Few Moments and Lessons in Calvin and Hobbes

Yap, Calvin and Hobbes merupakan salah satu komik strip favoritku sampai saat ini. Melihat dunia dari sudut pandang anak kecil yang mampu mengekpresikan diri dengan baik ditemani oleh boneka macan yang juga menjadi kawan imajinasinya itu entah kenapa menyenangkan dan membuat berpikir, haha. Dalam beberapa hal memang komik strip ini agak frontal, dan mungkin tergolong liberal dan ateis yang sebagai pemberitahuan bagi orang yang tidak ingin dekat-dekat dengan hal seperti itu. Tapi tidak sedikit dari komik ini yang dapat dijadikan bahan pemikiran dan renungan yang bagus, coba lah. Semua karya dibawah merupakan karya Bill Watterson, yang kebetulan sudah banyak beredar di internet. Masih menunggu ada karya versi bahasa indonesianya untuk dijadikan kawan bagi adik-adik lah, ada penerbit yang berminat menerbitkannya? Atau sudah ada dan aku belum menemukannya? ._.

Yah, kalau perlu pasar yang menjanjikan agar buku ini dapat diterbitkan, aku sedang mempengaruhi beberapa orang untuk membaca ini juga, jadi bisa dicoba lah ya, hahaha. Dan ini beberapa momen yang lumayan membuatku berpikir. Komik ini punya lumayan banyak momen seperti itu memang, ini hanya sebagian kecil saja 🙂

Calvin and Hobbes – Hilang (21 Desember 1985)

tumblr_mf5dwna0e51r4ejnio1_1280

Hahaha, pengalaman bertualang di masa kecil banget lah ini. Seolah berani menaklukkan halangan apapun, tapi kalau ada kesulitan sedikit, yah, siapa lagi yang bisa dipanggil?

Calvin and Hobbes – Televisi (19 Januari 1986)

Screen Shot 2014-04-03 at 7.45.26 AM

Kelihatannya untuk saat ini lebih pas kalau televisinya diganti dengan internet, tapi tetap, perilakunya tidak banyak berubah

Calvin and Hobbes – Merokok (25 Mei 1986)

ch860525

Kayaknya bisa dicoba ke anak-anak yang pengen coba-coba ngerokok, tapi perlu dijauhin dari teman-teman yang udah kecanduan mungkin agar tidak ada tekanan sosial, haha 😀

Calvin and Hobbes – Orangtua (3-8 November 1986)

ch861103

ch861104

ch861105

ch861106

ch861107

ch861108

Kadang kehidupan itu sederhana, bukan?

Calvin and Hobbes – Perang (23 Maret 1986)

19860323

Quite agree, it’s a stupid game.

Calvin and Hobbes – Rakun (9-18 Maret 1987)

cal_hobb-raccoon1

cal_hobb-raccoon2

cal_hobb-raccoon3

cal_hobb-raccoon4

cal_hobb-raccoon5

cal_hobb-raccoon6

cal_hobb-raccoon7

cal_hobb-raccoon8

cal_hobb-raccoon9

Ada banyak hal yang kita tidak mengerti, tapi sebaiknya kita tetap melakukan yang terbaik dengan segala pengetahuan yang kita miliki. Pertemuan yang singkat dan perpisahan 🙂

Calvin and Hobbes – Penebangan Hutan (19-21 Maret 1987)

Screen Shot 2014-04-01 at 11.00.31 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 11.00.42 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 11.00.51 PM

Kata-kata terakhirnya, “I wonder if you can refuse to inherit the world”. Ada beberapa orang yang berkata, “Jangan anggap bumi sebagai warisan dari nenek moyangmu, tapi anggaplah ini pinjaman dari anak cucumu”. Kalau ada anak cucu yang menolak menerima warisan dari nenek moyangnya karena warisan itu telah rusak dan hanya merepotkan saja, yah, adil kah kita untuk menyalahkan nenek moyang dalam hal ini?

