Memperingati Kepahlawanan

Memperingati kepahlawanan. Tema pelajaran di sebuah sekolah pekan ini. Belum setuju untuk mengangkat ini sebagai tema, tapi kalau protes agak repot juga karena banyak yang telah dipersiapkan untuk ini. Sudah lah, mari meracau disini.

hakikat-perjuangan

Sumber Gambar: http://www.anneahira.com/hakikat-perjuangan.htm

Pahlawan. Kata yang maskulin, menggambarkan sosok-sosok pemberani yang mengusir para penjajah dari negeri ini. Sehingga para lelaki tidak perlu lagi bekerja secara paksa, dan perempuan tidak ada lagi yang diculik untuk dijadikan gundik, bahkan dapat menjadi kaum terdidik. Mulia sekali kedengarannya.

Namun aku punya definisi tersendiri terkait pahlawan. Pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kebaikan untukku. Hanya untukku. Egois? Mungkin. Hei, bukankah tiap orang punya kebebasan mendefinisikan kata-kata? Setidaknya itu definisi dari kebebasan berpendapat yang diatur undang-undang bukan?

Bukan berarti aku menganggap para pejuang di belahan bumi lain seperti Nelson Mandela yang memperjuangkan nasib kulit berwarna di benua afrika sana tidak berharga. Aku mengklasifikasikan mereka sebagai “Inspirasi”. Mereka tidak memperjuangkan kebaikan untukku, tapi menggerakkanku, atau mengarahkanku melakukan sesuatu yang kuanggap baik.

Aku menganggap julukan “Pahlawan” bukanlah julukan yang bisa diberikan pada siapapun, tapi aku juga tidak berpendapat julukan itu sebegitu hebat hingga tidak ada yang mampu mendapatkan julukan tersebut.

Dan aku punya banyak orang yang kujuluki pahlawan. Mulai dari pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan di jaman Bung Karno dahulu sehingga hidupku tidak terjajah saat ini, baik itu panglima perang seperti Jenderal Soedirman, negarawan macam Muhammad Natsir, tokoh pelopor pendidikan macam Ki Hajar Dewantara, dan banyak lagi. Sulit untuk menyebutkan semuanya, Bung Hatta, tiga serangkai, seluruh anggota panitia sembilan yang mempersiapkan piagam jakarta, anggota bpupki dan/atau ppki, semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memerdekakan negara ini. Pahlawan bangsa, orang-orang yang memperjuangkan kebaikan bagi bangsa, tidak heran mereka dianggap pahlawan oleh banyak orang. Dan, sebuah kehormatan untuk menjadi bagian dari yang mereka perjuangkan 🙂

Begitu juga dengan pahlawan yang membuat kehidupan semudah saat ini, dari Isaac Newton yang menyadari mekanika hingga menjadi ilmu yang aplikatif, James Watt dengan mesin uap modernnya yang menciptakan revolusi industri dan berkembangnya teknologi, Alexander Graham Bell yang menemukan telepon, Nikola Tesla yang membuat energi listrik mudah didistribusikan (sangat disayangkan ide wardenclyffe tower belum terwujud, semoga ada yang mau melanjutkan sehingga energi listrik dapat disalurkan secara wireless, kelihatannya akan menarik, haha), dan tokoh-tokoh serupa.

Begitu juga dengan sosok yang menginginkan kebaikan bagi Umat Muslim, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, para Nabi dan Rasul serta para sahabat di jaman Rasulullah, yang menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Ada beberapa orang yang berkata mereka tidak perlu agama untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mengingat kehidupan bangsa Arab di jaman dahulu sebelum Rasululllah diturunkan yang mendapat julukan jahiliyyah, aku ragu akan kebenaran perkataan tersebut. Semudah itu kah membedakan yang baik dan buruk saat keburukan telah merajalela dan tidak ada yang tahu hal atau perbuatan seperti apakah yang baik bagi mereka? Entah lah.

Dan yang paling penting, tentu saja, pahlawan yang berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan jalan yang halal tentunya; Ibu yang sangat peduli terhadap kondisi anak-anaknya, dari kesehatan hingga pendidikan; Para guru yang benar-benar menginginkan murid-muridnya menguasai ilmu yang dia ajarkan, karena dia yakin akan bermanfaat bagi mereka di masa depan nanti; Para sahabat seperjuangan yang saling bahu membahu untuk tujuan yang sama, entah kebetulan memiliki tujuan yang sama atau memang hanya ingin membantu saja; dan berbagai profesi yang tidak terlihat penting tapi sangat memperjuangkan kebaikan kita, seperti tukang bersih-bersih yang menyebabkan kita tidak terkena penyakit dari tumpukan sampah, para petani dan pedagang tempat kita mendapatkan variasi makanan yang bergizi, para supir kendaraan umum yang mengantarkan kita pada tujuan, dan masih banyak lagi.

Mereka semua pahlawan, dan memang jasa mereka dalam kehidupan kita sangat penting. Tapi meski begitu, aku tidak menganggap kita perlu membuat satu hari khusus untuk memperingati mereka.

Menurutku memperingati mereka dapat dilakukan dengam cara yang lebih sederhana. Ingatlah mereka, dan bayangkanlah mereka mengamati semua tindak-tandukmu selama ini. Menurutmu, akan banggakah mereka?

