Logical Fallacy

Logical Fallacy

https://yourlogicalfallacyis.com

Menarik juga, terkait kesalahan-kesalahan yang dapat digunakan seseorang dalam menyampaikan sebuah argumen, sehingga argumennya terlihat lebih kuat daripada yang seharusnya, padahal…

Yah, mungkin ada bagusnya kita sedikit belajar terkait ini, apalagi pekan depan pemilu dimulai, setidaknya rakyat perlu pencerdasan juga bukan?

Pathetic

Bersahabat adalah hal yang menyenangkan, namun bagaimana jika ada perbedaan pendapat yang menimbulkan perpecahan? Sebagai manusia yang berbeda, wajar jika pendapat kita tidak selalu sama. Dan secara teoritis, persahabatan dapat berlangsung jika semua pihak dapat menerima perbedaan tersebut. Sayangnya, menerima perbedaan tidak lah semudah mengatakannya. Dan itu lah hal yang terjadi padaku baru-baru ini, ada seorang sahabat yang memilih untuk memutuskan silaturahmi disebabkan adanya perbedaan pendapat di kelompok persahabatanku. Kebetulan memang dia merupakan orang yang memiliki pandangan yang agak beda sendiri dengan semua orang di dalam kelompok itu, karena beberapa orang yang pandangannya serupa dengan dia tidak terlalu terlihat. Entah apa faktor utamanya memutuskan silaturahmi, perbedaan pendapat dalam hal yang fundamental, perasaan kesepian karena tidak ada yang mengerti pendapatnya, perasaan diserang dan disudutkan atau debat yang terlalu panas.

Awalnya ini hanyalah perdebatan mengenai sebuah golongan, yang telah jelas punya perbedaan prinsip dengan prinsip yang kami percaya. Seingatku tidak ada yang menyangkal bahwa prinsip yang golongan itu anut berbeda, dan merupakan pandangan yang salah berdasarkan prinsip kami. Hal yang diperdebatkan adalah apa yang perlu dilakukan kepada para penganut prinsip tersebut.

Dia berpendapat untuk membasmi pemikirannya. Pendapat yang setelah kupikir lagi mungkin akan kusetujui jika disampaikan dengan kata-kata yang enak didengar, namun aku saat itu lebih mengkritisi bahasa dia yang kuanggap menyeramkan. Aku lupa bagaimana detailnya karena postingannya telah dihapus (dan memang jika mudharat lebih banyak daripada manfaatnya seharusnya dihapus saja kan?), namun aku termasuk salah satu pihak yang menyudutkan dia karena aku tidak menyukai bahasa yang dia gunakan. Dan mungkin agak keterusan, perdebatan saat itu lumayan panas, dan juga agak melebar ke masalah lain yang memang sejak awal sudut pandang kita dalam hal itu berbeda.

Salah satu momen yang kuingat adalah ada temanku yang menyindir dia “pathetic” atau menyedihkan atas sudut pandang yang bahasanya kusindir itu, dan setelah itu juga sindiran yang dia terima dari teman-temannya lumayan keras dan kurang menyenangkan untuk dibaca, dan kata “pathetic” itu lah yang membuatku ingin membahas ini. Yah, memang beberapa temanku merupakan aktivis rangkap kritikus tajam, agak menyebalkan jika orang awam bertanya, pengalaman personal saat pendapatku disindir akibat kurangnya info yang kuketahui. Dan itu kelihatannya merupakan salah satu faktor yang membulatkan tekadnya untuk memutuskan silaturahmi, karena dia juga sempat membuat postingan yang menyatakan orang yang menyindir dia lah yang pathetic dengan bahasa yang emosional, namun tak lama kemudian postingannya dihapus, dan pertemanan kita di media sosial diputus.

Semua kecewa atas keputusan tersebut. Karena memang kita tidak ingin memutuskan persahabatan meski pendapat kita berbeda. Namun sampai saat ini juga belum ada yang berniat untuk minta maaf. Entah apakah karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa seperti itu jadi mereka sudah mengerti konsekuensi akan dibenci banyak orang tapi mereka tetap menyuarakan apa yang mereka anggap benar, entah lah.

