Refleksi Kuliah Kerja Nyata

Akhir pekan ini aku kembali mengunjungi tempat KKNku satu setengah tahun yang lalu, sebut saja Desa P. Saat itu aku ditugaskan sebagai ketua kloter 2 energi terbarukan, dengan tugas mengoptimalkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro-Hidro (PLTMH) dan memperluas jaringan distribusi energi listrik yang dihasilkan PLTMH itu agar sampai ke RT berikutnya. Aku dijadikan ketua karena pertimbangan teman sekelompokku, yang kutumbalkan menjadi ketua kelompok saat pendidikan dan pelatihan panitia masa orientasi itb di tahun sebelumnya, entah dia memang berniat balas dendam atau beginilah cara kerja karma. Yang jelas tiba-tiba semua anggota kelompokku setuju untuk menunjukku, ah,kawan-kawanku yang cerdas hanya diam dan tidak mau memimpin, apa kata dunia?

Oke, semua telah terjadi, biar kuceritakan secara ringkas kejadian yang kualami selana KKN waktu itu. Desa P terletak di kabupaten T, dengan waktu tempuh sekitar 4-6 jam dengan menggunakan mobil dari bandung, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar setengah hingga satu jam. Aku masih ingat waktu itu kami sekelompok berangkat dengan sebuah elf, dan aku juga masih ingat kata-kata pertama yang terucap di dalam elf oleh teman sekelompokku saat kami tiba di desa P, “Eh, itu yang jatuh di kaca tadi ular kan?” Hm, oke, setiap daerah punya cara tersendiri dalam memberikan kesan pertama yang mendalam, dan bagi manusia yang memiliki phobia terhadap hewan melata, berbisa atau bertaring atau bahkan ketiganya, desa ini benar-benar berhasil.

Hari pertama diisi dengan orientasi lokasi, pengenalan terhadap ruang dan lokasi tempat-tempat penting di Desa P ini, dari kamar kecil yang bertembok (mayoritas kamar kecil disini merupakan bilik dari bambu, dimana kotoran yang kita keluarkan dapat segera disambar oleh ikan-ikan yang berada di kolam dibawah tempat kita berjongkok, lumayan memberi sensasi yang berbeda, haha), masjid, dan tentu saja, lokasi dari plant pltmh yang akan kita optimasi kinerjanya. Ternyata lokasi pltmhnya cukup jauh, harus ditempuh dengan menyusuri lembah di tengah hutan selama sekitar 20-30 menit. Dan selama dua pekan beraktivitas disana, dua kali ketemu ular pas naik-turun di trayek pltmh. Kali pertama terjadi saat sedang turun ke plant pltmh sendirian, dengan t-shirt lengan pendek, celana selutut dan sandal jepit, selamat dari patokan ular karena refleks melompat dan kecepatan untuk berlari di bidang miring yang menurun (yap, yang kudengar binatang melata memang sulit untuk bergerak jika permukaan tanahnya tidak datar, entah kebenarannya tapi setidaknya ular itu tidak mengikuti, haha), sementara kali kedua saat sedang ramai-ramai di kolam penenang, baru saja naik setelah membersihkan sampah yang menghalangi aliran air yang masuk pltmh saat melihat binatang melata berwarna hitam itu menggeliat berenang melawan arus air. Alhamdulillaah.

Dan saat hari ketiga, kami baru tahu kondisi pltmh yang listriknya dimonopoli oleh seseorang dari desa tersebut, sebut saja pak U. Pak U adalah orang termakmur di desa tersebut, pemilik sebagian besar wilayah sawah, dimana mayoritas warga desa bekerja saat musim panen tiba. Ya, umumnya warga Desa P bekerja serabutan, pada lowongan pekerjaan apapun yang dibuka saat mereka butuhkan, seperti memanen padi dari sawah orang lain atau kuli bangunan, meski ada juga yang memiliki pekerjaan tetap, seperti penghasil furnitur dari kayu atau pedagang. Pak U termasuk golongan kedua, pedagang bahan bangunan dan sembako. Di rumah Pak U pun ditemukan banyak perlengkapan elektronik yang beragam, dari TV 29 inchi, speaker, dvd player, hm, banyak lah perlengkapan elektronik di rumah itu yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang di desa tersebut. Satu-satunya kekurangan di desa itu adalah listrik dari pln yang kualitasnya tergolong kurang bagus, dengan tegangan sekitar 110-150V dimana perlengkapan elektronik di Indonesia umumnya memiliki spesifikasi sekitar 190-250V. Hal ini menyebabkan cahaya yang dihasilkan lampu menjadi redup dan perlengkapan elektronik lebih pendek masa hidupnya. Setidaknya begitu, hingga beberapa tahun yang lalu, saat sekelompok mahasiswa memutuskan untuk membantu masyarakat dengan membangun plant pltmh yang menghasilkan listrik lebih layak. Namun sayangnya, karena waktu liburan yang terbatas, akhirnya penyelesaian proyek itu dilakukan tanpa kehadiran kelompok mahasiswa tersebut. Akibatnya, saat penyelesaian dilakukan, Pak U menggunakan pengaruhnya untuk mendapatkan kuasa lebih dalam menggunakan listrik yang dihasilkan pltmh tersebut. Dan mengingat jumlah perlengkapan elektronik di rumahnya yang sangat beragam, dengan daya pltmh yang hanya terpakai 1.5kW dari 5kW yang dapat dihasilkan, siapa yang tahu apakah ada listrik yang tersalurkan pada warga yang lain atau tidak? Hei, aku tidak punya masalah dengan warga desa yang hidup makmur, tapi warga desa yang memonopoli fasilitas umum itu beda kasus.