Dan sampai sekarang aku masih merasa malu pada pahlawan nasional, dan Rasulullah, mengingat kemerdekaan dan kebaikan yang mereka perjuangkan untukku lumayan banyak kusalahgunakan dengan hal yang kurang bermanfaat, seperti terlalu lama berada di depan internet ._.

Iklan

Perjuangan

Kelihatannya bulan terakhir perkuliahan memang merupakan titik puncak dari grafik banyaknya masalah dalam satu semester. Seperti saat ini, tugas kelompok pemodelan pencahayaan yang belum ada kemajuan meskipun deadline 12 jam lagi, tugas akhir yang datanya belum selesai diolah, tugas uas yang aku lupa detailnya bagaimana, belum lagi kesibukan organisasi dan akademik formal ataupun informal.

Dan sekarang aku masih berkutat menyelesaikan manga “Giant Killing” dan “Uchuu Kyodai/Space Brothers” di internet, memperbaharui nilai tertinggi dalam permainan 2048, serta mencurahkan isi pikiran disini. Rehat sejenak mengingat daya tahan otak yang tidak mampu diajak berpikir dan bekerja keras terlalu lama.

Dan ada tab terkait berita bunuh diri. Entah, kebanyakan berita bunuh diri yang kubaca selalu disebabkan oleh adanya masalah, stres un, diputusin pacar, dipecat dari pekerjaan, dan lain semacamnya. Aku tidak tahu situasi yang mereka hadapi saat mengambil keputusan itu, tapi, jika bunuh diri dapat menyelesaikan permasalahan, seharusnya area kuburan jauh lebih luas daripada area perumahan bukan?

Ya, hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menyelesaikan masalah, perjuangan untuk hidup layak, perjuangan untuk hidup bahagia, banyak hal yang perlu diperjuangkan. Begitu juga perjuangan untuk tetap berada dalam jalanNya, dan memperoleh hidayahNya. Bukankah banyak hal yang perlu kita perjuangkan?

Setidaknya percayalah, masalah yang Dia berikan pasti dapat kita selesaikan, bukankah Dia Maha Mengetahui kondisi hambaNya?

Golongan Putih

Entah kenapa sekarang sedang tertarik dengan dunia pemilihan umum, baik legislatif negara ataupun politik kampus, entah di kosan, entah di kampus, dimanapun lah. Entah karena waktu yang semakin dekat, entah karena memang topik ini banyak dibicarakan orang, entah karena penasaran, entah karena apa. Siapa juga yang akan peduli pada alasan menulis seseorang? Tidak banyak orang yang mempertanyakan, kelihatannya tidak banyak juga yang penasaran, semua langsung saja menilai, mengritisi, dan lain sebagainya. Entah ingin diperhatikan dengan sok pintar, memang menyampaikan apa yang dia rasa benar atau berharap mendapatkan pencerahan dengan adanya diskusi, hm, sulit untuk menilai mana yang terjadi, toh kita tidak bisa mengetahui isi hati. Jika ada pesan yang perlu disampaikan kepada orang-orang yang cepat emosi, hm, mungkin ilustrasi The Muslim Show yang ini sesuai 🙂

944445_351769594945121_4485503_n

Dan pada umumnya orang-orang terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini, golongan yang akan memilih dan golongan putih. Entah apa alasannya, tapi saat ini golongan putih entah kenapa dikesankan sebagai hal yang negatif, berbagai propaganda sedang disebarluaskan untuk meminimalisir jumlah golongan putih ini, iklan di televisi, grafis di internet, selingan di radio, gambar di koran, dan lain sebagainya. Entah apakah dalam waktu dekat akan ada sms atau e-mail yang masuk ke handphone kita dan menyuruh kita untuk ikut berpartisipasi aktif saat pemilu, hm, mungkin itu akan terjadi di masa depan, meskipun sms dan e-mail juga bergantung pada penggunanya, mau memilih disimpan dan dilaksanakan atau dihapus dan dilupakan. Tergantung individu yang punya kuasa atas handphone tersebut kan? Mungkin yang akan merepotkan adalah jika kedua golongan berdebat sedemikian rupa, seperti gambar di sebelah kanan dalam ilustrasi The Muslim Show lainnya berikut.

1004945_630204987042388_872062915_n

Gambar-gambar yang dibuat karikatur asal Prancis ini memang menarik dan lumayan tepat untuk menyindir, agak disayangkan gambar di bagian pertama masih belum diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, tapi yang tertarik pada ilustrasinya bisa mengunjungi Halaman Facebooknya dengan versi Bahasa Inggris di https://www.facebook.com/themuslimshow atau untuk halaman versi terjemahan Bahasa Indonesia https://www.facebook.com/muslimshowindonesia.

Ada dua buah tulisan yang, kebetulan sedang lumayan ramai dibicarakan oleh beberapa temanku, dan isinya lumayan bagus. Terkait politik dan pemilu, tulisan pertama dibuat oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Dema Fisipol UGM), dan tulisan berikutnya dibuat oleh Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI). Aku lebih suka mencari informasi atau pandangan politik dari universitas lain yang memang punya program studi di bidang perpolitikan, menganggap mereka lebih mengetahui ilmu dan apa yang mereka bicarakan. Tanpa bermaksud menganggap bahwa kajian yang selama ini diselenggarakan di universitasku tidak berguna dan lain sebagainya, hanya saja kadang kita perlu melihat dari sudut pandang lain, selain dari sudut pandang insinyur, ilmuwan, seniman dan bisnis manajemen. Lagipula, orang akan lebih percaya saat belajar dengan orang yang memang mempelajari ilmunya kan?

