Penilaian Diri

Penilaian Diri

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152291604649309&set=a.100833334308.86779.51023034308&type=1&theater

Entah, tapi kadang aku menganggap begini orang yang mengikuti berbagai jenis pelatihan yang tidak sesuai dengan diri mereka, seolah apa yang mereka punya tidak bagus dan berlomba-lomba untuk meniru orang lain yang dianggap hebat. Yah, memang proses pembelajaran itu adalah mengambil apa yang baik dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan diri sendiri, tapi, jika tidak sesuai apakah perlu diambil juga? 🙂

Menilai Ciri Fisik?

Menilai Ciri Fisik?

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=528486753884888&set=a.462612330472331.110495.454023574664540&type=1&theater

Pengalaman pribadi, dari SMA sampai pas tingkat awal kuliah masih sering ditanya, entah oleh orang yang belum dikenal, murid sendiri, ataupun gumaman bocah-bocah yang entah siapa saat papasan. Hahaha, agak rasis bukan?

Entah siapa yang patut disalahkan, atau siapa yang mempopulerkan pola pikir kalau fisiknya begini pasti begitu di masyarakat. Hm, kelihatannya perlu mengajak kakak kelasku yang bule dan asli Indonesia untuk mempopulerkan pola pikir yang berbeda, hahaha.

Tapi kalau dibiarkan lama-kelamaan juga akan terlupakan dan terabaikan karena telah terbiasa sih, hahaha, yah, sudahlah. Hal yang Dia nilai sebelum mengambil keputusan akhir juga tidak hanya ciri fisik kan?

Penilaian

Ini kali keduanya aku menyayangkan kondisi kampusku yang jurusannya kurang banyak. Pertama saat kasus buruh demo terjadi, dan kedua saat dokter demo baru-baru ini. Kampusku ini benar-benar kekurangan jurusan dan profil mahasiswanya banyak yang mirip, akibatnya aku jadi agak kesulitan nyari teman diskusi dalam kasus pro dan kontra gini. Akhirnya soal kasus buruh demo aku dapat pencerahan dari kawanku di program studi di bidang sosial masyarakat di depok dan jogja, sementara kasus kedokteran ini malah lebih banyak mereferensi film karena suka nonton drama kedokteran, dan detail kasusnya juga minta dari anak jogja sih, yang mungkin lebih ngerti, hehe. Tulisan ini sekedar pendapat dari seorang yang kurang memperhatikan dunia sosial tapi penasaran kenapa kasus ini bisa terjadi dan kenapa sampai booming seperti ini, jadi kalau ada pendapat yang dianggap salah, silahkan diluruskan dengan diskusi 🙂

Kadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Entah karena terbawa suasana, entah karena teman yang kita kagumi memilih pendapat tersebut, entah karena kita merasa senasib dengan seseorang dari salah satu pihak, entah karena apa, tapi jika saat kita mendengar suatu hal kita langsung mengambil suatu kesimpulan, kelihatannya ada baiknya hal itu ditahan dulu, coba lah caritahu kenapa kedua pihak berpendapat seperti ini. Sayangnya, saat suatu masyarakat terlalu homogen, agak sulit untuk mencaritahu dan berdiskusi mengenai pandangan yang tidak sesuai dengan pandangan masyarakat tersebut. Dan itu lah yang kualami selama beberapa kasus belakangan ini, kesulitan mencari teman diskusi dari sudut pandang yang berbeda.

Yang pertama pada kasus buruh, di kampusku sih jelas, mayoritas gak setuju kalau gaji buruh dinaikkan sampai ke angka 3juta lebih. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari gaji dosen yang tidak sampai segitu (lebih penting mana antara buruh dan dosen?), urgensi adanya buruh yang mungkin lebih boros dibandingkan dengan berinvestasi pada mesin produksi massal (kalau lebih murah beli mesin daripada mempekerjakan 100 orang buruh, kenapa nggak?), dampaknya terhadap minat investasi di indonesia (kalau gaji buruh tambah mahal, yakin masih banyak investor yang mau buka usaha di indonesia?), harga benda tambah mahal (upah buruh naik berarti biaya produksi juga naik kan?), dampak jangka panjangnya (kalau gaji buruh naik, daya beli masyarakat juga naik, akibatnya permintaan barang akan naik dan kalau supply barang gak berubah kelak harga barang bakal jadi tambah mahal, bukankah ini sama saja dengan usaha mengadakan demo berikutnya?), dan masih ada beberapa argumen sih terkait kenapa gaji buruh gak seharusnya naik sampai segitu, tapi pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat yang paling sering kudengar.