Kami pun mengetahui hal tersebut dari beberapa senior yang saat itu sedang membantu kami. Ya, memang agak sulit mempercayai sekelompok mahasiswa semester 4 untuk memegang hal-hal yang sangat teknis, dan memang aku sendiri lebih merasa aman saat mengetahui ada mahasiswa tingkat akhir yang ikut. Namun, entah kenapa urusan malah menjadi tambah runyam saat kelompok kami mengetahui hal itu, dan warga tahu kelompok kami mengetahui hal itu. Tiap rapat koordinasi dengan warga pun diisi dengan berbagai prasangka. Mahasiswa dan warga saling menahan informasi penting yang dapat membantu kedua belah pihak karena rasa tidak percaya. Selain itu, beberapa warga yang punya pengetahuan lebih di bidang teknis pltmh dan memang relatif dan dekat dengan Pak U pun turut mengotak-atik pltmh dan mengganggu kerja kami. Ya, jobdesc bertambah satu, mendistribusikan listrik ke warga sebanyak mungkin secara merata. Dan minimnya pengalamanku pada situasi seperti saat itu mengubaj situasi menjadi perang dingin, kami mengelompokkan warga ke warga yang mendukung ide kami dan warga yang membantu Pak U. Rapat rahasia semakin sering dilakukan, dan umumnya kami bergerak secara gerilya melalui sawah. Kami juga membuat berbagai sandi, seperti “pencari madu” untuk menyebut warga yang lewat dan mungkin punya hubungan dengan Pak U yang mungkin sedang mencari info tentang apa yang kami pikirkan. Ah, harusnya saat SMA dulu aku belajar lebih banyak tentang strategi perang dari temanku yang maniak perang, meminjam beberapa bilah kunai, katana atau shuriken koleksinya juga mungkin berguna untuk melindungi dari binatang liar seperti ular. Siapa yang sangka ilmu perang akan dibutuhkan dalam kkn kali ini?

Dan pada saat giliran kloter kami usai, dengan berbagai hambatan tentunya, kami telah berhasil memperluas jaringan listrik ke rt sebelah, dengan mengecor beberapa bilah bambu untuk dijadikan tiang listrik di beberapa lokasi berdasarkan pada perkiraan luas daerah yang dapat diterangi oleh sebuah lampu LED. Selain itu kami juga sedikit membantu pekerjaan kelompok tema lain, seperti membantu tema infrastruktur membuat jembatan dan membantu tema industri untuk mencicipi makanan. Harus kuakui, wajit susu yang dihasilkan enak. Bekerja dengan kelompok lain di bidang yang berbeda menyenangkan juga.

Kegiatan kkn diakhiri dengan pesta penutupan, dimana tiap tema diminta untuk mementaskan suatu karya selama sepuluh menit. Karya yang kelompok kami pentaskan adalah tarian kecak oleh para laki-laki dan tari shaman oleh para perempuan, dengan koreografi yang diatur sedemikian rupa sehingga para lelaki tidur telentang membentuk lingkaran saat tari kecak usai dan para perempuan memulai tari shamannya di tengah lingkaran tersebut. Uniknya, kami memilih tarian itu tanpa tahu gerakan tari kecak dan shaman yang benar, hanya berdasarkan “perasaan” teman dan irama musik. Hasilnya? Pentas kelompok kami dianggap sebagai pentas terbaik selama dua tahun kkn diadakan di desa ini. Dan agak larut malam setelah pesta berakhir, kami berkumpul di rumah salah seorang warga dan bercerita terkait kesan dan pesan di kelompok kami selama kkn ini. Uniknya, semua menganggap kelompok kecil ini sebagai salah satu kelompok yang kekeluargaannya sangat terasa meski hanya berlangsung selama dua pekan. Entah apakah ini pengaruh diasingkan ke desa terpencil atau pengaruh memiliki musuh bersama, haha, yang jelas banyaknya kejadian dan masalah justru menjadi hal yang menyatukan kelompok kecil ini.

Sebelum kembali ke bandung, kami pun memberitahukan kelompok penerus terkait semua hal yang telah terjadi selama di Desa P ini, warga yang perlu diwaspadai, serta semua proyek yang telah kami lakukan. Wah, menyebarkan kebencian dan permusuhan, kedengarannya nista sekali apa yang kami lakukan kalau dilihat dari sudut pandang itu. Yah, kami memang menganggap hal itu diperlukan agar kelompok penerus kami tidak terlalu banyak membuang waktu di perkenalan warga dan khawatir ada informasi yang dapat disalahgunakan. Salah satu hal yang tidak mengenakkan adalah, saat kami sedang bercerita tentang perilaku buruk warga kelompok Pak U yang melakukan monopoli listrik, datanglah Pak P yang tidak sengaja mendengar isi pembicaraan kami, dan wajahnya pun agak tertunduk lesu saat kami melihatnya, meski beliau masih membalas sapaan kami dengan ceria. Entah apa yang ada ddi pikirannya, tapi aku agak merasa bersalah karena itu.