Berikut adalah link tulisannya:
Notes Facebook Dema Fisipol UGM – [Launching] PEMILU 2014 : Gerakan Menolak Bodoh: https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/launching-pemilu-2014-gerakan-menolak-bodoh/500965723346190

Artikel Semar UI – Tentang Advokasi “Mengawal Pemilu”: http://serikatmahasiswaprogresif.blogspot.com/2014/03/tentang-advokasi-mengawal-pemilu.html

Dan, ada satu artikel lagi yang lumayan menarik terkait golput: http://faldomaldini.tumblr.com/post/79895063350/perdebatan-seputar-golput

Mungkin bagi yang berminat bisa membaca ketiga tulisan tersebut. Kesimpulan yang kutarik dari ketiga tulisan tersebut adalah, masalah yang dihadapi pemilu sekarang bukanlah golput atau tidak, melainkan kesadaran terhadap partisipasi politik diluar pemilu. Orang yang hanya memilih dalam pemilu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mempertanggungjawabkan pilihannya dan orang yang golput tapi hanya berkicau di media sosial perihal kegolputannya atau masalah trivial lainnya sama-sama bukan hal yang diperlukan saat ini. Tertarik untuk mengutip perkataan dari Dema Fisipol UGM pada artikel mereka,

Partisipasi tak boleh diasosiasikan dengan tindakan mencoblos semata. Partisipasi politik, pada hakekatnya, adalah usaha untuk melakukan pembenahan politik. Bicara partisipasi politik berarti bicara soal perjuangan. Dan perjuangan bisa dilakukan lewat 1001 jalan. Namun, terlepas dari cara apapun yang seseorang pilih, perjuangan mensyaratkan satu hal: konsistensi. Perjuangan adalah ketekunan. Memperjuangkan demokrasi adalah ikhtiar tanpa putus-putus untuk terus maju. Memperjuangkan demokrasi adalah sebuah usaha yang jauh dari kata lelah dan bosan; apalagi rasa jijik.

Makna partisipasi semacam inilah yang sesungguhnya harus kita lindungi setiap saat. Ironisnya, jargon-jargon populer semacam ‘5 menit demi 5 tahun’ rawan sekali menggerus makna ini. Jargon ini cenderung melebih-lebihkan peran pemilu. Seolah-olah, hanya dalam lima menit kita bisa mengubah negeri ini. Seolah-olah, rakyat kita hanya diberi waktu lima menit untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini salah kaprah. Pertama, pemilu tak bisa mengubah negeri ini begitu saja. Kedua, pemilu bukan satu-satunya momen di mana kita bisa berbuat sesuatu. Setiap detik, setiap menit, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun adalah momen untuk berdemokrasi. Setiap saat kita bisa berjuang. Slogan ‘5 menit demi 5 tahun’___jika kita ingin melakukan pencerdasan serius___semestinya dikubur di pemakaman umum dan diganti dengan ‘5 tahun untuk 5 tahun’. Pesan moralnya: Tak usah menunggu lima tahun untuk berbuat sesuatu.

Salah kaprah inilah yang harus kita luruskan. Pemilu bukan jin botol yang bisa mengabulkan semua keinginan kita dalam sekali elus. Kita bukan seorang Cinderella yang berubah nasibnya lewat sebuah pesta dansa. Kita tak bisa mengubah negeri ini dengan beberapa kali coblosan. Jika seseorang hendak membenahi demokrasi, hendaknya ia tak cuma terlibat dalam lima menit, melainkan terlibat dalam lima tahun. Jangan ribut sekarang kalau kemudian cuma nongkrong di toilet kampus selama lima tahun sambil bilang pada diri sendiri, “Akulah sang pembela demokrasi”. Tindakan itu delusional.

Jadi, mungkin masalahnya bukan golput atau tidak, tapi terlepas dari apapun pilihan kita (pilihan caleg, capres dan lain sebagainya, termasuk golput), siapkah kita mempertanggungjawabkannya dan terus berusaha memperjuangkannya?

