.

Dan begitu juga membantu orang, ada ilmu yang perlu dipelajari juga, dan kumpulan perbuatan baik belum tentu merupakan tindakan yang tepat.

Ingat kasus pengemis yang punya penghasilan mencapai 30juta rupiah dalam sebulan? Menurutku itu adalah contoh nyata bahwa orang-orang punya niat untuk membantu tapi belum mengetahui ilmunya. Kumpulan perbuatan baik yang, hm, entah apa pengaruhnya saat ini? Memperbanyak jumlah orang yang meminta-minta? Memperbanyak prasangka buruk pada kaum golongan menengah kebawah? Kadang itu juga dijadikan candaan di labku, jika kami (anggota lab) ingin memasang sebuah pembangkit listrik dengan biaya semilyar lebih, berapa lama waktu mengemis yang kami perlukan, hahaha. Syukurnya saat ini orang-orang mulai sadar dan beralih pada fokus mempekerjakan pengemis atau membeli dagangan pedagang asongan yang kesannya: sama-sama membutuhkan tapi memilih untuk berjualan. Daripada disumbangkan ke orangnya langsung, mungkin akan lebih baik jika menyumbangkannya ke lembaga yang bergerak di bidang kemiskinan, agar uangnya dapat dikelola dan mungkin penerimaan sumbangan bagi para kaum miskin pun akan lebih merata, bukan hanya untuk yang meminta-minta, tapi mungkin akan turut berimbas pada orang miskin yang malu untuk meminta-minta juga. Temanku juga ada yang pernah berkata bahwa sebenarnya meminta-minta itu juga ada batasnya, yaitu sampai tulang punggungnya tegak kembali. Aku belum sempat memeriksa sumber ilmunya dari mana, ada yang mungkin tahu hadits atau fatwa terkait meminta-minta? Jika ada, bersediakah berbagi ilmu di kolom komentar? 🙂

Begitu pula sebagai relawan dari bencana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Temanku bercerita bahwa dia beruntung ada saudaranya yang mengerti tentang bagaimana relawan bekerja. Tapi distribusi dan koordinasi masih tergolong kurang meskipun bantuan melimpah. Padahal kalau koordinasi buruk, bisa saja terjadi skenario dimana ada daerah yang terus mendapatkan pertolongan dan ada daerah yang tidak kunjung mendapatkan pertolongan. Fakta lain, banyak spanduk “pilih saya” dan “coblos saya” di lokasi sekitar bencana. Hal yang kurang etis sebenarnya, meminta masyarakat mencoblos saat sedang terkena musibah seperti ini. Saat aku sempat berkunjung ke bpbd pun dikatakan begitu, tidak masalah jika posko bantuan membawa identitas partai, toh itu akan membantu koordinasi. Tapi kalau ada spanduk kampanye disana, bukankah itu tidak tahu diri?

Bukankah ilmu itu penting? Maka belajarlah 😀

Mengapa kita Berdoa?

Seseorang, terutama Anda yang sering berdo’a pasti hafal beberapa do’a, sekecil apapun, sependek apapun. Namun, sadarkah kita bahwa tak selalu kita khusyuk dalam berdo’a? Hal ini adalah hal umum yang terjadi di kalangan masyarakat, terutama kawula muda yang makin larut dalam kehidupannya masing-masing. Di sini, saya akan mencoba membahas beberapa masalah dalam berdo’a dan penyelesaiannya.

1. Kepada siapa kita berdo’a?
Ini masalah paling umum di masyarakat. Rata-rata, sekolah memaksa murid untuk menghafal doa-doa harian. Hal ini membuat siswa menjadi berorientasi untuk berdo’a guna mendapatkan nilai. Hal ini menyebabkan siswa berpikir bahwa do’a adalah komplementer, membentuk jalan berpikir bahwa tidak berdo’a ya tidak apa-apa. Hal ini patut menjadi pembahasan, sebab, dengan jalan berpikir seperti ini, lama kelamaan berdo’a akan sama sekali ditinggal oleh masyarakat.