Namun, coba lihat dari sudut pandang buruh juga, dan beruntungnya aku punya teman yang bisa menyadarkan untuk adil dalam menilai. Bagaimanapun, mereka juga berhak hidup layak dan sejahtera, dan dalam kondisi seperti itu mungkin mereka dapat menjadi lebih inovatif dan kreatif. Lagipula, pekerjaan mereka kadang juga mengharuskan terjun ke situasi berbahaya dan resiko kecelakaan kerjanya lumayan tinggi (katanya resikonya lumayan beragam, dari lumpuh hingga meninggal). Dan, bisa jadi laba yang diambil pengusaha terlalu besar dan kondisi kalau pun para buruh gajinya dinaikkan tidak terlalu terlihat pengaruhnya. Lagipula, banyak kok cara untuk mencurangi sistem dan membiarkan para buruh bergaji lebih kecil dari seharusnya, orang yang hobi nonton film kriminal seperti “Leverage” juga mungkin tahu. Mungkin ini gak bakal terlalu berhubungan dengan investor, karena kalau mau investor berinvestasi disini ya berikan kepastian hukum dan perbaguslah situasi untuk berinvestasi, bukan dengan menjual tenaga kerja dengan harga yang murah, kecuali kalau kita pengen selamanya menjadi negara berkembang. Oke, ada satu pertanyaan yang belum terjawab sih, mengenai gaji buruh itu dinilai dari kebermanfaatannya atau kerja kerasnya (karena bisa aja perusahaan langsung ngeganti sama mesin juga kan?), tapi aku lumayan menangkap poin yang dibicarakan.

Dan sekarang kesimpulanku mengenai hal ini adalah, kembali ke hal yang mendasar. Pada dasarnya hubungan antara buruh dan yang mempekerjakannya adalah transaksi jual-beli, dengan benda yang diperjualbelikan adalah tenaga sang buruh. Jadi, jika sang buruh mau naik gaji, tunjukkan lah kalau dia memang pantas mendapatkannya. Kalau sang buruh menyalahi kontraknya, seperti jam kerja harusnya jam 7-11.30 dan lanjut lagi jam 12.30-16 tapi sang buruh masuknya pada jam 8-11 dan lanjut lagi pada jam 14-16, menurutku sederhana, buruh itu keterlaluan kalau minta gajinya tetap dinaikin–kecuali kalau mereka memang dalam kondisi gak sehat akibat dari diforsir oleh perusahaan, itu beda lagi. Dan di sisi yang lain, pengusaha juga seharusnya lebih menempatkan diri pada posisinya, berikanlah upah buruh sesuai dengan yang dijanjikan, dan berikanlah bonus atau tambahan kalau kinerja sang buruh melebihi ekspektasi. Aku sempat diceritain sama dosen pas sebuah mata kuliah kalau itu yang nyebelin dari indonesia, kalau mempekerjakan tenaga kerja asing dan mereka selesai lebih cepat maka mereka dapat bonus berupa bayaran sejumlah sisa hari pekerjaan, sementara kalau tenaga kerja lokal nggak. Belum tahu sih kebenarannya gimana karena belum pernah memeriksa langsung (lulus aja belum), tapi secara logika kalau mempekerjakan tenaga kerja lokal artinya kan lebih enak selesai pada waktunya, kalau begini terus, sampai kapan kita mau jadi negara berkembang?

Dan salah satu yang menyebalkan dari posisi masyarakat sebagai konsumen adalah, mengutip bahasa temanku, kita gak tau mana perusahaan yang memperlakukan buruhnya dengan layak dan mana perusahaan yang tidak. Sebagai konsumen kita hanya melihat pada harga yang tertera pada produk, dan mungkin logo halal pada sebagian produk tentunya. Ambil contoh ada 2 buah sabun batang, sabun A yang harganya Rp2,000 dan sabun B yang harganya Rp2,300. Mungkin dari segi finansial (khususnya bagi mahasiswa dan anak kos seperti saya) kita cenderung memilih sabun A yang lebih murah, tapi bagaimana kalau ternyata harga sabun B lebih mahal dari sabun A karena perusahaan sabun B memberikan kompensasi finansial yang layak bagi para buruhnya, sementara perusahaan sabun B menekan biaya buruhnya sehingga harga sabunnya bisa murah? Well, di dunia seperti sekarang, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tidaklah semudah membedakan mana yang putih dan mana yang hitam lagi ya, terlalu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan kita tidak mengetahui semua fakta di lapangan. Agak menyebalkan mungkin, tapi ini lah kondisi saat ini.