Terkait pathetic, dalam hal ini aku menganggap kami semua merupakan orang yang pathetic dalam hal ini. Jika ada dari kalian yang terlibat yang membaca ini, mungkin lebih baik kita bahas di tempat lain saja agar tidak ketahuan siapa yang kumaksud, silahkan kirim pesan privat ke media sosialku kalau ada hal yang menurut kalian perlu diluruskan. Karena tulisan ini lebih diniatkan untuk instropeksi dan evaluasi, perdebatan lebih baik dilakukan di tempat lain πŸ™‚

Sahabatku yang memutus silaturahmi itu pathetic karena caranya menanggapi pendapat kami yang kurang bijak. Dunia ini dipenuhi oleh berbagai jenis manusia yang punya pendapat yang berbeda, jika kita hanya menganggap satu pandangan benar dan pandangan selain itu salah, agak menyebalkan. Bukankah menyepelekan apa yang dikatakan orang lain dan menolak kebenaran yang disampaikannya jika ada merupakan bentuk kesombongan? Selain itu aku pernah dengar bahwa orang yang dapat hidup dengan pandangan seperti itu hanyalah orang yang sangat kuat, atau orang yang sangat bodoh. Karena mereka tidak menyesuaikan pandangan mereka berdasarkan fakta yang ada, tapi mereka menyesuaikan atau mengubah fakta agar sesuai dengan pandangan mereka. Dan untuk melakukan itu jelas perlu kekuatan atau kebodohan yang sangat untuk menyesuaikan fakta dengan pemikirannya. Merasa tersindir? Buktikanlah bahwa kita tidak seperti itu, carilah informasi dari berbagai sumber, bacalah berbagai artikel dengan sudut pandang yang berbeda untuk memperkaya wawasan. Mungkin memang mengetahui hal yang benar bukan hal yang mudah, tapi dengan mengetahui berbagai sudut pandang setidaknya kita dapat berperilaku dengan lebih bijak saat kita mendukung salah satu kubu, dan itu akan membantu menjaga silaturahmi kita.

Sahabatku yang memberikan kritikan pedas itu juga pathetic. Dia menganggap pandangan temanku salah, tapi dia tidak menyampaikan pendapatnya dengan bijak sehingga orang yang seharusnya dia cerahkan malah pergi dan menjauh dari pendapatnya dengan kebencian. Kebencian tidak akan menghasilkan suatu hal yang baik kan? Aku juga pernah membaca ilustrasi terkait ini. Saat kita ingin menyampaikan kebenaran–atau setidaknya apa yang kita anggap benar–kepada orang lain, itu seperti kita ingin memberikan berlian kepada orang lain. Namun jika kita memberikannya dengan cara melemparnya sekeras mungkin, orang justru akan marah, kesakitan dan tidak suka. Memang kita tidak dapat membenarkan semua pendapat orang, dan mungkin beberapa komentar akan kurang nyaman untuk didengar, tapi bukankah mungkin masih ada yang mau mendengar walaupun sedikit?

Dan aku juga menganggap diriku pathetic, hanya dapat berkomentar dan mengkritisi hal yang telah terjadi, dan lumayan lama setelah hal itu berlalu. Kurang mampu untuk bertindak juga bukan hal yang menyenangkan jika hasilnya seperti ini, dan sekarang hanya berandai apa yang akan terjadi jika aku tidak terbawa rasa malas untuk berkomentar saat situasi memanas dan mengingatkan kawan agar tidak berlebihan dalam berkomentar. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas aku tidak akan berharap andai aku berbuat begini dan begitu dahulu. Kehilangan teman kelihatannya bukan hal yang menyenangkan untuk dikenang bukan?

