5 Stage of Exam

5 Stage of Exam

Hahaha, nemu ginian di 9gag, terinspirasi dari 5 stages of grief kelihatannya.
Dan dalam kasusku, spot on di beberapa mata kuliah.
Hanya bargaining stage yang gak sempat kulalui, gak ada yang bisa diajak transaksi, hahaha.
Well, exam might be one form of grief anyway :p

Jarak

Saat googling, berusaha rehat sejenak dari berbagai deadline awal pekan ini, kebetulan menemukan cerita yang bagus πŸ™‚

Suatu hari, sang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu dia kehilangan kesabaran, karena itu dia lalu berteriak.”

“Tapi…” sang guru balik bertanya. “Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun, tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka jadi amat jauh walau secara fisik begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka yang begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” tanya sang guru sambil memperhatikan muridnya.

Mereka nampak berpikir dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah padangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Pada akhirnya, ada satu perkataan sang guru yang harus kita ingat. Sang guru melanjutkan, “Ketika kita sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana karena waktu akan membantu kita.”

Ingatlah, jika jarak sudah tercipta, bukan dengan teriakan jarak itu dapat mengecil tapi dengan bahasa yang halus dan sikap yang baik, meskipun bukan Anda yang bersalah akibat kemarahan yang timbul itu. Percayalah, hal tersebut dapat mendatangkan keuntungan buat hubungan Anda.

Sumber: http://www.jawaban.com/index.php/mobile/health/detail/id/1/news/131024135325/limit/0/Saat-Hati-Dipisahkan-Oleh-Jarak.html

Kadang hal yang kita lakukan untuk mendekatkan jarak antara kita merupakan hal yang memperbesar jarak tersebut. Pengingat untuk lebih memperhatikan kata yang terucap, dan bagaimana penyampaiannya. Kelihatannya benar juga perkataan yang kudengar, bahwa jika ingin menang dalam suatu perdebatan tingkatkanlah kualitas argumenmu, jangan keraskan suaramu. Mengeraskan suara (atau berkomentar dengan huruf kapital penuh di dunia maya) mungkin dapat memenangkan sebuah argumen, tapi mungkin juga menurunkan rasa hormat orang lain atau malah membuat kita dianggap tidak pantas untuk didengar. Apakah itu harga yang pantas dibayar untuk sebuah kemenangan? πŸ™‚

Marah

Hari ini bener-bener tidak terprediksi lah, pas praktikum sebuah mata kuliah tadi, ada sebuah kejadian yang bikin dosenku marah. Padahal dosen ini bukan tipikal orang yang suka (atau pernah terlihat) marah.

Jadi, saat itu ada 3 kelompok praktikum, kelompokku yang sedang membereskan sisa-sisa praktikum dan 2 kelompok yang sedang mulai praktikum, tapi kasusnya beberapa anggota kelompok itu terlambat, dan saat praktikum pun ada beberapa orang yang tidak punya pekerjaan. Lalu, dosenku itu mengumpulkan mahasiswa yang sedang praktikum ke tempat di dekat kelonpokku dan berkata kira-kira seperti ini (agak lupa redaksi lengkapnya)

Kalian disini mau praktikum dengan serius? Kalau terus telat seperti ini, nanti waktu praktikum kita kepotong shalat jumat lagi, lama lagi jadinya. Kalau kalian nggak serius, lebih baik pulang saja. Toh saya juga ngajar disini karena saya bosan ngeliat kualitas tugas-tugas akhir yang sampah seperti yang sudah-sudah.

Harusnya kalian mensyukuri kesempatan ini untuk belajar, bukan cuma bengong ngeliatin teman kalian ngerjain. Soalnya kalau bukan sekarang, kapan lagi kalian mau belajar? Pas sudah masuk perusahaan besar? Pas sudah lulus dengan ipk yang bagus? Bullshit itu.

Udah, sekarang kalian buka laptop masing-masing dan cobalah kerjakan apa yang ada di modul

Setelah itu, mahasiswa di ruangan itu langsung diam dan nurut semua. Entah tersindir kata-katanya, atau mungkin juga kaget dan takut ngeliat dosen yang biasanya baik, penyayang dan pengertian bisa menyampaikan kalimat yang *jleb* gitu, meski tanpa meninggikan suara tapi kelihatannya beliau memang marah.

Tak lama kemudian, setelah kami selesai membereskan praktikum, temanku bertanya, tadi dosen itu marah ke kita juga nggak ya? Soalnya pada awalnya aku juga terlambat, meski syukurnya di kelompokku nggak ada yang sempat gabut. Tapi bagaimanapun, mendengar kata-kata itu dari dosen seperti beliau rasanya jleb banget sih. Kelihatannya benar, orang yang jarang marah itu punya wibawa lebih saat marah.

Setiap orang punya hak untuk marah, tergantung pada apa yang orang tersebut anggap penting, dan pada seberapa parah orang tersebut merasa kecewa. Dan kelihatannya ini memang alasan yang valid untuk marah, bagaimanapun juga jika mahasiswanya seperti ini, masa depan seperti apa yang bisa kita harapkan? Bukankah (seharusnya) mahasiswa itu menjadi agen perubahan, pengganti sosok penting di masyarakat, contoh yang dapat ditiru dan penjaga nilai-nilai baik pada masyarakat? Masihkah hal ini berlaku?

Yah, setidaknya biarlah ini menjadi sindiran dan motivasi bagi kaum mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa senior yang sedang bersiap meninggalkan tempat perkuliahan menuju dunia nyata. Kalau begini terus, yakin bisa mengubah dunia sesuai dengan ideologi yang masih tersisa? Kalau begini terus, yakin bisa bertahan di dunia nyata? Kalau begini terus, yakin setelah lulus masih ada manfaat yang bisa kita berikan?

Kalau belum yakin, yuk mulai berubah, tak perlu drastis, perlahan saja, membenahi diri agar kita lebih yakin. Berhenti jadikan jam karet sebagai kebudayaan dan mulai tertarik atau serius dalam menekuni pelajaran mungkin akan jadi awal yang baik bagi kita. Karena waktu yang tersisa bagi kita sebelum terjun ke dunia nyata tidaklah lama, karena itu mulailah berubah, agar pertanggungjawaban kehidupan kita nantinya juga lebih mudah, semoga πŸ™‚