Dan sekarang kasus ini yang terjadi, kasus dokter. Kelihatannya kasus ini sedang booming jadi kronologisnya gak usah dibahas disini lah ya, udah dengar juga kasusnya dari temanku (maklum, gak punya tv dan internet gak terlalu sering buka berita, aku agak apatis memang di dunia maya) dan dari yang kulihat sejauh ini, hal utama yang dipermasalahkan adalah mengenai kebijakan para dokter yang memilih untuk meliburkan diri selama sehari dari mengobati pasien dan berdemo.

Lagi, dari satu sisi, mungkin bisa dikatakan bahwa para dokter mengabaikan kewajibannya disini. Kalau misalnya ada pasien yang luka parah dan tidak terobati akibat dari dokternya melakukan demo, apakah dokter dapat disalahkan? Lagipula, terkait kesalahan prosedurnya juga masih dipertanyakan, ada temanku yang bilang kalau prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang harusnya dilakukan sehingga terjadinya kesalahan harusnya bukan tanggungjawab dari sang dokter, tapi ada juga temanku yang bilang kalau tenaga medis saat ini umumnya tidak mengikuti protokol yang dipelajari selama masa perkuliahan mereka sehingga kesalahan seperti yang terjadi pada kasus ini umum terjadi dan karena itu lah aksi demo ini dilakukan. Dan karena aku tidak tahu apa-apa mengenai kondisi lapangan kelihatannya aku bukan orang yang tepat untuk berbicara mengenai ini, sekedar menyampaikan beberapa pandangan yang ada.

Dan di sisi lain, dokter yang melakukan demo pun tidak bisa sepenuhnya digeneralisasi. Mungkin dokter itu memilih melakukan demo karena dia ingin menolong masyarakat tapi masyarakat malah menyudutkannya (dalam hal ini aku bisa bersimpati pada para dokter, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama, ingin menolong sekelompok orang, atau setidaknya seseorang, tapi gak ada yang merasa perlu bantuan. Baru sampai disitu aja rasanya udah gak menyenangkan, gimana kalau ditambah dengan disudutkan?), atau mungkin karena dokter itu yakin bahwa yang dilakukan sang dokter dalam kasus tersebut sudah benar sehingga keputusan menghukumnya tidak dapat diterima, atau karena berbagai alasan lain? Entah lah, ribet, tapi yang jelas dokter juga manusia, dan menurutku wajar kalau mereka merasa kecewa saat profesi yang mereka junjung tinggi itu dianggap rendah atau kotor, toh di kode etik insinyur ada kewajiban untuk menjaga nama baik insinyur, mungkin dokter juga punya tanggungan untuk menjaga nama baiknya. Lagipula, awalnya yang ada di bayanganku tentang malpraktek adalah dokter jahat yang membuat pasiennya sakit biar datang terus ke rumah sakit dan berobat biar dokternya untung, ternyata (setelah googling) definisi malpraktek itu adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Entah lah apa kasus ini memang merupakan kasus malpraktek ataupun bukan, karena dunia kedokteran itu benar-benar dunia antara hidup dan mati, dan agak sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bisa saja sang dokter sudah melakukan yang terbaik dan sesuai dengan prosedur untuk pasiennya tapi pasiennya tetap meninggal. Tapi kalau dari salah satu film yang suka kutonton, “House”, disana dokternya malah terlalu sering melanggar prosedur yang ada, tapi pasiennya banyak yang selamat justru karena prosedur itu dilanggar. Hahaha, dunia kedokteran beneran ribet ya ._.