Kesetaraan Warna Kulit

Nelson Rolihlahla Mandela, atau lebih dikenal dengan Nelson Mandela, baru saja meninggal hari kamis kemarin. Beliau merupakan salah satu pejuang anti-apartheid (pejuang yang menolak apartheid-politik yang membedakan perlakuan dan hak warga berdasarkan perbedaan yang ada seperti suku, agama, ras dan warna kulit, dalam kasus yang terakhir disebutkan ini umumnya condong ke menguntungkan warga kulit putih dan merugikan warga kulit hitam). Ya, umumnya pada zaman dahulu, orang berkulit hitam jarang diperlakukan adil oleh para kulit putih, sekolah dan gereja khusus untuk salah satu warna kulit, dan keputusan hukum berat sebelah–kulit hitam selalu salah atau bahkan tidak dianggap layak untuk hidup–setidaknya begitulah penggambaran kondisi zaman dahulu dari “To Kill a Mockingbird” karya Harper Lee-novel terkait kisah hidup anak dari seorang pengacara yang memperjuangkan warga kulit hitam yang dituntut dalam sebuah kasus, meskipun pada kenyataannya dia tidak bersalah, recommended untuk dibaca-dan “Chamber Gas” karya John Grisham. Entah, kadang aku bingung apa penyebab politik apartheid ini. Pada perang dunia kedua para kulit putih menghancurkan Nazi karena mereka menganggap dirinya terlalu superior dibandingkan bangsa lain, sehingga bangsa selain kaum Nazi dianggap tidak layak menghuni dunia ini, yang kemudian akan membawa kejadian seperti Holocaust, pembunuhan massal atau genosida yang dilakukan terhadap sekitar 6juta warga yahudi yang disponsori oleh Nazi, hanya karena mereka berbeda. Dan, setelah Jerman kalah di perang dunia kedua, asumsi bahwa ada satu ras yang sangat dominan dibandingkan dengan ras lain pun belum pudar. Belanda masih sangat berminat untuk kembali menjajah Indonesia dengan melakukan agresi militer, Afrika Selatan dikuasai dan dimanipulasi agar menjadi utopia–negeri impian–yang menguntungkan para warga berkulit putih, dan mungkin masih banyak kejadian serupa di negara lain. Memang saat itu penjajahan belum dihapuskan, tapi kalau melihat alasan awal Nazi, yang menganggap kaumnya lebih hebat daripada kaum-kaum lainnya, agak ironis bukan melihat tidak banyak perubahan yang terjadi setelah Nazi kalah?

Nelson Mandela merupakan pejuang yang melawan kebijakan tersebut. Tidak mudah memang, namun beliau tetap berusaha, dengan berpegang pada prinsipnya, dengan mengutip kata-katanya, “It always seems impossible until its done” dan “I detest racialism, because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man”, perjuangan yang berujung pada adanya kesetaraan antara kaum kulit hitam dan kaum kulit putih. Film “Freedom Writers”–film yang juga sangat layak untuk ditonton, terkait guru pada sekolah yang kondisinya akan disebutkan, dan bagaimana guru tersebut mempersatukan dan mendidik murid-murid yang ada disana–menggambarkan situasi awal saat pertamakali mulai diadakan penyatuan sekolah sebagai penanda kesetaraan semua ras, saat ras latin, asia, amerika dan afrika digabungkan ke satu sekolah setelah sekian lama masuk ke sekolah yang terpisah-pisah, diawali dengan kondisi tiap ras yang masih terkelompokkan dengan masing-masing memegang senjata tersendiri–entah sebagai perlindungan karena khawatir akan terjadi keributan antar ras seperti biasa atau untuk alasan senang-senang saja karena mereka membenci orang-orang ras lain, yang jelas suasana saat itu memang tidak kondusif, sering terjadi perang antar ras dan korban jiwa tidak jarang jatuh. Tapi nilai itu lah yang dibawa oleh Nelson Mandela, jika mereka bisa belajar untuk membenci, mengapa mereka tidak bisa belajar untuk menyukai?

Image

Mungkin ini waktu yang tepat bagi kita untuk belajar, belajar menghormati hak-hak kaum lain, belajar menghargai perbedaan pendapat, dan belajar memperjuangkan apa yang kita anggap benar dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Seperti pelajaran yang didapat dari Atticus Finch pada “To Kill a Mockingbird”, akan tiba saat dimana kamu tidak bisa lari dari sebuah pilihan yang, meskipun kamu akan dibenci oleh banyak orang karena melakukan ini, kamu akan tetap melakukannya karena kamu tahu itu hal yang benar. Dan, bagaimana cara mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Belajar lah, karena selain dapat mengetahui mana yang benar, kita juga dapat mengubah dunia dengan keterampilan dan pengetahuan yang kita dapatkan 🙂

 1451473_717095034978177_1233420700_n

Dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti memperdebatkan tentang apa yang akan dilakukan oleh buruh, dokter, guru, insinyur, ataupun seniman yang baik, apa yang mungkin terjadi pada sekolah yang ideal, bagaimana pemimpin yang baik harus bersikap, dan mulailah menjadi orang yang baik, menjalankan profesi dengan baik dan mulai membentuk kondisi lingkungan yang baik.

Image

Sokola Rimba

Baru aja dari bioskop, dan ternyata ada film bagus yang lagi diputar disana, karya anak bangsa lagi, judulnya sokola rimba. Itu kisah (atau terinspirasi dari kisah ya?) Butet Manurung–atau Saur Marlina Manurung-dalam usahanya merintis Sokola pada hilir (dan kelak merambat ke hulu) sungai makekal di tengah hutan bukit duabelas jambi, dengan orang-orang rimba (orang-orang yang bertempattinggal di dalam hutan tersebut) sebagai muridnya. Kisah yang menarik, sekaligus kritik sosial dan sebuah pandangan yang unik terhadap kehidupan dan realita saat ini.

Oiya, sekedar memberitahu, tulisan ini akan membahas beberapa adegan dalam film tersebut yang kuanggap menarik, dan mungkin ini akan jadi spoiler bagi yang belum menonton, jadi bagi yang ingin menonton filmnya dalam waktu dekat tidak terlalu disarankan membaca artikel ini lebih lanjut. Dan ini juga merupakan perspektif pribadi terhadap sebuah karya, tiap orang berhak punya interpretasi tersendiri kan? 🙂 Yah, sekedar memberitahu, karena bagaimanapun juga ini hanyalah sebuah tulisan, dan meskipun tulisan bisa memotivasi ataupun menjatuhkan, tulisan tidak cukup kuat untuk mengatur apa yang sedang atau akan kalian lakukan bukan?

