Memperingati Kepahlawanan

Memperingati kepahlawanan. Tema pelajaran di sebuah sekolah pekan ini. Belum setuju untuk mengangkat ini sebagai tema, tapi kalau protes agak repot juga karena banyak yang telah dipersiapkan untuk ini. Sudah lah, mari meracau disini.

hakikat-perjuangan

Sumber Gambar: http://www.anneahira.com/hakikat-perjuangan.htm

Pahlawan. Kata yang maskulin, menggambarkan sosok-sosok pemberani yang mengusir para penjajah dari negeri ini. Sehingga para lelaki tidak perlu lagi bekerja secara paksa, dan perempuan tidak ada lagi yang diculik untuk dijadikan gundik, bahkan dapat menjadi kaum terdidik. Mulia sekali kedengarannya.

Namun aku punya definisi tersendiri terkait pahlawan. Pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kebaikan untukku. Hanya untukku. Egois? Mungkin. Hei, bukankah tiap orang punya kebebasan mendefinisikan kata-kata? Setidaknya itu definisi dari kebebasan berpendapat yang diatur undang-undang bukan?

Bukan berarti aku menganggap para pejuang di belahan bumi lain seperti Nelson Mandela yang memperjuangkan nasib kulit berwarna di benua afrika sana tidak berharga. Aku mengklasifikasikan mereka sebagai “Inspirasi”. Mereka tidak memperjuangkan kebaikan untukku, tapi menggerakkanku, atau mengarahkanku melakukan sesuatu yang kuanggap baik.

Aku menganggap julukan “Pahlawan” bukanlah julukan yang bisa diberikan pada siapapun, tapi aku juga tidak berpendapat julukan itu sebegitu hebat hingga tidak ada yang mampu mendapatkan julukan tersebut.

Dan aku punya banyak orang yang kujuluki pahlawan. Mulai dari pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan di jaman Bung Karno dahulu sehingga hidupku tidak terjajah saat ini, baik itu panglima perang seperti Jenderal Soedirman, negarawan macam Muhammad Natsir, tokoh pelopor pendidikan macam Ki Hajar Dewantara, dan banyak lagi. Sulit untuk menyebutkan semuanya, Bung Hatta, tiga serangkai, seluruh anggota panitia sembilan yang mempersiapkan piagam jakarta, anggota bpupki dan/atau ppki, semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memerdekakan negara ini. Pahlawan bangsa, orang-orang yang memperjuangkan kebaikan bagi bangsa, tidak heran mereka dianggap pahlawan oleh banyak orang. Dan, sebuah kehormatan untuk menjadi bagian dari yang mereka perjuangkan 🙂

Begitu juga dengan pahlawan yang membuat kehidupan semudah saat ini, dari Isaac Newton yang menyadari mekanika hingga menjadi ilmu yang aplikatif, James Watt dengan mesin uap modernnya yang menciptakan revolusi industri dan berkembangnya teknologi, Alexander Graham Bell yang menemukan telepon, Nikola Tesla yang membuat energi listrik mudah didistribusikan (sangat disayangkan ide wardenclyffe tower belum terwujud, semoga ada yang mau melanjutkan sehingga energi listrik dapat disalurkan secara wireless, kelihatannya akan menarik, haha), dan tokoh-tokoh serupa.

Begitu juga dengan sosok yang menginginkan kebaikan bagi Umat Muslim, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, para Nabi dan Rasul serta para sahabat di jaman Rasulullah, yang menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Ada beberapa orang yang berkata mereka tidak perlu agama untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mengingat kehidupan bangsa Arab di jaman dahulu sebelum Rasululllah diturunkan yang mendapat julukan jahiliyyah, aku ragu akan kebenaran perkataan tersebut. Semudah itu kah membedakan yang baik dan buruk saat keburukan telah merajalela dan tidak ada yang tahu hal atau perbuatan seperti apakah yang baik bagi mereka? Entah lah.