Sepekan kemudian aku kembali lagi ke desa itu, untuk membantu pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pesantren yang ada di tempat kkn kami bersama kelompok penerus itu. Namun saat itu, ada kejadian lagi dimana bearing dari PLTMH rusak, diperkirakan dirusak oleh manusia melihat bentuk lubangnya dan mengingat tidak ada hewan dengan bagian tubuh yang sekeras besi atau cukup pintar untuk membuka plant dan menggunakan besi untuk melakukan sabotase, sehingga harus menggunakan bearing milik Pak U dulu, menyebabkan beliau punya keuntungan dalam meminta jatah listrik lebih dalam negosiasi pembagian jatah listrik yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Dan karena sudah berada lumayan lama dan punya prasangka yang buruk satu sama lain, kelompok mana lagi yang kami perkirakan merusak bearing tersebut selain kelompok Pak U? Berbagai saran pun terlontarkan, dari argumen yang bisa menahan Pak U untuk mendapat jatah listrik lebih hingga argumen asal untuk merusak pltmh yang kuutarakan. Daripada hanya menjadi sumber masalah dan perpecahan, dan juga mengingat kemungkinan dirusaknya bearing oleh kelompok mereka, apa salahnya meembalas kerusakan dengan kerusakan? Temanku pun berargumen jika kita melakukan itu, apa bedanya kita dengan mereka? Sebetulnya aku ingin menjawab dengan menekankan bahwa kita memang tidak berbeda dengan mereka dan mrempertanyakan apa yang membedakan kita dengan mereka, dan aku pun teringat bahwa justru itu yang ditekankan sejak awal kuliah, kita berbeda, kita adalah mahasiswa, kita harusnya bisa membangun peradaban. Mungkin ada pengaruh antara tingkat pendidikan warga desa tersebut yang umumnya hanya lulusan sd dengan kita yang punya kesempatan untuk kuliah (tanpa bermaksud merendahkan kompetensi orang-orang lulusan sd, seperti yang telah kukatakan, ada juga warga di desa itu dengam keahlian teknis yang jauh lebih baik daripada para mahasiswa), sehingga saat yang kita pikirkan adalah sebuah sistem yang bisa menopang kehidupan semua manusia di desa itu, mungkin yang orang-orang disana pikirkan hanyalah bagaimana mereka dapat hidup layak dengan usaha seminim mungkin. Tapi bagaimanapun, semua ini disebabkan mereka belum mengerti. Dan bahkan Rasulullah pun tidak pernah menghukum seseorang dikarenakan ketidaktahuannya. Jadi apa yang memberiku hak? Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan mendengarkan, keahlian yang saat ini kuanggap sangat bermanfaat dalam berbagai situasi. Cobalah kalau tidak percaya, diam dan mendengarkan untuk memahami situasi yang terjadi dan pola pikir orang yang berpendapat membuat kita lebih memahami situasi dan dapat mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan situasi dibandingkan dengan asal berbicara untuk mempertahankan pendapat yang entah benar atau tidaknya.

Meskipun membantu juga dalam persiapan negosiasi tersebut, sayangnya aku tidak dapat hadir dalam acaranya karena sudah harus kembali lagi ke bandung, tapi dari yang kudengar negosiasinya berjalaan lancar. Bahkan, Pak P tidak meminta jatah listrik sama sekali (yang sampai sekarang membuatku merasa bersalah tiap mengingatnya, jika alasannyya disebabkan percakapan itu), dan Pak U hanya meminta 4.5 Ampere untuk 5 rumah (sekitar 1kW), lumayan sedikit mengingat sebelumnya dia memonopoli lebih dari 7 Ampere untuk 1 rumah. Setidaknya listrik dapat lebih tersebar, dan semua senang bukan?

Setidaknya itu yang ada di pikiranku hingga kemarin, saat aku kembali ke Desa P, meski untuk tujuan yang berbeda, menemani temanku yang menyalurkan sumbangan untuk memperbaiki jalan di desa itu. Dan sepenglihatanku sekarang semuanya sudah berbeda, masjid yang dulu berlantai dan berdinding kayu sekarang sudah berlantai ubin dan berdinding beton, pltmh sudah tidak lagi beroperasi, lampu-lampu led yang disebar untuk menerangi jalan tidak banyak yang terlihat, bambu-bambu yang dijadikan tiang listrik yang hilang atau tumbang dan kelompok pltmhku waktu itu pun sudah tidak lengkap lagi karena ada seseorang yang meninggal di semester lalu karena sakit vertigo berdasarkan apa yang kudengar. Perasaan campur aduk antara hampa karena saat itu aku hanya berangkat bersama seorang temanku dan mengingat kelompok kecilku sudah tidak lengkap lagi serta tidak berguna dan sedih karena semua yang kelompokku kerjakan waktu itu sepertinya sudah tidak memberikan manfaat yang kami harapkan. Industri yang waktu itu dibangun juga tidak berjalan sama sekali sekarang, mungkin hanya jembatan yang masih bermanfaat hingga saat ini.

Dan aku pun terpikir suatu hal yang langsung terucap kepada temanku, “Menurutmu, apakah ini akan terjadi jika kita waktu itu membiarkan monopoli Pak U terus berlangsung?” Dan dia hanya menjawab, “Entahlah, mungkin”. Ya, bagaimanapun setelah dipikir kembali, meskipun Pak U melakukan monopoli terhadap listrik yang dikeluarkan pltmh tersebut, secara tidak langsung beliau juga memonopoli tanggungjawab dan rasa kepemilikan terhadap segala keperluan pltmh itu, dan mungkin itu lah yang hilang setelah negosiasi berlangsung. Tidak ada rasa kepemilikan dan tanggungjawab karena kelompok Pak U menganggap ini sudah bukan urusan mereka, dan warga lain tidak terbiasa dengan tanggungjawab baru ini. Akhirnya semua terabaikan. Ah, jadi ingat aku pernah membaca komentar di kaskus bahwa kadang mahasiswa bertindak tanpa pikir panjang akan akibatnya, seperti saat zaman orde baru dulu, ingat bagaimana kacaunya pemerintahan setelah presiden kedua digulingkan? Memang sekarang berbagai kondisi sudah lebih baik, tapi siapa yang tahu apa saja hal merepotkan yang telah dibereskan untuk mencapai situasi seperti saat ini? Dan perlu diingat, manusia tidak pernah puas, pasti masih banyak tuntutan yang harus dipenuhi.