Keep Out! (Or Enter)

Ada beberapa adegan yang kuanggap menarik dalam film ini. Adegan pertama adalah adegan saat dialog antara warga rimba dan orang kota, dimana orang kota menyerahkan surat perjanjian kepada orang desa untuk ditandatangani oleh orang desa tersebut, padahal orang desa yang ada disana tidak ada yang bisa membaca. Somehow, adegan ini seolah menggambarkan penyalahgunaan ilmu, menggunakan cara yang tidak dimengerti oleh orang lain untuk memenuhi hajat pribadinya sendiri. Entah lah, kesannya seperti fungsi perjanjian telah bergeser, dari mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi parasitisme yang menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lainnya. Ini juga yang menjadi topik diskusiku saat bermain ke jogja (hm, mungkin harusnya yogyakarta karena nama provinsinya D.I.Y, bukan D.I.J., tapi aku lebih suka menyebut kata “jogja” daripada “yogya”, entah mengapa) sekitar 1.5 bulan yang lalu, ketika bahasa inggris unik seorang artis  (atau tokoh mungkin? Ah, apapun lah, toh bukan profesi dia yang akan dibahas disini) yang katanya pernah kuliah di amerika menjadi populer karena tidak mengikuti kaidah yang berlaku secara umum. Menurutku bahasanya lucu, tapi agak miris juga ngeliatnya. Dan itu juga yang menyebabkan percakapan berlangsung, dimulai dari pertanyaan singkatku mengenai apakah tingkah laku orang-orang cerdas saat ini seperti itu–menggunakan bahasa sulit agar dihormati walau tidak dimengerti masyarakat? Bukankah seharusnya orang cerdas mampu berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, atau malah membantu mencerdaskan masyarakat? Percakapannya menarik sih, tapi berhubung kami berdua bukan tipikal orang yang mau memanfaatkan orang lain (setidaknya sampai saat ini, dan semoga tetap terjaga sampai akhir hayat nanti 🙂 ), kami masih belum dapat pandangan langsung dari orang-orang seperti itu.

Oiya, terkait sahabatku ini ada informasi menarik bagi para pembaca yang berdomisili di jogja atau sering main kesana. Sahabatku ini merintis sebuah program bernama “Sedekah Hijau”. Konsepnya sederhana, program ini mengukur emisi motor-motor yang berada di jogja, lalu pengguna yang terdaftar sebagai anggota akan membayarkan sedekah berupa harga dari beda emisi yang dikeluarkan motor pengguna tersebut dengan emisi standar motor sebagai “iuran”. Kemudian uang yang terkumpul akan digunakan untuk menanam bakau untuk penghijauan, lengkapnya bisa dilihat di http://www.sedekahhijau.org/, yang sayangnya udah agak lama gak di-update. Memang program ini gak sedikit yang menentang, tapi orang-orang yang berniat membantu juga nggak setengah-setengah saat diminta “iuran”nya.

Entah kenapa aku selalu takjub kalau ngeliat orang-orang yang terus berjuang meski lingkungannya itu apatis atau destruktif. Dan mungkin masalah yang paling perlu diselesaikan di Indonesia adalah bagaimana cara menyadarkan bahwa kita semua punya masalah. Yaa, dan memang masalah bagi seseorang belum tentu dianggap orang lain sebagai masalah juga. Seperti hasil tes pisa tahun 2012 ini, dimana Indonesia berada di peringkat diatas peringkat terakhir, seperti yang bisa dilihat di http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf atau di webnya langsung, http://www.oecd.org/ atau kalau mau mencoba tesnya (dan aku berencana mencobanya di akhir pekan ini, setelah kuliah berakhir dan mulai masuk pekan uas) http://www.oecd.org/pisa/test/. Tapi bagaimanapun, seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin ini bukan masalah bagi sebagian orang, haha.

Kembali ke topik, adegan kedua yang kuanggap menarik adalah sosok Bungo, anak dari kaum di desa itu yang merasa bahwa perjanjian itu salah dan mereka dirugikan karenanya, namun karena tidak ada yang bisa membaca perjanjian tersebut, tidak ada yang bisa disanggah (mengingat sifat orang rimba, atau mungkin mayoritas orang indonesia, yang segan). Dan karena itu dia membawa surat perjanjian tersebut kemana-mana, seolah mencari orang yang bisa membacakan surat tersebut, atau ingin belajar membaca agar tidak dibodohi orang-orang luar lagi. Agak kontras dengan kondisi pelajar di kota besar yang, kelihatannya sangat identik dengan tawuran, geng motor dan hal-hal negatif lainnya. Bukan berprasangka buruk, memang pelajar indonesia yang berprestasi ada banyak, dengan karya yang unik (cobalah cari info tentang karya siswa atau mahasiswa di lomba-lomba, yang sayangnya tidak banyak yang perkembangannya berkelanjutan sampai sekarang), namun entah kenapa berita buruk itu jauh lebih populer dibandingkan dengan berita-berita baik yang ada. Sayang sih, tapi kayaknya menarik juga kalau orang-orang yang identik dengan berita negatif seperti itu mau meluangkan waktunya untuk menonton film ini, semoga hikmah kenapa belajar itu penting bisa mereka ambil 🙂