Dan yang paling penting, tentu saja, pahlawan yang berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan jalan yang halal tentunya; Ibu yang sangat peduli terhadap kondisi anak-anaknya, dari kesehatan hingga pendidikan; Para guru yang benar-benar menginginkan murid-muridnya menguasai ilmu yang dia ajarkan, karena dia yakin akan bermanfaat bagi mereka di masa depan nanti; Para sahabat seperjuangan yang saling bahu membahu untuk tujuan yang sama, entah kebetulan memiliki tujuan yang sama atau memang hanya ingin membantu saja; dan berbagai profesi yang tidak terlihat penting tapi sangat memperjuangkan kebaikan kita, seperti tukang bersih-bersih yang menyebabkan kita tidak terkena penyakit dari tumpukan sampah, para petani dan pedagang tempat kita mendapatkan variasi makanan yang bergizi, para supir kendaraan umum yang mengantarkan kita pada tujuan, dan masih banyak lagi.

Mereka semua pahlawan, dan memang jasa mereka dalam kehidupan kita sangat penting. Tapi meski begitu, aku tidak menganggap kita perlu membuat satu hari khusus untuk memperingati mereka.

Menurutku memperingati mereka dapat dilakukan dengam cara yang lebih sederhana. Ingatlah mereka, dan bayangkanlah mereka mengamati semua tindak-tandukmu selama ini. Menurutmu, akan banggakah mereka?

Dan sampai sekarang aku masih merasa malu pada pahlawan nasional, dan Rasulullah, mengingat kemerdekaan dan kebaikan yang mereka perjuangkan untukku lumayan banyak kusalahgunakan dengan hal yang kurang bermanfaat, seperti terlalu lama berada di depan internet ._.

Yang Baik untuk Yang Baik

Yang baik untuk yang baik. Mungkin kalimat itu telah sering terdengar dalam berbagai variasi. Mulai dari “lelaki yang baik untuk perempuan yang baik” (yang entah kenapa semakin sering terdengar seiring bertambahnya usia di bandung), “balasan yang baik untuk perbuatan yang baik”, yah, banyak lah ya. Tapi sekarang sedang berminat untuk membahas dua kalimat itu, khususnya kalimat yang kedua.

Untuk kalimat pertama, tidak ada yang aneh. Saat seseorang memilih sebuah jalan dan bertemu banyak orang, banyak yang akan berpapasan dengannya. Tapi ada beberapa orang dengan prioritas atau jalan yang sama–meskipun mungkin latar belakang dunia mereka jauh berbeda–yang entah bagaimana bertemu, lalu menganggap prinsip orang tersebut cocok dengannya. Dan jika jalan yang ditempuh atau prioritas yang ditetapkan adalah kebaikan, sama sekali tidak aneh jika lelaki yang baik memilih perempuan yang baik atau sebaliknya kan? Ya, topik yang pertama mungkin memang lebih mampu membuat galau beberapa orang (khususnya beberapa kawanku yang sedang ngebet nikah, entah, punya pendamping dalam suka dan duka mungkin memang menyenangkan, tapi kadang aku mempertanyakan apakah mereka sudah siap berganti tanggungjawab atau belum. Menyendiri sambil mempersiapkan diri bagi yang sudah berniat berganti tanggungjawab–atau bahkan sudah menentukan orang yang ingin dijadikan pendamping tapi belum siap–atau meneruskan perjalanan kebaikan karena siapatahu kelak akan berjalan bersama orang yang tepat bukan hal yang buruk kan?), tapi topik kedua kelihatannya lebih dipertanyakan kebenarannya, dan lebih menarik untuk dibahas.

Dalam Al-Quran Surat Ar-Rahman (55): 60 Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. Maka orang-orang yang berbuat baik seharusnya diberi balasan dengan kebaikan juga. Tapi seiring waktu, aku juga banyak menemukan orang-orang yang kebaikannya seolah tidak ada balasannya. Bahkan ada sahabatku yang tertarik untuk berkecimpung di dunia entepreneur yang berpendapat bahwa, orang-orang yang kaya di dalam dunia bisnis pasti merupakan orang-orang yang licik. Yah, secara logika orang yang terlalu baik dengan membagi-bagikan barang-barang yang dia jual secara gratis kepada orang yang butuh dan kurang mampu kelihatannya tidak akan menjadi kaya kan? Kasusnya berbeda jika seseorang sudah kaya saat melakukan itu, dan, hei, siapa yang tahu kelicikan apa yang dilakukan saat yang terlihat mata hanyalah kekayaan seseorang?