Entah kenapa kita selalu menuntut adanya perubahan ke arah yang lebih baik, tapi tak jarang kita lupa bahwa arah yang lebih baik tidak hanya diiringi dengan hak yang lebih banyak saja, namun juga kewajiban yang bertambah. Anehnya, kita siap untuk menerima hak lebih, tapi tidak siap untuk menambah kewajiban kita. Mungkin ini perlu dijadikan pr bagi para mahasiswa yang akan melakukan kuliah kerja nyata, agar tidak sekedar melaksanakan jobdesk saja, tapi turut berperan agar masyarakat tahu dan mau membiasakan diri dengan kewajiban yang bertambah untuk masa depan yang lebih baik. Memang bukan hal yang mudah, bahkan 40 hari pun mungkin kurang untuk memenuhi tugas ini, tapi mungkin ini lah hal paling mendasar yang sering kita lupakan. Kita berencana untuk mengubah hidup masyarakat dengan berbagai fasilitas, soft skill, penyuluhan dan berbagai macam hal lainnya, namun pernahkah kita berencana untuk mengubah pola pikir masyarakat yang terlibat bagaimana untuk memanfaatkan fasilitas, soft skill, ilmu dan berbagai hal lainnya setelah mereka mendapatkannya? Mungkin ini salah satu penyebab quotes “Pendidikan yang baik adalah yang mengajarkan orang-orang untuk siap menghadapi perubahan” dari film Sokola Rimba lumayan membekas di benakku. Nyatanya seperti itu bukan, orang-orang yang dapat menghadapi, bahkan memanfaatkan perubahan dengan baik lah yang dapat berpindah kasta dalam waktu singkat. Tapi memang, jika hanya satu orang yang tahu dan menahan ilmunya dari orang lain, orang itu akan maju tapi tidak dengan komunitasnya. Hm, Asean Free Trade dikatakan akan berlangsung pada 2015, jelas akan terjadi perubahan besar. Ada yang mau membantu untuk mempersiapkan komunitas-komunitas yang ada saat perubahan itu terjadi kelak agar kita dapat menjadi masyarakat yang lebih baik? 🙂

Persiapan dan Kenyamanan

Karena ada beberapa urusan, dan berniat untuk silaturahmi dengan beberapa sahabat lama, aku memutuskan untuk kembali ke jakarta sampai hari rabu ini. Entah beruntung atau tidak, aku lupa bahwa kompleks perumahanku memiliki tamu berupa limpahan air yang biasanya datang di tiap bulan januari atau februari. Sulit dimengerti memang siapa yang pantas disalahkan jika sebuah daerah banjir, warga yang suka buang sampah sembarangan dan tidak mampu menjaga daerahnya, pemerintah daerah yang kurang mampu mengurus dan menjaga aturan di daerahnya, pemerintah daerah lain yang mengirimkan air ke sungai di daerah ini, ahli tata kota yang salah merencanakan daerah ini, pembuat tanggul yang karyanya kurang memuaskan karena tanggulnya sedang jebol saat ini, ataukah pemerintah pusat yang bertanggungjawab atas semua hal. Yang jelas, jika pihak-pihak terkait ingin berdebat dan saling menunjuk terkait siapa yang salah, akan memakan waktu lama dan kelihatannya tidak akan menyurutkan air di dalam rumahku yang sudah berada di ketinggian dada (atau mungkin bahu) orang dewasa.

Jika aku punya kuasa dalam menentukan beberapa detail dalam banjir ini, aku ingin membuat air banjirnya menjadi lebih jernih, menghilangkan sampah yang mengapung dan binatang-binatang yang mungkin ada dan berbahaya, dan memperbanyak transportasi air baik dalam bentuk rakit ataupun perahu karet. Setidaknya pemandangannya akan lebih indah, mungkin lebih seperti kota water seven dalam manga one piece, kota yang terendam air. Atau mungkin bisa juga seperti kota apung venezia di italia yang katanya romantis. Mengingat tingkat kegalauan anak muda yang saat ini lumayan tinggi, kelihatannya banjir yang membuat tangerang terlihat seperti venezia dapat mendatangkan pemasukan untuk mengganti kerugian yang mungkin terjadi seperti barang atau kendaraan yang rusak karena tingginya air, cat yang terkelupas serta lumpur yang mengganggu dan agak sulit untuk dibereskan setelah banjir surut. Tapi aku lebih condong menyamakan tangerang dengan kota water seven daripada venezia karena diceritakan bahwa penduduk water seven tahu kapan air akan meninggi dan mengatur semuanya saat itu. Yah, dalam hal itu kita agak serupa memang.