Calvin and Hobbes – Kehangatan (20 Desember 1988)

tumblr_mf5d6tWB951r4ejnio1_1280

Haha, bener juga. Bisa dicoba kalau kesampaian niat mengunjungi negara subtropis 😀

Calvin and Hobbes – Perampokan (24 April – 11 Mei 1989)

Screen Shot 2014-04-01 at 10.37.01 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.37.15 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.38.39 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.38.58 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.39.11 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.39.27 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.39.40 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.39.50 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.40.04 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.40.17 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.41.42 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.41.53 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.42.05 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.42.14 PM

Screen Shot 2014-04-01 at 10.42.26 PM

Beberapa hal yang (mungkin) kita lupakan saat musibah seperti perampokan terjadi. Kadang kita lupa, mana yang penting dan mana yang kurang penting, serta mana yang berarti dan mana yang berharga mahal, bukan? 🙂

Calvin and Hobbes – Punah (8 November 1989)

pushed-toward-extinction

Membahas kepunahan beberapa jenis makhluk. Setelah dipikir, iya juga, kalau ada makhluk cerdas selain manusia di alam semesta ini, mungkinkah mereka menghindari manusia karena sering berbuat kerusakan di muka bumi ini? ._.

Calvin and Hobbes – Kreatifitas (21 Mei 1992)

ch920521

Menjelaskan kenapa kreatifitasku masih tersendat ._.

Calvin and Hobbes – Bangkai Burung (19 September 1993)

dead-bird

Semua keberadaan di dunia itu rapuh, sementara dan berharga. Tapi tentu orang-orang yang percaya akan Hari Akhir bisa memilih, mau memilih yang sementara atau mau memilih yang kekal? 🙂

Calvin and Hobbes – Kebun Binatang (25 September 1993)

ch930925

Oke, somehow ini ngena. Berkunjung ke kebun binatang ada bagusnya untuk mengenal berbagai jenis hewan yang ada, tapi kalau dilihat dari sudut pandang yang lain, well ._.

Calvin and Hobbes – Perkataan (9 Desember 1993)

ch931209

Pengingat untuk menjaga perkataan lah ya.

Calvin and Hobbes – Yang Lebih Baik (14 Desember 1995)

ch951214

Sebuah kesalahan membaca komik seperti ini di saat banyak tugas yang harus diselesaikan, well, it’s time to procrastinate I suppose.

There Is Still Time to Change

There Is Still Time to Change

Video yang bagus buat orang-orang yang sering berpikir negatif terhadap masa depan dunia ini, terutama bagi orangtua dengan anak kecil 🙂

Mungkin kita sering berpendapat bahwa dunia di masa depan akan menjadi jauh lebih buruk daripada apa yang telah terjadi saat ini. Herannya, meski kita berpikir itu yang akan terjadi, kita tidak melakukan apa-apa, seolah itu adalah hal yang sudah pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Tapi, bukankah itu sekarang masih belum terjadi? 🙂

Entah lah, rasanya orangtua dan anak-anak itu jauh berbeda ya, orangtua dipenuhi dengan ketidakpercayaan akan masa depan, dan karena itu mereka melakukan persiapan sebaik mungkin untuk menghadapinya. Sementara anak-anak belum punya persiapan apapun untuk masa depan, tapi mereka punya harapan, kepercayaan bahwa semua dapat dilakukan. Dan mungkin sebuah harapan, yang disertai dengan usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkannya, dapat berpengaruh besar pada kehidupan kita saat ini, bahkan mungkin pada dunia 🙂

Seperti yang pernah dilakukan pada zaman dahulu, saat seseorang berusaha untuk mengubah dunia saat lingkungannya dipenuhi dengan ketidakteraturan, perang antar golongan sering terjadi, rasa malu tidak dimiliki dan kehidupan dipandang sebelah mata, dimana satu gender dianggap jauh lebih baik dibandingkan gender yang lainnya. Seseorang yang terus menerus dihujat dan diserang saat menunjukkan pandangannya mengenai bagaimana tingkah laku masyarakat yang lebih baik, hanya karena dia percaya pada aturan lain, aturan yang dibuat oleh Yang Maha Mengetahui. Seseorang yang terus berharap, terus berdoa dan terus berjuang untuk menerapkan aturan itu sebagai landasan peradaban manusia. Seseorang yang kokoh pada pendiriannya meski diserang dari berbagai arah. Ya, kita tahu siapa dia 🙂