Mungkin ini juga yang terpikir oleh sahabatku. Kelihatannya lumayan banyak ceritaku mengenai sahabat-sahabatku. Aku suka bercerita tentang inspirasi yang kudapat dari mereka memang, entah, mereka terlalu inspiratif dan baik, dan mungkin hal paling minimal yang dapat kulakukan adalah menceritakan kisah mereka, sambil berharap inspirasi dan kebaikan itu dapat menyebar ke berbagai tempat. Sekaligus bentuk syukur karena dipertemukan dengan banyak orang baik lah, dari angkatan atas, seangkatan hingga angkatan bawah, mungkin tiap pertemuan punya maksud tersendiri, seperti agar jadi pembelajaran bagi pribadi, penyemangat dan sahabat untuk berkolaborasi, atau inspirasi untuk disebar ke orang lain. Paragraf yang keluar topik ini ditujukan pada beberapa orang agar berminat untuk terjun di dunia literasi, hahaha.

Saat itu sahabatku yang lain bertanya dengan menyebutkan bengkel dari sebuah jenis motor, menanyakan berapa tip atau uang rokok yang diberikan pada montir saat servis. Beberapa ada yang kurang tahu atau menyebutkan nominal tertentu yang diberikan pada semua montir. Tapi sahabatku ini punya jawaban yang berbeda, dia memberikan tip yang besarnya sesuai dengan rasa puas atau satisfaction yang didapat dari pelayanan sang montir, baik dari penjelasan yang mudah dimengerti, tingkahlaku yang sopan, hasil yang baik dan lain sebagainya. Dia sedang membawa pesan, bahwa orang-orang yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik juga.

Sebagai orang yang tidak membawa kendaraan pribadi, aku mencoba membawa nilai itu dengan cara yang berbeda, menjadi langganan beberapa tempat makan yang pemiliknya baik. Aku tidak memasang banyak kriteria untuk “baik” dalam hal ini, ramah dalam bertegursapa, raut muka yang enak dilihat, tidak mencurangi pembayaran dan harga terjangkau, sisanya sekehendak dan senyaman suasana hati saja. Tapi dalam memutuskannya aku harus sendiri agar tidak terdistraksi. Dan ternyata ada untungnya, kadang malah aku diberi bonus porsi ekstra atau potongan harga saat berkunjung ke beberapa tempat itu. Kelihatannya aku tidak salah memilih tempat, haha. Simbiosis mutualisme lah, mengingat aku juga punya peranan menjaga pemasukan tempat mereka stabil berdasarkan hukum 80-20, 80% pendapatan didapat dari 20% konsumen tetap.

Entah lah, tapi jika kita memang benar-benar percaya bahwa yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik, yuk mulai bersikap baik kepada orang-orang baik. Orang yang percaya cenderung bertindak sebagaimana sedang berada di lingkungan ideal yang mereka percaya bukan? Lagipula, kenapa tidak mewujudkan lingkungan yang kita impikan dengan cara seperti itu? Hei, jika semua orang berlaku baik karena mereka percaya, dunia penuh dengan kebaikan tidak mustahil bukan? 🙂

Sikap Baik

Sikap baik adalah sesuatu yang tak akan disesali oleh seseorang. Kau tak akan berkata pada dirimu sendiri saat tua nanti, “Ah, seandainya saja aku bersikap tak baik pada orang itu”. Kau tak akan pernah berpikir begitu.

And The Mountain Echoed-Khaled Hosseini

Baru saja selesai membaca novelnya, resolusi yang ditawarkan bagus, dan salah satunya terkutip diatas. Pesan tentang keluarga dan identitas dirinya ngena. Entah kenapa novel kali ini terkesan lebih emosional, tapi worth it laah 😀

Dan sekarang jadi terpikir, benar kah kita tak akan berpikir begitu? Tiap orang punya tindakan yang dia sesali, tapi mungkinkah dia tidak akan menyesali kebaikan?

Dan mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri, menyesalkah kita akan perbuatan baik yang pernah kita lakukan?