Aku dapat berandai-andai juga bukan karena aku tidak khawatir ataupun siap dalam menghadapi banjir, tadi malam pun aku baru masuk ke kamar tidur jam 1.15 karena sibuk mengawasi tinggi air di selokan, sambil menonton anime “Sword Art Online” yang didownload adikku (yang, kuakui cerita dan grafisnya bagus, tapi kurang layak ditonton anak-anak) untuk menghabiskan waktu. Itu pun disebabkan air di selokan telah turun, siapa yang sangka tidak lama setelah itu akan ada bagian tanggul yang jebol dan ketinggian air meningkat drastis?

Dan kondisi pun mengharuskanku bangun lagi sekitar 2 jam setelah mulai terlelap, untuk memindahkan barang dan menyusunnya agar muat di dalam ruang rumah yang sempit. Dan aku agak menyalahkan diriku sebagai gamers yang kurang menekuni permainan Tetris di zaman dahulu. Karena permainan itu melatih kecepatan berpikir dan kecerdasan ruang untuk menaruh benda, cocok bagi kondisi seperti ini. Atau mungkin ada yang berminat membuat permainan simulasi memindahkan barang dalam rumah ke tempat tinggi dan lantai 2 saat banjir agar pelajarannya lebih nyata dan menarik? Ketinggian air pun meningkat dalam laju yang lumayan cepat, dari sematakaki hingga hampir sepinggang atau sekitar semeter dalam kurang dari sejam. Dan sekarang terpaksa mengungsi di lantai 2, dengan berbagai persiapan terkait makanan kering seperti roti untuk dimakan dalam waktu dekat, serta mie instant dan biskuit jika banjir surut lebih lama dari yang diperkirakan. Sudah lama tidak hidup dengan gaya hidup survivor seperti ini, meski agak repot tapi seru sih jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Dan mungkin ini lah pentingnya persiapan, meminimalisir kekhawatiran dan memperkirakan semua skenario yang mungkin terjadi. Adanya persiapan yang cukup akan sangat membantu dalam banyak hal, dari persiapan dalam hal yang (mungkin) diidam-idamkan seperti pernikahan, hingga hal yang (mungkin) ditakuti seperti kematian. Saat persiapan itu cukup, tidak perlu khawatir apakah hal tersebut akan terjadi besok, lusa, tahun depan atau bahkan dekade depan, yang jelas kita siap. Memang bohong jika aku mengatakan persiapan menghadapi banjir ini adalah hal yang kurindukan atau hal yang menyenangkan, tapi aku lumayan senang karena dapat berada disini dan membantu keluarga sekarang. Setidaknya lebih baik begini daripada hanya mendapat kabar ketinggian air saat membuang-buang waktu di bandung, khawatir tapi tidak dapat berbuat apapun.

Ada beberapa yang bertanya kenapa keluargaku masih bertahan disini meski tahu punya tamu tahunan seperti ini. Lagipula, jika perlu melakukan persiapan yang merepotkan tiap tahun, apakah hidup kita nyaman? Tapi setidaknya bagiku rumah ini telah menjadi tempat yang nyaman, sudah lumayan kenal dan dikenal para tetangga, lingkungan yang familiar, dan berbagai faktor lain yang membuatku nyaman untuk tetap berada disini. Kenyamanan tidak berarti tidak ada masalah, kadang itu berarti kita siap menghadapi masalah untuk dapat terus berada di tempat tersebut dengan nyaman. Ini berlaku untuk berbagai hal, dari tempat tinggal, jenis kendaraan pribadi, pendamping hidup, jenis teknologi komputer atau handphone yang digunakan dan lain sebagainya. Entah lah, hanya pemikiran asal dari korban banjir yang selalu asal, haha.

Yah, yang jelas sekarang nikmatilah musibah ini, musibah menghapus dosa muslim kan? 🙂

Rambu Bencana BDSG

Bencana merupakan kondisi yang terjadi saat hal-hal di sekitar kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, bahkan dalam tahapan lebih lanjut kondisi tersebut dapat membahayakan diri kita. Kita tentu tidak bisa memprediksi segala hal di sekitar kita, siapa yang dapat memprediksi besok akan ada 2 ekor lebah yang lewat tepat di samping telinga kita, ular berbisa yang melata lima meter dari kaki kita atau motor yang melaju kencang di sebelah kiri kita saat kita akan menyebrang jalan? Siapa juga yang dapat memperkirakan dengan jelas pengaruh dari perubahan iklim seperti pemanasan global, kapan bencana alam seperti tsunami dan angin topan terjadi, atau kapan manusia lalai sehingga timbul kebakaran dan banjir? Dan siapa yang yakin kalau hal-hal seperti itu benar-benar terjadi, kita akan dapat melaluinya dengan baik? Justru karena hal-hal seperti ini sangat sulit untuk diprediksi, kita harus mempersiapkan diri agar kita dapat melalui bahaya yang mungkin terjadi dengan sebaik mungkin. Yah, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, bukan?

Untuk menghadapi bencana, mungkin diperlukan rambu-rambu khusus seperti rambu parkir yang diletakkan di berbagai tempat, untuk mengingatkan mengenai apa yang perlu dilakukan saat terjadi bencana. Bagaimanapun, akan sulit untuk berpikir jernih saat kita berada dalam keadaan panik. Selain itu, Indonesia juga jarang melakukan simulasi terkait bagaimana kita perlu bersikap apabila suatu saat terjadi bencana, sehingga mungkin tidak banyak yang tahu apa yang dapat kita lakukan kalau bencana terjadi. Panik dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan, hm, kelihatannya bukan kombinasi yang baik.