Jika dipikir lagi, mungkin akan selalu ada sudut pandang yang menganggap apapun yang kita lakukan pathetic. Bagaimanapun, ada terlalu banyak sudut pandang dan berlaku benar di semuanya jelas mustahil. Setidaknya berlakulah dengan landasan yang kita anggap benar, dan jelas itu merupakan Quran dan hadits bagi muslim. Yah, mengetahui sudutpandang yang menunjukkan ke-pathetic-an diri kita memang baik untuk pandangan lain, tapi mungkin terlalu berlebihan menyikapinya juga bukan hal yang baik. Memang kita yang menentukan apakah diri kita pathetic atau tidak, tapi cobalah sikapi pendapat yang berbeda dengan bijak. Bukan agar tidak dibenci orang lain, tapi untuk menjaga silaturahmi. Kita mungkin tidak selalu sependapat, tapi kita tidak perlu menjadikan hubungan kita sebagai hal yang pathetic bukan?

Perbedaan Pendapat

Perbedaan Pendapat

Mungkin ini merupakan salah satu gambaran yang tepat terkait perbedaan pendapat di masa kini, saat pendapat para orang berilmu berbeda, mereka tidak segan untuk bertukar pendapat dan berdiskusi mengutarakan pendapatnya. Namun, saat orang yang kurang bijak berpendapat, mereka berdebat untuk mempertahankan pendapatnya, entah karena tidak ingin dianggap salah atau terlalu fokus kepada sebuah pandangan.

Semoga kita semua dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat πŸ™‚

Menggurui dan Mengarahkan

Tadi habis isya nemenin junior ngunjungin rumah kepala DKM sebuah masjid untuk menyampaikan niatan bikin perpustakaan di masjid itu, biar kegiatan belajar di masjid itu lebih menarik. Yaa, aku sih lebih menganggap ini sebagai silaturahmi daripada urusan organisasi, toh silaturahmi juga mempermudah mengalirnya rezeki kan? Dan aku juga senang berbincang dengan orang ini, beliau enak buat diajak diskusi, dan tadi pun perbincangan yang terjadi keluar dari topik, seperti biasa, dari pembangunan ruang baca atau perpustakaan kecil, lanjut ke profil warga sekitar dan ujung-ujungnya tentang anak muda saat ini.

Awalnya kita berbicara soal pembangunan perpustakaan tersebut, barang-barang dari ruangan yang akan digunakan mau dipindah kemana, jenis rak buku yang ada, dan kapan buku-bukunya mau dipindahkan, lalu berlanjut ke evaluasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh SKHOLE (ya, mungkin nanti perlu bikin tulisan sendiri untuk organisasi keren macam ini, haha) di daerah tersebut. Mengenai kenapa tiap kegiatan tidak banyak yang hadir, apa yang disukai anak-anak saat ini, faktor orangtua,pengaruh dkm dan rt/rw, dan beberapa hal lain. Pembicaraan pun terus berlanjut, dan kata-kata beliau yang paling ngena dari pembicaraan tadi adalah, “Saat ini anak-anak tidak suka digurui. Padahal tugas kami sebagai orangtua hanyalah mengarahkan.” Beliau bercerita mengenai sebuah organisasi kepemudaan sebagai contoh, tentang bagaimana anak-anak muda di organisasi tersebut membuat berbagai jenis proposal saat akan mengadakan acara untuk meminta dana, dan menyayangkan hal itu karena beliau berpendapat bahwa seharusnya organisasi dibentuk untuk memberi harapan bagi orang lain, bukan mengharapkan pemberian dari orang lain. Beliau sudah mencoba mengarahkan organisasi tersebut agar dapat mandiri secara finansial dengan bantuan dari rt/rw setempat, tapi sayangnya usaha beliau belum berhasil sampai sekarang karena apa yang beliau sampaikan hanya dikomentari oleh para anak muda, tapi belum ada yang dijalankan.