Dan kalau jawabannya tidak, mengapa tidak melakukannya lagi? 🙂

*Laks, tolong, berbaikhatilah pada dirimu sendiri dan selesaikan laporan dalam bahasa inggris serta uts tentang akustik ruang kelas, sebelum semuanya terlambat :l

Kebaikan dan Diam

“Mas, sampahnya dipegang dulu aja gimana? Nanti dibuang di tempatnya…” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut orang yang kutahu pendiam itu, hal yang sedikit kuanggap aneh karena aku tahu betapa pendiamnya ia, jangankan mengingatkan orang yang tak dikenal, sekedar bertegur sapa pun tak berminat. Dan aku juga melihat orang yang dia tegur terdiam, dan tak lama kemudian orang itu pun memungut sampah makanannya yang baru saja dilempar sembarangan di dalam angkot yang kami tumpangi itu. Situasi sempat sunyi selama beberapa saat, agak tegang kupikir, tapi beberapa saat kemudian orang-orang yang terlibat pun sudah kembali berbincang dengan teman-temannya di angkutan umum tersebut. Aku pun kembali hanyut dalam pikiranku.

Tidak sedikit orang yang sepakat bahwa kekacauan yang terjadi di dunia saat ini bukan merupakan akibat dari merajalelanya orang-orang jahat, tapi karena banyak orang-orang baik yang memilih untuk diam. Akibatnya, orang yang belum mengerti pun dapat berbuat hal yang kurang pantas, dan mungkin semakin lama dibiarkan hal itu akan semakin menjadi kebiasaan dan akan terus terbawa hingga orang yang belum mengerti itu meninggal, dan mungkin dia tidak akan pernah menyadari kekeliruannya. Yah, kemungkinan apa lagi yang mungkin terjadi jika orang-orang baik tidak ada yang mengingatkan bahwa itu salah? Mungkin ada kemungkinan kecil dimana orang tersebut memikirkan dampak dari kebiasaannya, atau terkena dampak dari kebiasaannya dan memutuskan untuk berhenti, tapi secara pribadi aku menganggap kemungkinan itu sangat kecil.

Perlu contoh? Mari kita lihat Ibukota Indonesia, banyak yang mengetahui bahwa sampah adalah salah satu penyebab terjadinya banjir dan berbagai penyakit saat banjir menerpa. Namun berapa banyak warga yang berhenti membuang sampah sembarangan saat banjir telah surut? Entah lah, tapi tadi pun ada penumpang angkot yang melempar sampahnya tepat ke hadapanku–nyaris mengenai kakiku–dan itu cukup untuk memperburuk moodku hari ini. Andai angkot tersebut diam lebih lama dan sampah yang dilempar itu mengenaiku, mungkin aku akan melempar balik sampah itu.

Ya, hari ini aku sedang kembali ke kota tempat tinggalku untuk mengurus beberapa hal, dan tindakan orang itu pun menurutku agak ironis karena tidak jauh dari tempat itu ada “genangan air” yang lumayan tinggi, dan mungkin akan bertambah tinggi jika malam ini hujan kembali turun di daerah jabodetabek. Syukurlah aku tidak diberi kesempatan membalas, aku hanya sempat melihat sang pembuang sampah, pria paruh baya berkausdalam dengan lengan penuh tato. Oke, mode pakaian berstigma negatif dan mood yang buruk bukanlah kombinasi yang baik jika dipertemukan, karena dapat mengundang banyak prasangka yang mungkin jauh lebih buruk daripada kondisi yang sebenarnya. Dan itu lah yang terjadi padaku tadi, pikiran dipenuhi prasangka buruk.