Oke, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi pada kasus ini dan apakah dokter tersebut salah atau tidak, sekedar mengingatkan, sebagai orang berpengetahuan dan memiliki kekuatan yang lebih, kita juga pasti akan memiliki tanggungjawab yang lebih. Sebagai calon engineer, aku sadar itu. Seperti halnya dokter, kalau kita salah memasukkan spesifikasi rancangan pada plant atau bangunan, korban bisa jatuh dalam jumlah besar. Tapi bagaimanapun kita tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan. Dan seperti yang pernah dosenku katakan, kita pasti akan melakukan kesalahan (terlepas dari akibat ketidaktahuan, kekeliruan atau kecerobohan) dan mengalami kegagalan. Pertanyaannya adalah kapan itu terjadi dan apa yang kita lakukan untuk menyikapinya dan memperbaikinya. With great power comes great responsibility, right? 🙂

Dan meski out of topic aku agak heran, kenapa ya tiba-tiba dalam sebulan ini udah ada dua profesi yang menjadi sorotan berita. Apakah hanya kebetulan atau ada permainan di tahun pemilu ini ya? Hahaha, ah, sudah lah, dari pada berteori mengenai konspirasi lebih baik sibuk membenahi diri agar kesalahan di masa depan dapat diminimalisir, terutama kesalahan yang menyangkut hidup orang banyak 🙂

Well, curhatan malam tentang penilaian yang tidak selalu objektif dari sebuah profesi beres juga. Seperti yang telah dikatakan di awal, penulis cuma anak muda yang awam dan penasaran, dan mencoba untuk melihat secara objektif. Kalau ada kesalahan, silahkan diluruskan dengan diskusi yang membangun, sekedar menuangkan apa yang ada di sudutpandangku, semoga bermanfaat 🙂

Menilai Manusia

Dan kali ini kebiasaan procrastinating kembali beraksi -_- Disaat seharusnya lagi hectic tugas dan fokus, malah buka media sosial dan nemu status menarik yang sedikit menggelitik dan membuatku penasaran, jika kita harus menilai manusia, apakah yang akan kita nilai?

 

Akankah kita menilai dari berapa negara yang sudah disinggahi, untuk mengagumi kesempatan yang dia dapatkan, berkenalan dengan orang-orang hebat di luar negeri, bersantap makanan tradisional yang mungkin belum pernah kita dengar atau lihat, berinteraksi dengan orang-orang dari suku, agama, dan ras yang berbeda dan berbagai pengalaman yang mungkin tak akan pernah kita alami lainnya?

 

Atau akankah kita melihat dari kedekatannya dengan alam, berapa gunung yang sudah didaki, tempat apa saja yang sudah dikunjungi, binatang dan tumbuhan apa saja yang ditemui, pengalaman ter-ekstrim apa yang sudah dihadapi, dan berbagai pengalaman mengesankan lainnya?

 

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi orang-orang seperti itu, kelihatannya sekarang kita sudah bisa mendapatkan semua pengetahuan yang ada di internet, bahkan untuk melihat permukaan pluto tanpa perlu jauh-jauh pergi kesana pun sudah dapat dilakukan (coba tulis “the surface of pluto” di google). Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk melihat dan mengetahui segala hal, dari kebudayaan, makanan tradisional, statistik dan data, dan masih banyak lagi, jadi bagaimana bisa hal ini membedakan?

 

Oke, mungkin bakal ada argumen bahwa “merasakan sendiri itu beda”. Untuk menjawab itu, ada novel menarik berjudul “Measuring the World” yang dibuat oleh Daniel Kehlmann. Ceritanya merupakan bayangan seorang penulis mengenai 2 orang jerman yang mengukur dunia dengan caranya masing-masing, yaitu Carl Friedrich Gauss, matematikawan jerman yang tertutup dan sangat jarang bersosialisasi namun dapat membuktikan bahwa ruang angkasa itu melengkung tanpa perlu meninggalkan rumahnya, dengan Alexander von Humboldt, ahli ilmu bumi jerman yang naturalis dan aristokrat, hobi berpetualang, bahkan dikatakan tak ada gua dan bukit yang ditinggalkan tanpa terjelajah dan terukur. Kesimpulan yang diambil novel ini menarik, mengutip dari buku tersebut, “sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa yang sudah mengukur dunia lebih jauh” Bagi yang penasaran terhadap alasannya, silahkan baca sendiri :p

 