Jujur, kata-kata ini agak ngena ke aku. Soalnya aku memang bukan orang yang suka mendengarkan orang yang mengguruiku untuk melakukan sesuatu, aku lebih suka belajar dari pilihan yang kubuat, baik itu berhasil ataupun gagal. Aku kurang suka dengan orang yang mengatakan kamu seharusnya seperti ini dan seperti itu karena menurutku itu adalah pengalaman dari sudut pandang seseorang, dan apa yang berhasil bagi seseorang belum tentu akan berhasil padaku kan? Seminar terakhir yang kuikuti itu adalah SSDK (Seminar Sukses Di Kampus) yang poin-poinnya gak ada yang kujalankan sama sekali (terutama dalam poin mengatur waktu, dimana tugasku selalu deadline dan kadang bolos kuliah buat istirahat, nugas atau jalan-jalan), alhamdulillahnya prestasi akademikku masih lumayan, hahaha. Aku tidak punya masalah dengan seminar yang isinya informasi, seperti seminar tentang beasiswa dan semacamnya, tapi kalau seminar itu sudah terkait dengan bagaimana menjalankan hidup, mengatur diri dan lain semacamnya, aku gak bakal semangat buat ikut. Mungkin akan beda kalau fakta yang disampaikan terbukti secara statistik, tapi sayangnya kurang banyak seminar yang menyampaikan data seperti itu, dan karena itu aku sebagai peserta wajar dong untuk ragu yang disampaikan ini bener atau nggak.

Entah kenapa kata “menggurui” itu terdengar lebih seperti mendikte, dan kedengarannya menyebalkan. Sementara kata “mengarahkan” kalau konteksnya salah mungkin bisa mirip dengan kata menjerumuskan artinya, tapi tergantung juga sih, menjerumuskan ke hal yang baik gak bisa dibilang salah kan? Setidaknya selama definisi “baik” masih belum berubah, harusnya itu bukan masalah. Tapi yang jelas aku senang dengan kebebasan, meski tetap sadar kalau ada tanggungjawab, dan tidak terlalu suka kebebasanku diikat pada batasan-batasan dari pendapat orang yang tidak diketahui benar atau tidaknya.

Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku tidak terlalu tertarik pada motivator, seminar sukses, atau apapun yang menurutku menyampaikan pendapat atau memotivasi tanpa mengetahui kondisi, bahkan dalam kasus motivator kadang ada juga teman yang nyeletuk “Hidup ini gak segampang cocotnya *piiiip* (nama seorang motivator)”. Well, gimanapun juga sang motivator gak bisa disalahkan sih, toh memang kerjaan dia cuma memberikan motivasi, termotivasi apa nggak ya tergantung pribadi sendiri lah. Tapi kalau dipikir, kalau ada orang yang menjadikan motivator sebagai pekerjaannya, apakah ini pertanda bahwa tidak banyak masyarakat yang punya motivasi untuk melakukan suatu hal? Hm, mungkin ada baiknya tiap orang juga belajar memotivasi diri sendiri ya πŸ™‚ *OOT*

Dan setelah dipikir lagi mungkin ada benarnya, kadang kita terlalu abai. Entah karena kita tidak suka digurui, tidak suka kehidupannya didikte orang lain, atau sekedar karena tidak peduli (kalau yang ini mungkin cuma aku sih, haha). Dan mungkin ada benarnya juga kalau generasi sekarang lebih cerdas dari generasi masa lalu, toh banyak dosen yang cerita jaman dulu ip itu susah banget dapat bagus, sementara sekarang jauh lebih gampang kayaknya. Tapi bagaimanapun juga, mungkin meluangkan waktu untuk mendengarkan pendapat orang lain seperti ini ada baiknya, karena meskipun mungkin kita memang lebih pintar, apa salahnya mendengarkan pendapat orang yang lebih bijak dan berpengalaman? πŸ™‚

Tapi kalau orangnya kurang bijak dan kurang berpengalaman, dan ada yang menganggap tidak masalah mendengarkannya sebagai masukan pandangan, ya tidak masalah, toh itu pilihan, dan aku lebih memilih abai. Bukan kenapa-napa, somehow untuk hal-hal yang tidak menarik minatku dan bukan fakta statistik, i just simply don’t care πŸ™‚