Setelah agak tenang dan mulai dapat berpikir jernih kembali, aku pun sadar, dalam beberapa hal mungkin aku lebih unggul dari sumber prasangka burukku itu, tapi dalam beberapa hal lain dia lebih unggul. Salah satu keunggulan dia yang kuakui adalah keberanian untuk tampil beda dan menunjukkannya, hal yang menurutku kurang dimiliki oleh orang-orang baik. Entah benar atau tidak, karena banyak orang baik yang kuketahui yang tidak ingin terlihat berbuat baik atau beramal secara terang-terangan. Oke, tidak ingin sombong atau membengkokkan niat memang dapat menjadi alasan, tapi dalam beberapa kasus, menurutku perlu ada amalan yang perlu dilakukan secara terang-terangan. Argumenku sederhana, jika Rasulullah tidak pernah menunjukkan amalan yang dilakukan–dan hadits hanya sekedar perkataan–kira-kira dari mana kita mendapat contoh bagaimana cara beramal yang benar? Dan dari mana kita mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk dilakukan? Entah lah apa yang akan terjadi jika begitu, ada sebuah skenario yang terpikir dalam pikiranku tapi mungkin ada baiknya kusimpan untuk diriku sendiri karena beberapa hal, lagipula tidak semua hal harus diutarakan bukan? Itu juga salah satu alasan blog itu menyenangkan, sebagai sarana untuk beropini tanpa harus terlibat situasi penuh emosi di dunia nyata, dan karena tidak banyak orang yang tertarik untuk berselancar di dunia blog, kelihatannya tidak banyak yang akan terjadi disini. Seperti yang kuharapkan karena blog ini hanyalah dokumentasi dari pemikiran yang pernah kumiliki dan disimpan di internet, entah siapa yang mau membaca tapi selama dokumentasi pemikiran ini tidak merepotkanku aku tidak punya masalah 😀

Kadang aku berpikir jika semuanya terjadi dalam kondisi yang berbeda, apa yang akan terjadi? Akankah ada kondisi dimana perdamaian dan kesejahteraan dunia dapat terwujud? Akankah sumber prasangkaku itu menjadi orang baik yang tingkahlakunya diharapkan masyarakat? Ah, entah lah, yang jelas bukan itu skenario yang dimainkan saat ini. Dunia nyata memang bukan tempat yang ideal, akan ada banyak hal yang memerlukan usaha keras untuk kehidupan yang lebih baik, dan mengajak orang lain untuk berbuat baik juga akan menjadi hal yang fundamental untuk mewujudkan itu, hei, apa yang dapat kamu lakukan dengan mengikuti aturan saat tidak ada lagi yang peduli dengannya? Karena itu, mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak dan mengajarkan hal baik kepada orang lain, bukan? 🙂

Kematian

Semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan mungkin kematian itu jauh lebih dekat dari apa yang kita perkirakan selama ini. Di semester ini aku kehilangan 2 orang sahabatku, yang pertama adalah senior dan atasanku di himpunan program studi yang meninggal pada sekitar awal juli lalu, dan sahabat sekelompok saat kuliah kerja nyata tematik tahun lalu. Keduanya masih tergolong muda, baru berusia di 20-an awal, namanya juga mahasiswa.

Dalam kasus seniorku, meski kematiannya mengguncangkan, tapi tidak terlalu mengejutkan, karena beliau memang sudah sakit-sakitan lumayan lama. Tapi aku kagum dengan beliau, selama 2 tahun aku mengenalnya, beliau tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih atau menderita, bahkan beliau suka bercanda dan selalu berusaha menimbulkan suasana yang positif saat kita rapat atau berkegiatan pengabdian masyarakat. Orang yang baik, sangat baik, dan aku menghormatinya.

Dalam kasus sahabatku ini, kasusnya lebih mengejutkan, belum ada yang tahu apa yang terjadi, aku pun hanya tahu dia meninggal secara tiba-tiba dalam tidurnya. Aku pun tidak terlalu dekat dengan dia, tapi kenal dan pernah kerja bareng saat dia jadi anggota kelompok di bidang energi terbarukan yang kuketuai pada kloter 2 kknt tahun lalu. Dia orang yang kritis, baik, dan kerjanya bagus.

Sebagai orang yang suka mengamati fenomena sosial, aku lumayan memperhatikan facebook sebagai media sosial utama yang digunakan masyarakat indonesia saat ini, termasuk facebook mereka berdua. Dan, seperti yang bisa diperkirakan, facebook mereka dipenuhi dengan kata-kata beberapa sahabat yang merasa kehilangan dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Membicarakan dan mendoakan kebaikan itu baik, dan akan lebih baik lagi kalau disampaikan langsung ke Sang Pencipta–tidak sekedar formalitas atau perasaan harus menyampaikan sesuatu di media sosial–bukan? Selain itu, bukankah meratapi mayat itu terlalu berlebihan dan tidak disukai?