Contohnya seperti ini:
-Seorang anak telah diajarkan do’a makan. Ketika hendak makan, gurunya mengingatkan,”Hayo, jangan lupa berdo’a!”. Kemudian anak itu akan berdo’a sesuai yang diajarkan, misalnya ” Allahuma baariklana, fiima……dst”. Sampai di rumah, ibunya melakukan hal sama yang dilakukan gurunya di sekolah, dan hal itu berulang terus dari hari ke hari.-

Hal ini akan membentuk pemikiran dalam diri anak bahwa berdo’a adalah budaya sebelum makan, bukannya bentuk permohonan pada Allah. Jadi, do’a yang keluar dari mulut hanya sekadar kata-kata belaka tanpa ada pengertian lebih lanjut. Akibatnya, do’a tadi jadi tidak mujarab. Akibatnya pula, anak menjadi tak mengerti maksud dan kegunaan do’a. Do’a tadi tak didasarkan atas permohonan kita pada Allah, namun pada kebiasaan sehari-hari. Hal ini harus kita hindari agar tak terjadi yang namanya kesalahpahaman. Semua orang yang masih belum terlambat dinasehati, harus sesegera mungkin dinasehati, agar, do’a kita makbul dan tidak sia-sia. Do’a yang tanpa harap akan menimbulkan kesan bodoh dan sombong yang tentunya tidak mau kita miliki bersama.

2. Apa tujuan kita berdoa?
Doa dapat kita lakukan dengan bermacam-macam tujuan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena banyak orang yang hanya menghafal doa tanpa mengerti artinya hingga kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak kita pahami. Jika ini dilanjutkan, ada kemungkinan akan terciptanya sebuah bid’ah bahkan mantera perdukunan baru. Karena itu, kita lebih baik menghafal doa sekaligus artinya agar kita bisa lebih menghayati maksud dan tujuan doa ini dibacakan.

Dua poin itu adalah inti dari kesalahpahaman kita yang sering terjadi pada diri kita.
Sekarang pertanyaannya adalah “Sudah benarkah doa yang kita lakukan?”

Rahasia Bersyukur

Rasulullah saw pernah bercerita :

Pada masa Bani Israil hiduplah tiga orang sahabat akrab. Orang yang pertama menderita sopak (lepra), orang yang kedua gundul dan orang yang ketiga buta. Suatu hari, Allah swt brmaksud menguji ketiganya. Dia mengutus seorang malaikat untuk menemui mereka.

Yang pertama kali dikunjungi adalah si sopak. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penyakit sopak ini. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang. Gantilah kulit berpenyakit ini dengan kulit bersih dan berwarna indah.” Lalu malaikat itu mengusap kulitnya dan dengan izin Allah swt, seketika penyakit kulitnya sembuh dan menjadi kulit yang bersih dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor unta.” Lalu diberilah dia seekor unta yang sedang hamil.

Yang berikutnya dikunjungi adalah si gundul. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah rambut yang lebat dan indah. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang terhadap kepalaku yang gundul ini.” pinta si gundul memelas. Lalu malaikat itu mengusap kepalanya dan dengan izin Allah swt, seketika tumbuhlah rambut yang tebal dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor sapi.” Lalu diberilah dia seekor sapi yang sedang hamil.

Yang terakhir kali dikunjungi adalah si buta. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penglihatan layaknya penglihatan manusia pada umumnya dan berilah aku seekor kambing.” Maka diusaplah kedua mata orang itu dan dengan izin Allah swt pula orang tersebut bisa melihat kembali. Lalu diberilah dia seekor kambing yang sedang hamil.

Hewan-hewan yang diberikan kepada mereka sangat cepat beranak pinak, sampai akhirnya mereka menjadi kaya raya. Lalu, suatu hari malaikat itu diutus lagi untuk menguji mereka bertiga. Kali ini, sang malaikat diutus dalam wujud seorang laki-laki tua yang kurus, miskin dan penyakitan.