Berikutnya adalah adegan saat butet bertengkar dengan atasannya terkait ideologi yang butet pegang dan cara kerja organisasinya. Ini adegan yang paling kusuka, karena aku juga sering berpikiran seperti itu. Saat berkegiatan sosial, dana merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk diperjuangkan, dan salah satu cara memperjuangkannya adalah dengan mencari pendonor yang bisa mendanai. Namun, mendokumentasikan kegiatan seolah bersandiwara dengan menjadi sosok pahlawan yang dibutuhkan semua orang, hm, mungkin hal ini tidak sesuai dengan ideologi para pekerja sosial yang memang ikhlas dan tulus ingin memberi manfaat. Cuma sayangnya, keinginan untuk memberi belum tentu saling melengkapi dengan kenyataan apa yang kita dapatkan. Dan mungkin kita memang perlu belajar untuk menyesuaikan diri agar tetap bisa memberi manfaat dalam situasi seperti apapun 🙂

Dan adegan terakhir yang menurutku menyindir adalah kalimat terakhir mengenai pendidikan, bagaimana pendidikan itu seharusnya mempersiapkan para murid didiknya untuk menghadapi perubahan, bukan sekedar hafalan rumus dan latihan soal, ataupun bekerjasama dalam kecurangan agar lulus dari ujian. Karena faktanya memang seperti itu, anak rimba tidak memerlukan dunia dengan cahaya teknologi ataupun bangunan-bangunan tinggi, mereka dapat hidup dengan tenang di dalam hutan. Mereka juga tidak perlu dikasihani, toh bukan itu masalah mereka. Itu bagus jika kita mencari-cari alasan untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, tapi mungkin bukan alasan yang baik jika kita ingin menganggap diri kita sebagai pahlawan revolusi perubahan dan berbagai julukan keren lannya. Lagipula, hal yang penting adalah bagaimana mereka menghadapi perubahan, seperti digusur akibat rencana pembangunan taman nasional. Mungkin ini juga sindiran bagi kurikulum yang terus berganti namun anak-anak didiknya pun belum terbukti siap dalam menghadapi perubahan dalam bentuk apapun. Yah, semoga kedepannya Indonesia akan jadi lebih baik lagi lah ya 🙂

Selain adegan-adegan tersebut, tempat pengambilan filmya bagus loh, di tengah-tengah hutan gitu, berasa petualang lah, hahaha. Oke, dan secara keseluruhan, menurutku ini film karya anak bangsa yang sangat kurekomendasikan untuk ditonton, apalagi bagi para guru, calon guru, pengamat pendidikan di indonesia, atau bahkan sekedar anak-anak yang peduli atau penasaran mengenai nasib bangsanya. Worth it kok, coba saja buktikan sendiri 🙂

Oiya, sekedar tambahan, maaf karena tidak mencantumkan gambar atau foto apapun dari film tersebut. Bukan kenapa-napa sih, hanya saja karena pemeran utamanya wanita–tanpa bermaksud mendiskriminasi gender, dan aku tidak terlalu berminat untuk mengunggah foto wanita apapun disini melihat ada beberapa situs yang suka main comot foto wanita (entah dari blog, facebook atau apa) dan dimanfaatkan untuk tujuannya yang mungkin belum tentu bener, hehe. Setidaknya karena tidak bisa menghentikan, usaha menjaga kehormatan kaum hawa bisa dilakukan dengan menahan diri dari mengunggah gambar-gambar seperti itu ke internet, bukan? 🙂

Untukmu Wahai Aktivis Dakwah…

Untukmu, Wahai Aktivis Dakwah…

Kepada kalian yang mempertautkan hati di jalan dakwah ….
Kepada kalian yang menjalin ikatan kasih dalam indahnya ukhuwah ….
Kepada kalian yang merindukan tegaknya syari’ah ….
Kepada kalian, ana tulis sebuah surat cinta ….
Karena bersama kalian ku temukan cinta di jalan dakwah ….
Kasih dalam jihad fi sabilillah ….
Uhibbukum FILLAH …. LILLAH ….
Teruntuk para aktivis dakwah,

Dakwah berdiri di atas aqidah yang kokoh, ibadah dan ilmu yang shohih, niat yang lurus, dan iltizam yang kuat
Dakwah adalah proyek besar membangun peradaban umat
Dakwah adalah jalan yang sukar dan terjal
Dakwah adalah jalan yang sangat panjang
Dakwah penuh dengan gangguan, cobaan, dan ujian
Dakwah bukan jalan yang ditaburi bunga dan wewangi kesturi
Dakwah butuh komitmen yang kuat dari pengembannya
Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil, tanpa putus asa, dan putus harapan
Dakwah butuh pengorbanan dan kesungguhan
Dakwah butuh kesabaran dan keistiqomahan

Teruntuk para pejuang,

Sudah teguhkah azzam yang kau pancang ???
Benarkah perjuanganmu karena ALLAH ???
Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu, jika:
Nafsu masih merajaimu
Kilauan permata masih menyilaukanmu
Kesenangan dunia masih melenakanmu
Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu
Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu
Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu!
Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah antum sebagai orang-orang yang beruntung!