Ada artikel menarik terkait rambu bencana yang didesain oleh kak susan, salah satu anggota dari organisasiku saat ini, Bandung Disaster Study Group, atau lebih dikenal dengan sebutan BDSG, dikutip dari http://beritagar.com/p/rambu-sederhana-hadapi-bencana-ala-bdsg-10738, kelihatannya krisantidesain merupakan nama usaha pribadinya. Rambu bencana ini dibuat dengan mendesain ulang kartu permainan “Bosai Duck”, permainan terkait siap siaga menghadapi bencana yang diciptakan oleh Profesor Yamori dari Universitas Kyoto, yang kelihatannya sudah lumayan dikenal oleh organisasi ini. BDSG juga lumayan sering menggunakan gerakan-gerakan seperti ini untuk permainan atau sekedar ice breaking dalam kegiatannya memberikan edukasi di bidang kebencanaan pada usia muda, dan kegiatan-kegiatan dari BDSG dapat dilihat pada webnya, http://bandung-disaster-study-group.blogspot.com/. Dan berikut contoh dari beberapa rambu yang telah didesain ulang tersebut, beserta dengan penjelasannya:

Image

Saat gunung meletus, segera lah berlari menjauh dari sungai ataupun lembah. Kenapa? Karena benda yang keluar saat letusan gunung merapi seperti lava dan piroklastik akan mengalir turun dari gunung merapi menuju ke daerah yang lebih rendah. Jika aliran benda tersebut mencapai sungai, tentunya benda tersebut akan mengikuti aliran sungai dan menuju ke daerah yang lebih rendah, dan mungkin berujung ke laut. Hindari juga daerah lembah, apalagi bentuk cekungan seperti danau, karena besar kemungkinan daerah seperti itu akan dilalui aliran lava atau piroklastik juga. Selain itu, ada baiknya juga kalau kita berada di luar rumah untuk menutupi bagian tubuh kita dengan benda seperti tas atau berlindung dari arah letusan, ada kemungkinan batu yang terlontar dari letusan gunung merapi sedang mengarah ke kita. Menggunakan masker juga bukan ide yang buruk, ingat sms terkait partikel kaca yang tersebar di udara–yang dapat merusak paru-paru jika terhirup dalam jumlah banyak–saat gunung merapi baru saja meletus?

 9_2-lebah_l

Bila ada lebah, diam lah dan jangan bergerak, apa lagi bergerak secara tiba-tiba. Lebah memiliki pergerakan yang lumayan cepat, dan jika kita bergerak secara tiba-tiba, ada kemungkinan lebah tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengubah arah terbangnya dan justru itu yang menjadi awal dari bencana. Ada beberapa kawan yang mengatakan kalau ada lebah berkatalah (atau mungkin berbisiklah) “pahit… pahit… pahit…” agar lebah tersebut menjauh, dan meskipun ini masih diragukan kebenarannya, ada kah yang pernah mencoba dan tersengat?

9_3-tsunami_l

Kalau ada tsunami, segeralah berlari ke tempat yang lebih tinggi. Bagaimanapun, setelah terjadi tsunami, ombak akan kembali ke lautan dengan daya tarik yang sangat besar, dan daripada bertahan dari terjangan dan tarikan ombak dengan berpegang di pohon atau bertahan di atap masjid, segera menjauh ke tempat tinggi yang tidak terjangkau tsunami kedengarannya lebih mudah dilakukan. Sejarah mencatat tsunami terbesar yang terjadi di Alaska pada tahun 1958 memiliki ketinggian 1720 kaki atau sekitar 524 meter, dapat dilihat di http://geology.com/records/biggest-tsunami.shtml. Jika data tersebut memang tepat, dengan memasukkan galat perhitungan untuk berjaga-jaga, maka ins syaa Allah kita akan aman jika berada di daerah dengan ketinggian di atas 600 meter, bukan? Tapi jika di data yang tidak tercatat (mungkin jauh sebelum manusia mulai menyadari pentingnya mendokumentasikan hal-hal yang pernah terjadi) ternyata ada tsunami dengan ketinggian diatas 2000 meter, yah, mari kita berdoa agar dilindungi Yang Maha Kuasa. Tapi jika itu memang terjadi, tetap saja berlari ke tempat yang tinggi, setidaknya kemungkinan untuk selamat di daerah tinggi lebih besar dibandingkan kemungkinan untuk selamat di daerah yang lebih rendah 🙂

9_4-nyeberang_l

Masih perlukah rambu ini dijelaskan? Bukankah sudah jelas bahwa kita perlu melihat ke sekeliling kita apakah ada kendaraan yang sedang melaju dengan cepat atau tidak untuk memungkinkan kita dapat menyeberang jalan? Hm, mengingat kasus yang baru-baru ini terjadi antara truk dan kereta, mungkin ada baiknya jika pengemudi kendaraan yang ingin menyeberang rel kereta juga menengok ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu untuk memastikan semua berlangsung aman. Bagaimanapun juga, meskipun dalam kondisi dimana hanya satu pihak yang patut disalahkan sebagai penyebab kecelakaan, korban yang timbul mungkin saja akan berasal dari kedua belah pihak kan? Apa salahnya berhati-hati sedikit? 🙂

9_6-asap_l

Rambu terakhir yang dimasukkan ke dalam artikel tersebut dan yang akan kubahas di artikel ini, mungkin akan di-update lain kali saat aku mendapatkan gambar lengkap rambu-rambu yang ada. Jika banyak asap, gunakan penutup hidung dan mulut. Karena asap umumnya merupakan produk hasil dari pembakaran, yang umumnya mengandung kombinasi dari karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna. Karbon monoksida akan terikat oleh hemoglobin di darah kita sehingga kadar oksigen yang dikelola dalam tubuh berkurang dan metabolisme tubuh terhambat, dan karbon monoksida juga dapat menyebabkan keracunan akibat karbon monoksida yang masuk kedalam tubuh merusak sel-sel di dalam tubuh, dan dampak keracunan karbon monoksida bagi tiap orang mungkin saja berbeda. Sementara bertambahnya karbon dioksida akan mengurangi kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh, dapat menyebabkan efek lemas dan sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Itu pun baru membahas karbon dioksida saja, mungkin masih banyak partikel senyawa lain dalam asap itu yang dapat membahayakan tubuh manusia. Atau bahkan mungkin ada partikel kaca yang terselip seperti yang telah dijelaskan pada rambu gunung berapi diatas.