Tapi adakah yang mau mengambil posisinya di zaman ini, demi masa depan yang lebih baik? Aku yakin pasti ada, dan mungkin jumlahnya lumayan banyak. Meski orang-orang ini tidak (atau belum) mengenal satu sama lain, setidaknya tenang lah, masih ada waktu untuk berubah 🙂

Sepotong Roti

Hari masih tengah malam, namun dia menyusuri gang sempit itu dengan cepat, seolah-olah lari dari kejaran anjing pemburu. Dia tidak ingin ketahuan oleh orangtuanya. Ingatan akan kejadian kemarin siang masih membekas di benaknya.

Kemarin siang, dia bertengkar dengan ayahnya hanya dikarenakan masalah yang bisa dibilang sepele. Dia baru pulang sekolah, tetapi saat dia tiba di rumah ibunya belum menyiapkan makanan untuknya. Padahal saat itu dia sangat kelaparan. Diapun menghardik ibunya dan ibunya berkata bahwa tangan ibunya sedang sakit. Namun dia tidak peduli. Akhirnya, dia pergi diam-diam dari rumah orangtuanya karena berpikir mereka tidak sayang lagi padanya.

Singkat cerita, dia sampai di sebuah kota yang besar. Disana dia melihat seorang penjual roti. Karena rasa lapar yang sudah ditahannya dari tengah malam, dia bertanya pada tukang roti itu, “Permisi, Pak. Bisakah saya meminta sepotong roti milik bapak?”
Tukang roti itu pun menjawab, “Rasa-rasanya aku belum pernah melihatmu disini. Siapa engkau? Darimana asalmu?”
Dia pun menjawab, “Nama saya fulan, saya berasal dari desa sebelah.”
Tukang roti itu pun berkata lagi, “Wahai fulan, mengapa engkau berada disini? Dimana orangtuamu?”
Dia pun menjawab, “Saya berada disini karena saya ingin meminta sepotong roti dari dirimu. Orang tua saya masih berada di rumah.”
“Bukankah kau berasal dari desa sebelah? Apa itu berarti engkau pergi menempuh perjalanan jauh itu sendirian?”
“Ya.”
“Mengapa engkau melakukan itu?”
“Karena orang tua saya sudah tidak menyayangi saya lagi.”
“Apa maksudmu, wahai fulan?”
“Kemarin siang, ketika saya baru pulang sekolah saya tidak mendapati adanya makanan di meja. Padahal saat itu saya sangat lapar dan lelah.”

Tanpa pikir panjang, tukang roti itu memberikan sepotong roti kepada anak itu. Diapun menyantap roti itu dengan lahap. Setelah dia selesai makan, dia berkata, “Terima kasih wahai tukang roti berhati mulia. Engkau baik sekali.”
Tukang roti itu bertanya padanya, “Apakah orang tuamu tidak memberikan makanan kepadamu sejak engkau kecil?”
“Tentu saja mereka memberiku makan.”
“Apakah mereka memberi semua yang kau inginkan?”
“Meskipun ada beberapa yang tidak terkabul, tapi umumnya iya.”
“Apakah kemarin malam kau tidak makan?”
“Tidak, kemarin malam aku masih kesal dengan orangtuaku sehingga aku tidak menyentuh makanan yang ibuku buat sedikitpun. Karena itu, aku dimarahi oleh ayahku. Rasa kesalkupun ikut bertambah.”
“Jadi karena itu engkau kabur dari rumah?”
“Ya, aku kabur karena mereka sudah tidak berlaku baik lagi terhadapku.”
“Bukankah mereka selalu memberimu makan? Bagaimana engkau bisa bilang aku yang hanya memberikan sepotong roti itu baik, padahal orangtuamu yang telah memberimu kasih sayang yang tak ternilai dan telah mencukupi makanmu selama bertahun-tahun hingga saat ini kau katakan sebagai orang yang tidak baik?”

Sang anakpun menyesal setelah mendengar perkataan sang penjual roti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang setelah berterimakasih kepada tukang roti yang telah menyadarkannya itu.