Ia mendatangi si sopak sambil berkata, “Kasihanilah aku, Tuan. Aku seorang tua yang miskin dan tidak punya apa-apa, sementara perjalananku masih jauh. Dengan nama Allah swt yang telah memberikan tuan kulit yang bagus nan indah dan harta yang berlimpah, berilah aku bekal apa adanya agar aku sampai di tempat tujuan.” Si sopak pun menjawab, “Maaf, aku juga banyak kebutuhan lain.”
“Rasanya aku mengenalmu, bukankah engkau adalah orang yang dulunya berpenyakit sopak, lalu Allah swt sembuhkan dan berikan harta yang melimpah?” Dengan nada marah si sopak pun menjawab, “Enak saja! Hartaku ini melimpah karena warisan dari leluhurku. Pergi dan jangan pernah kesini lagi! Aku tidak akan pernah memberimu apapun.”

Lalu, malaikat itu pergi mengunjungi si gundul. Akan tetapi, si gundul itu menghardiknya dan tidak memberikan apa-apa padanya sebagaimana si sopak. Lalu akhirnya malaikat itu pun mengunjungi si buta.

Ketika malaikat yang menyamar menjadi lelaki tua itu mengeluh, si buta berkata, “Ambillah apa pun yang kau butuhkan dan kau inginkan, karena sesungguhnya dahulu aku seorang yang miskin dan buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku dan memberiku rezeki yang berlimpah. Aku tidak punya alasan untuk menghalangimu mengambil apapun dariku.”

Lelaki tua itu lantas berkata, “Tidak usah, sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menguji kalian bertiga. Allah swt meridhaimu dan membenci kedua temanmu.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah ra)

Dari Hadits diatas dapat kita lihat hebatnya syukur.
Sekarang, pertanyaan untuk kita adalah “Sudahkah kita bersyukur atas apa yang Allah swt berikan kepada kita hari ini?”

Lemak Babi di makanan kita???

Semuanya berawal dari saat saya membaca sebuah artikel di tempat les saya, Nurul Fikri. Disitu saya membaca sebuah artikel yang menerangkan beberapa produk yang katanya mengandung lemak babi. Dan baru-baru ini saya melakukan pencarian data di Internet. Dan saya menemukan artikel yang persis sama dengan yang saya baca di Nurul Fikri. Beginilah artikelnya.

LEMAK BABI

” Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa : 24)
Oleh Dr.M.Anjad Khan

Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja sebagai pegawai diBadan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnyaadalah mencatat semua merek barang, makanan dan obat-obatan. Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran,bahan-bahan produk tersebut harus terlebih dahulu mendapat ijin
dari Badan pengawas Obat dan Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang
dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141.

Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentukmatematis tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode matematis tersebut kepada seorang perancis yang berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab ” KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA. Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh Sahib dan diakemudian mulai mencari tahu kode matematis tersebut dalam dokumen yang ada.Ternyata apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di dunia. Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak di negara-negaratersebut.Di perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000. Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya.

Namun orang Eropa dan Amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut. Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang;dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah: Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi. Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak tersebut dan ternyata itu berhasil.
Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi dicantukam dengan nama Pig Fat (lemak babi)
pada kemasan produk.

Mereka yang sudah tinggal di Eropa selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.
Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang masuk kenegara-negara Islam pada saat itu sehingga menimbulkan defisit perdagangan bagi negara pengekspor. Menoleh kemasa lalu, jika anda hubungkan dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang factor yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu berbulan-bulan> hingga mencapai tempat tujuan sehingga bubuk mesiu yang ada di dalamnya.

Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan daging), maka tentara – tentara tersebut
menolak berperang sehingga mengakibatkan perang saudara ( civil war ).

Negara-negara eropa mengakui fakta tersebut dan kemudian menggantikan penulisan lemak
babi dalam kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 – an mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam.Oleh karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya, perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah keuangan yang sangatserius karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa mencapai milliar dolar. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat dibanyak produk perusahaan multinasional termasuk
pasta gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula, biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis produk makanan & obat-obatan lainnya.

Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannyadengan daftar kode
E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode- kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung lemak babi.
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213,
E214, E216, E234,
E252,E270, E280, E325,
E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430,
E431, E432, E433,
E434, E435, E436, E440,
E470, E471, E472, E473, E474, E475,E476, E477, E478,
E481, E482,
E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542,E570, E572,
E631, E635, E904.

Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada saudara-saurdara kita.

Disadur dari http://forumjumat.multiply.com/journal/item/16

Begitulah info yang saya baca disana. Lalu, saya mencari data di Google dengan keywords “Code E, Pig Fat” dan saya mendapat data yang hampir sama, diperkirakan ini adalah data aslinya, beginilah datanya.