Untuk jiwa-jiwa yang merindukan kemenangan
Untuk setiap diri yang mengaku sholih
Untuk mereka yang mengajak kepada jalan yang lurus
Untuk mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan
Ketika jalan yang kalian tempuh begitu sukar, ketika amanah yang kalian emban begitu berat, ketika tanggung jawab yang kalian pikul begitu banyak, terkadang kalian lupa dengan azzam yang kalian tanam sebelumnya, kalian lalai dan terlena. Kalian lupa membersihkannya, membidiknya, mengontrolnya, memuhasabahinya, dan lupa untuk meluruskannya kembali. Apakah dunia yang fana lebih kau cintai daripada kampung akhirat yang kekal abadi?

Duhai para pecinta ALLAH
Duhai yang meneladani Muhammad Rasulullah
Duhai yang menjadikan Al-Quran sebagai pedomannya
Duhai yang berjihad di jalanNya dengan sebenar-benarnya jihad
Duhai yang memburu syahid sebagai cita-cita tertingginya

Dakwah telah memanggilmu!
Umat menunggu pencerahan darimu!
Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela.
Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab.
Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan.
Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya.
Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah?
Apakah ukhuwah hanya berlaku pada segolongan atau sekelompok umat yang bernaung dalam satu jama’ah?

Wahai yang mengaku diri aktivis haroki,

Sudah benarkah aktivitas yang antum jalani dalam menyeru manusia ke jalan ALLAH?
Serulah dirimu sebelum kau menyeru orang lain.
Sudahkah ghiroh yang kau miliki kau poles dengan ilmu yang shohih? Karena semangat saja belum cukup! Teruslah tholabul’ilm..
Sudah efektifkah syuro-syuro antum?
Apa yang ada dalam syuro hanya obrolan sia-sia yang mengundang tawa?
Senda gurau tak bermakna?
Tak ada lagi kesungguhan dan fokus menyelesaikan masalah?
Terlalu banyak basa-basi dan kata-kata tak berarti?
Bagaimana cara antum merumuskan, mengatur strategi jitu, menyusun konsep, menetapkan target, men-SWOT, dan lain sebagainya, sudah syar’ikah?
Sudahkah antum pantau terus niatmu agar tetap lurus di awal, di tengah, sampai ke penghujungnya?
Di sini niat dan tujuan harus selalu di luruskan. Bukan demi keegoisan masing-masing individu atau jama’ah, tapi demi tegaknya Dienullah.
Lalu, bagaimana kenyataannya di lapangan?
Teknis yang telah antum usahakan bersama?
Apakah ada titik-titik noda di dalamnya?
Hijab yang semakin longgar, virus merah jambu yang semakin menyebar, ukhuwah yang kian memudar, barisan yang terpencar. Atau mungkin sms-sms taujih yang menyebar di kalangan ikhwan dan akhowat yang kemudian mengotori hati-hati mereka, menodai niat tulus mereka. Dari kata-katanya, ada rasa kagum pada ghirohnya, salut pada keteguhannya, simpatik pada ke-haroki-annya, dan tersanjung pada perhatiannya. Benih-benih inilah yang akan tumbuh bersemi di hati dan mengefek pada amal sehari-hari.
Mungkin saja fenomena-fenomena itu yang mengurangi keberkahan dakwah sehingga ALLAH ‘Azza wa Jalla belum mau menghadiahkan kemenangan itu pada kita! Karena di samping menyeru kepada kebenaran, tentara-tentara Allah itu juga menggandeng kemaksiatan, apapun bentuknya!

Akhi wa Ukhti ….

Di mana antum berada saat saudara-saudara antum di belahan bumi yang lain sedang megangkat senjata, menghadang tank-tank zionis, melempar bom dan batu kerikil di medan intifadhah?
Di mana antum saat mereka berburu syahid? Yang mereka pertaruhkan adalah nyawa, akhi! Nyawa, ukhti! NYAWA!
Jika darah tak mampu antum alirkan, maka di mana saat saudara-saudara antum sedang bermandi peluh menyiapkan kegiatan-kegiatan dakwah, acara-acara syiar Islam, daurah, bakti sosial, dan seabrek agenda-agenda dakwah yang lain.
Di mana antum saat yang lain sedang membuat publikasi, mendesain dekorasi, menyediakan konsumsi, atau menyebar proposal, mencari dana ke sana ke mari? Semua demi kelancaran acara. Demi syiar Islam! Agar dakwah terus menggaung di berbagai penjuru. Agar Islam tetap berdetak di jantung masyarakat. Masyarakat yang kini telah hilang jati dirinya sebagai hamba ALLAH. Masyarakat yang kini malu mengaku sebagai Muslim. Masyarakat yang kini phobi dengan syari’at Islam. Ya, masyarakat itu kini ada di sekeliling kita. Mereka hadir di tengah-tengah kita. Mereka adalah objek dakwah kita!

Wahai yang masih memiliki hati tempat bersemayamnya iman, apakah ia tidak lagi bergetar kala ayat-ayatNya diperdengarkan?
Apakah ia tak lagi geram ketika melihat kemungkaran terjadi di hadapannya?
Wahai yang memiliki mata yang dengannya antum bias melihat indah dunia, apakah ia tak lagi menangis saat dikabarkan tentang azab, ancaman, dan siksaan?
Apakah ia tak lagi meneteskan cairan hangatnya ketika bangun di tengah malam dalam sujud-sujud panjang?
Apakah ia tak lagi mengalirkan butiran-butiran beningnya ketika melihat saudaranya yang seaqidah didzolimi, dirampas hak-haknya, dilecehkan dan di aniaya, bahkan dibunuh karena mempertahankan diennya?