Yah, bagaimanapun tidak ada salahnya mempersiapkan untuk kemungkinan terburuk kan?

Sokola Rimba

Baru aja dari bioskop, dan ternyata ada film bagus yang lagi diputar disana, karya anak bangsa lagi, judulnya sokola rimba. Itu kisah (atau terinspirasi dari kisah ya?) Butet Manurung–atau Saur Marlina Manurung-dalam usahanya merintis Sokola pada hilir (dan kelak merambat ke hulu) sungai makekal di tengah hutan bukit duabelas jambi, dengan orang-orang rimba (orang-orang yang bertempattinggal di dalam hutan tersebut) sebagai muridnya. Kisah yang menarik, sekaligus kritik sosial dan sebuah pandangan yang unik terhadap kehidupan dan realita saat ini.

Oiya, sekedar memberitahu, tulisan ini akan membahas beberapa adegan dalam film tersebut yang kuanggap menarik, dan mungkin ini akan jadi spoiler bagi yang belum menonton, jadi bagi yang ingin menonton filmnya dalam waktu dekat tidak terlalu disarankan membaca artikel ini lebih lanjut. Dan ini juga merupakan perspektif pribadi terhadap sebuah karya, tiap orang berhak punya interpretasi tersendiri kan? 🙂 Yah, sekedar memberitahu, karena bagaimanapun juga ini hanyalah sebuah tulisan, dan meskipun tulisan bisa memotivasi ataupun menjatuhkan, tulisan tidak cukup kuat untuk mengatur apa yang sedang atau akan kalian lakukan bukan?

Keep Out! (Or Enter)

Ada beberapa adegan yang kuanggap menarik dalam film ini. Adegan pertama adalah adegan saat dialog antara warga rimba dan orang kota, dimana orang kota menyerahkan surat perjanjian kepada orang desa untuk ditandatangani oleh orang desa tersebut, padahal orang desa yang ada disana tidak ada yang bisa membaca. Somehow, adegan ini seolah menggambarkan penyalahgunaan ilmu, menggunakan cara yang tidak dimengerti oleh orang lain untuk memenuhi hajat pribadinya sendiri. Entah lah, kesannya seperti fungsi perjanjian telah bergeser, dari mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi parasitisme yang menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lainnya. Ini juga yang menjadi topik diskusiku saat bermain ke jogja (hm, mungkin harusnya yogyakarta karena nama provinsinya D.I.Y, bukan D.I.J., tapi aku lebih suka menyebut kata “jogja” daripada “yogya”, entah mengapa) sekitar 1.5 bulan yang lalu, ketika bahasa inggris unik seorang artis  (atau tokoh mungkin? Ah, apapun lah, toh bukan profesi dia yang akan dibahas disini) yang katanya pernah kuliah di amerika menjadi populer karena tidak mengikuti kaidah yang berlaku secara umum. Menurutku bahasanya lucu, tapi agak miris juga ngeliatnya. Dan itu juga yang menyebabkan percakapan berlangsung, dimulai dari pertanyaan singkatku mengenai apakah tingkah laku orang-orang cerdas saat ini seperti itu–menggunakan bahasa sulit agar dihormati walau tidak dimengerti masyarakat? Bukankah seharusnya orang cerdas mampu berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, atau malah membantu mencerdaskan masyarakat? Percakapannya menarik sih, tapi berhubung kami berdua bukan tipikal orang yang mau memanfaatkan orang lain (setidaknya sampai saat ini, dan semoga tetap terjaga sampai akhir hayat nanti 🙂 ), kami masih belum dapat pandangan langsung dari orang-orang seperti itu.

Oiya, terkait sahabatku ini ada informasi menarik bagi para pembaca yang berdomisili di jogja atau sering main kesana. Sahabatku ini merintis sebuah program bernama “Sedekah Hijau”. Konsepnya sederhana, program ini mengukur emisi motor-motor yang berada di jogja, lalu pengguna yang terdaftar sebagai anggota akan membayarkan sedekah berupa harga dari beda emisi yang dikeluarkan motor pengguna tersebut dengan emisi standar motor sebagai “iuran”. Kemudian uang yang terkumpul akan digunakan untuk menanam bakau untuk penghijauan, lengkapnya bisa dilihat di http://www.sedekahhijau.org/, yang sayangnya udah agak lama gak di-update. Memang program ini gak sedikit yang menentang, tapi orang-orang yang berniat membantu juga nggak setengah-setengah saat diminta “iuran”nya.