Are we in danger of eating Haraam products?

By Yasir Muhammad Khan & Sheikh Sahib

There are many products containing pig fat which we might not notice in the ingredients. Sheikh Sahib have worked in the food department of France for ten years. His duty dealt with the registration of food and cosmetic items.

Before launching the product the manufacturer would bring a specimen to me with a list of components used in it. I would send the specimen to laboratory for examination. Then I would compare the ingredients appearing in the laboratory report with the ones mentioned in the list submitted by the company. If there were no discrepancies, I would issue the registration letter. I noticed that some of the component lists submitted by the companies carried some codes like “E141” and “E904”. In the beginning, I was very surprised at reading these codes. When I asked my senior officers about the codes, they said, ‘check only the components and don’t consider these letters’.

This increased my curiosity and I started investigating at my own. I came to know startling facts. My investigation revealed that pig meat is eaten in all Europe, America and Far East. In these countries, there are millions of farms for breeding pigs. In France alone, there are 42 thousand such farms. When the pigs reach a certain age, they are slaughtered and their meat is supplied to the markets. People eat pig flesh. In Europe and America, people do not eat fats at all while pig has a lot of fats.

Some two hundred years ago, pig farms and slaughter-houses were formally set up and pork was supplied to the consumers under supervision big problem to dispose of the fat. In the beginning they used to burn the fat but later they thought to use it in products. So, the pig fat was melted and used in making soap. The experiment was successful. Then, plants were set up to process the fat. The packed fat was brought in market where companies would put the fat for using it in food and drinks.

In the beginning of this century, quality control was systematized. European countries started to introduce quality control over food, drinks, lotions and drugs, and directed the manufacturing companies to print a list of ingredients and their effects. The companies started printing “Pig Fat” on the wrappers and bottles.

But when these products came to Islamic countries, the Muslims boycotted them. You must know the background of the freedom war in 1857 in India. At that time, rifle bullets were sent to India from Europe via sea. During the six-month journey in the sea, the bullets would get moisturized due to humid and salty air of sea and were no longer usable. Britain would put a coating on the bullets to preserve them. To use the bullets, the soldiers would peel the fat coating with their teeth. This continued for some time, but when the local soldiers came to know that the coating was made of pig fat, they revolted. The revolt turned into the freedom war of 1857.

Muslims around the world learnt that the European, products had pig fats, and the sale was adversely affected. The manufacturing companies raised a hue and cry and the European governments allowed them to print “animal fats” instead of “pig fats”. Now the companies declared that their products used animal fats. But westerners kill the animals in a violent manner by electrocuting them or cutting the neck in one goes with machines. The Muslims slaughter the animals in Islamic way and believe slaughtering through electrocution as haraam, and do not eat the flesh, fat, etc of an animal slaughtered in such way.

The European companies renamed the “pig fats” as “animal fats”, but the Muslims refused to accept as halaal all the animals slaughtered by the Europeans and started boycotting the European products having an animal ingredient.

This was the time when the companies had taken the shape of multinational companies and their products were being sold in the seven continents. The companies did not want to lose a one-third of their buyers. Secondly, the number of products and the output of companies had increased so much that it was nearly impossible to arrange for the fat of halaal animals or corn oil. If the companies had obtained the fats of animals slaughtered in Islamic ways or used corn oil. Their budget would have been affected and the cost would have increased.

Thirdly, the pig fat would have gone in waste. After prolonged deliberation, the European minds devised a solution that the companies should not mention “fat” on the ingredient list.

But there was a problem that under the law, the manufacturers were bound to print the names of ingredients. To solve this problem, they defined codes for animal ingredients used in the products. The codes represented which animal’s ingredient was used in which ratio. The list of codes was sent to food departments of different countries. Since then, the companies mention only the codes and thus make billions of dollars profits every year.

It is a pity that the Muslims are unknowingly using these products. One major reason of the increasing obscenity and debauchery in the Muslim countries is the toothpaste, chewing gums, chocolates, sweets, biscuits, corn flakes, packed fruits and vitamin tablets in which fats of haraam animals have been used.