Daripada meratapi, mungkin jauh lebih baik untuk membicarakan kebaikan para almarhum/almarhumah, seperti yang disebutkan pada hadits berikut:

Dari Anas ra. berkata, “Pada suatu ketika ada jenazah lewat, kemudian para sahabat memuji atas kebaikan jenazah itu, kemudian Nabi saw. bersabda: “Wajib baginya.”Kemudian pada saat yang lain ada jenazah lewat, kemudian para sahabat menceritakan kejelekan jenazah itu, kemudian Nabi saw bersabda: “Wajib baginya.”Lantas Umar bin Khattab bertanya: “Apakah yang yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib baginya syurga., dan terhadap orang yang kamu katakan jahat, maka wajib baginya neraka. Kamu sekalian adalah merupakan saksi Allah yang ada di muka bumi ini.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abul Aswad ia berkata, “Saya datang ke Madinah dan duduk bersama Umar bin Khattab, kemudian ada jenazah lewat, kemudian saya memuji kebaikan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.”Kemudian lewat lagi jenazah ketiga kalinya dan saya saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Abul Aswad bertanya: “Apakah yang dimaksud wajib baginya, wahai Amirul mukminin?” Umar menjawab: “Saya berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi saw. yaitu setiap muslim yang disaksikan baik oleh empat orang, maka Allah memasukannya ke syurga.” Kami bertanya: “(Apabila yang meyaksikan itu) tiga orang?” Ia menjawab: “Juga tiga orang.”Kami bertanya lagi : “(Apabila yang menyaksikan itu) dua orang?” Ia menjawab: “Juga dua orang.” Kemudian saya tidak menanyakan lagi tentang (bagaimana) seandainya seorang saja.” (HR. Bukhari)

Hadits berikut diambil dari http://elqolam.blogdetik.com/2010/12/11/kebaikan-yang-dipersaksikan/, aku ingat pernah membaca hadits serupa diatas, tapi lupa membacanya dimana (apakah artikel, kitab, buletin atau semacamnya) dan tidak ingat nomor hadits atau riwayatnya, sangat dipersilahkan jika ada yang ingin membantu atau ingat dan ingin memberitahu 🙂

Dan mungkin memang mereka bermaksud untuk mengingatkan kita, bahwa yang namanya kematian mungkin tidak sejauh itu dari hadapan kita. Umur jelas bukan satu-satunya faktor yang menentukan orang mana yang akan meninggal terlebih dahulu, karena faktor kesehatan, kehati-hatian, dan faktor “x” yang tidak diketahui juga punya peranan yang mungkin tidak kalah besar. Bagaimanapun, ada baiknya kita mengambil pelajaran dari kematian mereka, membicarakan kebaikan mereka dan menyemangati diri kita agar mau berbuat baik lebih banyak lagi 🙂

Terimakasih banyak bagi kak rudi dan zii, atas segala pelajarannya untuk waktu yang mungkin tidak terlalu lama. This words are a tribute for you, and a reminder for me, once again, thanks pal 🙂

Orang-orang yang didoakan malaikat.

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka
malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga
malaikat berdoa Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam
keadaan suci.” (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk
menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat
akan mendoakannya Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia. (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada (orang orang) yang berada pada shaf shaf terdepan (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra bin Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan
sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu
bershalawat kepada orang orang yang menyambung shaf shaf (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan Amin ketika seorang Imam selesai membaca Al
Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, Jika seorang Imam membaca ghairil maghdhuubi
alaihim waladh dhaalinn , maka ucapkanlah oleh kalian aamiin , karena
barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan
diampuni dosanya yang masa lalu (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa )
kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana
ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata,
Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang orang yang melakukan shalat shubuh dan ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu
para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas
malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap
tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ashar dan malaikat
yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ashar) naik (ke langit)
sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah
bertanya kepada mereka, Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?, mereka
menjawab, Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami
tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah
mereka pada hari kiamat (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia
berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata
aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang
hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara
keduanya berkata, Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan
lainnya berkata, Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
( berdoa ) kepada orang orang yang sedang makan sahur
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah ”. (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar
ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat
Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali
Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di
waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh (Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, Sanadnya shahih)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah
bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.
Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan
bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang orang yang Didoakan
Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005