Entah kenapa aku selalu takjub kalau ngeliat orang-orang yang terus berjuang meski lingkungannya itu apatis atau destruktif. Dan mungkin masalah yang paling perlu diselesaikan di Indonesia adalah bagaimana cara menyadarkan bahwa kita semua punya masalah. Yaa, dan memang masalah bagi seseorang belum tentu dianggap orang lain sebagai masalah juga. Seperti hasil tes pisa tahun 2012 ini, dimana Indonesia berada di peringkat diatas peringkat terakhir, seperti yang bisa dilihat di http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf atau di webnya langsung, http://www.oecd.org/ atau kalau mau mencoba tesnya (dan aku berencana mencobanya di akhir pekan ini, setelah kuliah berakhir dan mulai masuk pekan uas) http://www.oecd.org/pisa/test/. Tapi bagaimanapun, seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin ini bukan masalah bagi sebagian orang, haha.

Kembali ke topik, adegan kedua yang kuanggap menarik adalah sosok Bungo, anak dari kaum di desa itu yang merasa bahwa perjanjian itu salah dan mereka dirugikan karenanya, namun karena tidak ada yang bisa membaca perjanjian tersebut, tidak ada yang bisa disanggah (mengingat sifat orang rimba, atau mungkin mayoritas orang indonesia, yang segan). Dan karena itu dia membawa surat perjanjian tersebut kemana-mana, seolah mencari orang yang bisa membacakan surat tersebut, atau ingin belajar membaca agar tidak dibodohi orang-orang luar lagi. Agak kontras dengan kondisi pelajar di kota besar yang, kelihatannya sangat identik dengan tawuran, geng motor dan hal-hal negatif lainnya. Bukan berprasangka buruk, memang pelajar indonesia yang berprestasi ada banyak, dengan karya yang unik (cobalah cari info tentang karya siswa atau mahasiswa di lomba-lomba, yang sayangnya tidak banyak yang perkembangannya berkelanjutan sampai sekarang), namun entah kenapa berita buruk itu jauh lebih populer dibandingkan dengan berita-berita baik yang ada. Sayang sih, tapi kayaknya menarik juga kalau orang-orang yang identik dengan berita negatif seperti itu mau meluangkan waktunya untuk menonton film ini, semoga hikmah kenapa belajar itu penting bisa mereka ambil 🙂

Berikutnya adalah adegan saat butet bertengkar dengan atasannya terkait ideologi yang butet pegang dan cara kerja organisasinya. Ini adegan yang paling kusuka, karena aku juga sering berpikiran seperti itu. Saat berkegiatan sosial, dana merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk diperjuangkan, dan salah satu cara memperjuangkannya adalah dengan mencari pendonor yang bisa mendanai. Namun, mendokumentasikan kegiatan seolah bersandiwara dengan menjadi sosok pahlawan yang dibutuhkan semua orang, hm, mungkin hal ini tidak sesuai dengan ideologi para pekerja sosial yang memang ikhlas dan tulus ingin memberi manfaat. Cuma sayangnya, keinginan untuk memberi belum tentu saling melengkapi dengan kenyataan apa yang kita dapatkan. Dan mungkin kita memang perlu belajar untuk menyesuaikan diri agar tetap bisa memberi manfaat dalam situasi seperti apapun 🙂

Dan adegan terakhir yang menurutku menyindir adalah kalimat terakhir mengenai pendidikan, bagaimana pendidikan itu seharusnya mempersiapkan para murid didiknya untuk menghadapi perubahan, bukan sekedar hafalan rumus dan latihan soal, ataupun bekerjasama dalam kecurangan agar lulus dari ujian. Karena faktanya memang seperti itu, anak rimba tidak memerlukan dunia dengan cahaya teknologi ataupun bangunan-bangunan tinggi, mereka dapat hidup dengan tenang di dalam hutan. Mereka juga tidak perlu dikasihani, toh bukan itu masalah mereka. Itu bagus jika kita mencari-cari alasan untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, tapi mungkin bukan alasan yang baik jika kita ingin menganggap diri kita sebagai pahlawan revolusi perubahan dan berbagai julukan keren lannya. Lagipula, hal yang penting adalah bagaimana mereka menghadapi perubahan, seperti digusur akibat rencana pembangunan taman nasional. Mungkin ini juga sindiran bagi kurikulum yang terus berganti namun anak-anak didiknya pun belum terbukti siap dalam menghadapi perubahan dalam bentuk apapun. Yah, semoga kedepannya Indonesia akan jadi lebih baik lagi lah ya 🙂

Selain adegan-adegan tersebut, tempat pengambilan filmya bagus loh, di tengah-tengah hutan gitu, berasa petualang lah, hahaha. Oke, dan secara keseluruhan, menurutku ini film karya anak bangsa yang sangat kurekomendasikan untuk ditonton, apalagi bagi para guru, calon guru, pengamat pendidikan di indonesia, atau bahkan sekedar anak-anak yang peduli atau penasaran mengenai nasib bangsanya. Worth it kok, coba saja buktikan sendiri 🙂

Oiya, sekedar tambahan, maaf karena tidak mencantumkan gambar atau foto apapun dari film tersebut. Bukan kenapa-napa sih, hanya saja karena pemeran utamanya wanita–tanpa bermaksud mendiskriminasi gender, dan aku tidak terlalu berminat untuk mengunggah foto wanita apapun disini melihat ada beberapa situs yang suka main comot foto wanita (entah dari blog, facebook atau apa) dan dimanfaatkan untuk tujuannya yang mungkin belum tentu bener, hehe. Setidaknya karena tidak bisa menghentikan, usaha menjaga kehormatan kaum hawa bisa dilakukan dengan menahan diri dari mengunggah gambar-gambar seperti itu ke internet, bukan? 🙂