Ke mana kalian wahai aktivis dakwah?
Di mana kini antum berada?
Sedang bersantai ria di kamar sambil mendengar nasyid kesukaan?
Terbuai di atas kasur dengan bantal empuk dan selimut tebal?
Bersenda gurau bersama kawan-kawan?
Membaca novel-novel picisan?
Atau…sedang melamun memikirkan sang pujaan?

Kepada kalian yang sedang menanti hadirnya belahan jiwa…
Masih perlukah romantisme di saat nasib umat sedang berada di ujung tombak?
Masih perlukah gejolak asmara tumbuh dan bersemi di jiwa?
Membuat otak sibuk memikirkannya, membuat setiap lisan tak henti menyebut namanya, membuat setiap hati tak tenang, resah, dan gelisah menunggu hadirnya.
Masih perlukah virus merah jambu menjangkiti rongga-rongga hatimu? Melemahkan sendi-sendimu, menggoyahkan benteng pertahananmu, merapuhkan tekadmu, menenggelamkanmu dalam samudera cinta mengharu biru.
Masih perlukah semua perasaan itu kau pelihara, kau tanam, kau pupuk, kau siram, dan kau biarkan tumbuh subur dalam hatimu?

Wahai aktivis dakwah, sungguh perasaan itu fitrah! Kau pun sering berdalih bahwa itu adalah anugerah. Sesuatu yang tak bisa dinafikan keberadaanya, tak bisa dielakkan kehadirannya. Cinta memang datang tanpa diundang. Cinta memang tak mampu untuk memilih, kepada siapa dia ingin hinggap dan bersemi. Dia bisa menghuni hati siapaun juga, tak terkecuali aktivis dakwah! Sekali lagi, cinta itu fitrah!
Namun wahai ikhwah yang mewarisi tongkat estafet dakwah, bisa jadi perasaanmu itu menghalangimu untuk mengoptimalkan kerja dakwahmu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengganggu aktivitas muliamu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengusik hatimu untuk mundur dari jalan dakwah yang kau tempuh.
Bisa jadi perasaanmu itu membelenggumu dalam cinta semu.
Dan yang terparah, bisa jadi perasaanmu itu menggeser posisi Rabbmu dalam tangga cintamu.
Tanpa kau sadari!
Yang kau ingat hanya dia!
Yang terbayang adalah wajahnya.
Yang kau pikirkan kala dia menjadi partner dakwahmu seumur hidup, membangun pernikahan haroki, menemanimu membina keluarga dakwah dan menjadikannya abi/ummi dari jundi-jundi rabbani…ah indahnya!
Yang ada di sholatmu, dia.
Yang ada di tilawahmu, dia.
Yang ada di bacaan ma’tsuratmu, dia. Yang ada di benakmu, dia.
Yang ada di aktivitasmu, dia. Hanya ada dia, dia, dia, dan dia!

Benarkah itu wahai saudaraku?
Mari kita jawab dengan serentak….na’udzubillahi
min dzaalik!
Ke mana cinta ALLAH dan RasulNya kau tempatkan?
Di mana dakwah dan jihad kau posisikan?
Astaghfirullahal ‘adziim…
Dakwah hanya dimenangkan oleh jiwa-jiwa bermental baja, bertekad besi, berhati ikhlas. Orang-orang beriman yang mengatasi persoalan dengan ilmu yang shohih dan memberi teladan dengan amal.
Perjalanan panjang ini membutuhkan mujahid/ah perkasa yang mampu melihat rintangan sebagai tantangan, yang melihat harapan di balik ujian, dan menemukan peluang di sekeliling jebakan.
Ke mana militansi yang antum miliki?
Ke mana ghiroh membara yang antum punya?

Pejuang sejati adalah mereka yang membelanjakan hartanya di jalan dakwah, menjual dunianya untuk akhiratnya, mengorbankan nyawanya demi jihad fisabilillah, menggunakan seluruh waktu dan sisa umurnya untuk memeperjuangkan dan mengamalkan Islam.
Dakwah TIDAK BUTUH aktivis-aktivis MANJA!
Dakwah TIDAK BISA DIPIKUL oleh orang-orang CENGENG, MENTAL-MENTAL CIUT, NYALI YANG SETENGAH-SETENGAH, dan GERAK YANG LAMBAN!
Barisan dakwah harus disterilkan dari prajurit-prajurit yang memiliki sifat-sifat seperti di atas (manja, cengeng, mental ciut, nyali setengah-setengah, ragr-ragu, dan lamban bergerak). Karena, keberadaan mereka hanya akan menularkan dan menyebarkan aroma kelemahan, kerapuhan, kepasrahan, dan kekalahan di tengah-tengah barisan.
Dakwah butuh pejuang-pejuang tangguh untuk mengusungnya.
Dakwah butuh orang-orang cerdas untuk memulainya, orang-orang ikhlas untuk memperjuangkannya, orang-orang pemberani untuk memenangkannya!
Antumlah orang-orang terpilih yang mengukir sejarah itu!

http://m.cybermq.com/