Bagi yang berargumen, “yang penting itu kan perjalanannya, perjuangan selama kita melangkah. Lagian banyak pelajaran yang didapat di sepanjang perjalanan kok”, aku sepakat, toh aku juga orang yang menyukai perjalanan. Cuma, semua kembali ke orangnya. Jadi ingat, setelah film “5 cm” keluar, dikatakan jumlah pendaki gunung semeru meningkat. Sayangnya, peningkatan ini diiringi dengan peningkatan jumlah sampah yang dibawa oleh para pendaki baru dan dibuang disana, dan aku tidak melihat itu sebagai tingkah laku orang yang mendapatkan pelajaran dari perjalanannya. Kembali lagi ke tujuan awal kita, untuk kebanggaan, atau untuk pelajaran?

 

Yah, semoga memang ada pelajaran yang didapatkan oleh para pendaki yang bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya 🙂

 

Oiya, untuk yang menyukai perjalanan, ada perkataan yang bagus dari shawn spencer di film “psych”:

 

Take lots of pictures. Not of sights. Don’t take pictures of buildings. Take pictures of moments, ’cause that’s what matters. Capture ‘em here [points to his head], and hold on to ‘em here [points to his heart]… At least that’s what I would do.

 

Ambillah gambar yang banyak, tapi jangan ambil gambar pemandangan, jangan juga ambil gambar bangunan. Ambillah gambar dari momen-momen yang ada, kejadian-kejadian yang istimewa, karena itu lah yang penting. Masukkanlah gambar-gambar itu ke kepala, dan simpanlah mereka di dalam hati, setidaknya itu yang akan kulakukan 🙂

 

Oke, kembali ke topik. Apa lagi yang dapat kita nilai dari seseorang?

 

Akankah kita menganggap kecerdasan lah yang utama, bagaimana dia selalu mendapat nilai tinggi di sekolah, bagaimana dia selalu menjadi juara dalam olimpiade, bagaimana dia menyelesaikan pendidikan lebih cepat daripada orang-orang seusia dia, dan menilai segala penghargaan yang telah dia dapatkan?

 

Atau akankah kita mengagumi pola pikirnya, bagaimana dia bisa menghadapi masalah dengan tenang meski masalah itu belum pernah dihadapi siapapun sebelumnya, bagaimana tingkah lakunya yang dewasa dapat menenangkan orang-orang saat terjadi masalah, bagaimana kebijaksanaannya menginspirasi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan tingkah laku menakjubkan lain yang pernah kita lihat pada dirinya?

 

Bagi orang-orang yang tertarik pada dunia psikologi atau pernah membaca mengenai multiple intelligence atau talent mapping, seharusnya pengetahuan bahwa setiap orang itu berbeda dan punya kelebihannya masing-masing merupakan pengetahuan umum, sehingga sulit untuk menilai manusia hanya dengan melihat tanpa mendalami alasan yang menyebabkan seseorang berlaku seperti itu, bukan? Tapi ini hal yang bagus kok, toh aku bisa membayangkan hambarnya dunia kalo semua orang itu sama, hehe.

 

Oke, lalu apa lagi yang dapat kita nilai?

 

Akankah kita menganggap tinggi hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia selalu menyapa para tetangganya dengan rendah hati, bagaimana orang-orang yang mengenal dia memperlakukannya dengan baik, dan takjub pada interaksi yang terjadi antara dirinya dan lingkungannya yang terkesan selalu positif?

 

Akankah kita takjub pada apa yang telah dia lakukan untuk masyarakat, bagaimana dia mengatur waktunya sedemikian rupa hingga dapat tetap menebar manfaat pada sekitar, apa saja yang dia korbankan untuk kebaikan orang lain, apa saja yang telah dia lakukan dan berikan meski mungkin tidak ada orang yang tahu, dan berbagai aktivitas mengagumkan lain yang kita lihat dari dirinya?

 

Akankah kita terpukau dengan pengetahuan agamanya serta kemampuannya untuk konsisten dalam menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupannya, bagaimana orang-orang belajar dari caranya beribadah, bagaimana dia mengingatkan orang-orang yang salah dan menjelaskan mengapa hal ini dilarang, bagaimana tingkah lakunya terhadap manusia dan alam, dan berbagai hal menakjubkan lainnya yang ada pada dirinya?

 

Entah lah.

 

Sudah hampir 2 dekade aku berada di dunia ini, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana cara menilai manusia?