These are the only E codes you may detect in a product which has a haraam ingredient. Please print a copy and take it with you on every shopping trip.

E-100 E-110 E-120 E-140 E-141 E-153 E-160a E-210

E-213 E-214 E-216 E-234 E-252 E-270 E-280 E-325

E-326 E-327 E-334 E-335 E-336 E-337 E-422e E-430

E-431 E-432 E-433 E-434 E-435 E-436 E-440 E-470

E-471 E-472a-e E-473 E-474 E-475 E-476 E-477 E-478

E-481 E-482 E-483 E-491 E-492 E-493 E-494 E-495

E-542 E-570 E-572 E-631 E-635 E-640 E-904 E-920

Disadur dari http://www.classicalislam.com/pages/articles/haramfood.htm
Kayaknya sama aja ya…

Jadi, gimana?
Ada yang bisa bantu cari data yang lebih lengkap soal kasus ini? Paling tidak sekedar sedikit pengetahuan mengenai hal ini…

Mengab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pagi ini, pada tanggal 31 Januari 2009, pukul 9 lewat 15 pagi, diadakan acara bernama mengab (Mentoring Gabungan) di Masjid Al-Ishlah SMAN 47 Jakarta. Peserta dari halaqqah ini adalah seluruh anggota ROHIS dan beberapa anggota IKARIS (Ikatan Alumni ROHIS) SMAN 47 Jakarta. Waktu itu, saya datang terlambat dan melewatkan acara pembukaan dan Tilawatil-Qur’an. Saya datang ketika kak Panji, mentor dari kelompok Achmad memulai kultumnya. Isi kultumnya adalah penjelasan mengenai Q.S. Ar-Ruum (30) : 1-10. Pokoknya, kalau tidak salah intinya begini.

Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita lakukan pada Allah swt dan keluarga kita. Jadi, kalau ingin dicintai orang lain, cintailah Allah swt dan keluarga kita. Jika kita ingin dihormati orang lain, hormatilah Allah swt dan orang tua kita.
Lalu, jika kita memiliki uang sebesar 5000 rupiah dan menyedekahkannya 1000 rupiah, maka uang yang kita miliki bukanlah 4000 rupiah, tetapi uang kita adalah 1000 rupiah yang kita sadaqahkan tersebut. Karena itulah, semakin banyak kita bersadaqah, semakin banyak pula harta yang kita miliki. Jadi, bersadaqah bukanlah membuat harta kita menjadi lebih sedikit, tetapi menjadi lebih banyak.

Lalu, acara dilanjutkan dengan materi dari IKARIS yang namanya (Kalau tidak salah) mang ucok. Dia menyampaikan beberapa materi secara spontan, yang berarti dia sudah cukup lama mengikuti program-program keagamaan Islam sehingga ilmu-ilmu tersebut menempel di otaknya dan bisa dikeluarkan kapan saja saat dibutuhkan. Beberapa materi yang dia sampaikan adalah :

1. Jangan mudah percaya terhadap suatu info tanpa mengetahui baik-buruknya dan benar-tidaknya (Dan saya yang saat itu masih belum tahu apa-apa menyebarkan pesan berantai beserta kutukannya…) Karena, siapa tahu orang yang mereka anggap pahlawan itu adalah musuh kita, musuh dari Islam.
Ingatlah, Sayyidina Ali ra pernah berkata, “Sesungguhnya sahabatmu itu ada tiga. Yaitu sahabatmu sendiri, Sahabat dari sahabatmu dan musuh dari musuhmu. Dan musuhmu juga ada tiga, yaitu musuhmu sendiri, musuh dari sahabatnu dan sahabat dari musuhmu”. Karena itu, muslim sangat tidak diizinkan untuk bermusuhan selama lebih dari tiga hari.

2. Usaha tanpa doa dan Doa tanpa usaha kurang berguna. Doa dan usaha yang seimbang adalah lebih baik. Dia bercerita, bahwa ada seseorang yang ketika itu akan melakukan SPMB. Tetapi, dia baru ingat akan hal itu seminggu sebelum SPMB. Dan dia belum belajar sama sekali pada saat itu. Lalu dia teringat, “Barangsiapa yang menolong jalan Allah swt maka Allah swt akan mempermudah urusan yang dia hadapi”. Karena itu, dia membagi waktu. Separuhnya dia gunakan untuk belajar, dan separuhnya lagi dia gunakan untuk menolong Agama Allah swt (Islam) melalui tiga cara, yaitu bersilaturahim, bershadaqah dan memperbanyak shalat tepat waktu (Di Masjid setelah Adzan berkumandang). Dan akhirnya, dia masuk ke UI.

3. Kita harus yakin bahwa Allah swt akan selalu menolong kita, hambanya yang beriman (Jangan bilang InsyaAllah yakin, tapi bilang Yakin 100% ya..)

Lalu, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh bang Jupriyadi. Di sesi ini, saya mendapat wawasan baru, yaitu mengenai bangsa saat ini.

Tahukah kalian bahwa
1. Sesungguhnya orang-orang pada zaman Jahiliyyah adalah orang-orang yang beriman pada Allah swt, hanya saja mereka tidak mau menjalankan hak-hak Allah swt, yaitu beribadah kepadanya. Jadi, bagaimana dengan kita pada saat ini? Bukankah ada banyak orang pada saat ini yang sudah menjadi agnostik, tidak percaya pada Allah swt, bahkan mereka lebih percaya terhadap dukun.
2. Sesungguhnya, awalnya patung dibuat sebagai tanda penghormatan bagi orang-orang yang berjasa di zaman dahulu. Namun, seiring waktu berjalan patung pun akhirnya disembah oleh orang-orang di zaman Jahiliyyah bahkan saat ini bukan hanya patung yang disembah, melainkan harta, dan segala benda lainnya ikut disambah oleh orang-orang zaman sekarang.

Bukankah ini berarti orang-orang pada zaman ini lebih buruk daripada orang-orang pada zaman Jahiliyyah?

Mentoring/Liqa

Seperti yang kusebut tentangku, Laksmana Hanif Nugroho (cukup) aktif dalam organisasi Islam dalam sekolah yang disebut ROHIS (Kerohanian Islam). Tadi siang, aku mengikuti Mentoring/Liqa/Halaqqah di sekolahku. Memang bukan liqa kelompokku, tapi karena memang sedang tidak ada kerjaan, sekolah sedang mengadakan Classmeeting, jadi aku mengikuti Liqa kelompok lain. Sekalian menambah ilmu.

Materi yang kudapat pada Liqa tadi adalah tentang Ulul Albab, Cendekiawan. Jika kita menyebut kata Cendekiawan, maka kita akan langsung teringat nama-nama seperti Aristotheles, Isaac Newton, Albert Einstein, dan berbagai macam nama lainnya. Namun, apakah kita masih mengingat beberapa cendekiawan Muslim seperti Ibnu Khaldun, Al-Jabar, Al-Khawarizmi, Ibnu Batutah, Ibnu Sina, dan lain sebagainya?

Mungkin kita sudah lupa terhadap mereka, yang mengeluarkan umat dari zaman Jahiliyah, yang memperlihatkan cahaya di dalam kegelapan, yang menemukan bilangan aljabar, yang menemukan angka 0, yang merupakan Bapak Sosiologi, dan masih banyak lagi cendekiawan Muslim yang telah kita lupakan. Bukankah para ilmuwan barat juga pada awalnya, sebelum mereka berkembang maju meninggalkan kita seperti sekarang, juga belajar dari para ulul albab Muslim?

Mereka, para cendekiawan tersebut adalah penerang dunia. Tetapi mengapa kita melupakan mereka?

Di Liqa tadi juga disebutkan bahwa Albert Einstein pernah mengatakan :
“Barangsiapa yang berilmu tanpa beragama maka dia pincang, dan barangsiapa yang beragama tanpa ilmu maka dia buta”
Artinya, cendekiawan yang baik harus berwawasan luas dan beragama.

Sebetulnya di Liqa tadi juga disebutkan tentang 10 kiat untuk menjadi cendekiawan. Sekarang, kertas yang berisikan kiat tersebut sedang tidak berada di tangan saya. InsyaAllah nanti akan saya tulis lagi hal tersebut jika Allah azza wa jalla masih memberi saya umur.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.