Random: Pilihan dalam Pendidikan (2)

Kemarin merupakan hari pendidikan nasional, 2 Mei 2014. Mungkin kemarin merupakan hari yang biasa-biasa saja, hari yang spesial karena alasan tertentu atau hari yang tidak terlalu menyenangkan. Dan bagiku, yang terakhirlah yang terjadi, akibat dari ujian komprehensif yang tidak berjalan dengan terlalu lancar. Merayakan hari pendidikan dengan membuat mempertanyakan kegunaan dan metode yang diterapkan institusi formal saat ini, quite a way to celebrate it :v

 

Melanjutkan racauan sebelumnya, pilihan dalam pendidikan, dari sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat seekor ikan menjadi seekor ikan?”. Mari lupakan sejenak melupakan makna harfiah dari pertanyaan tersebut dan ubah sedikit pertanyaannya menjadi, “Apa yang membuatmu menjadi dirimu?”

 

Semua makhluk memiliki keunikannya tersendiri, ciri khas yang tidak dimiliki orang lain.Ikan berbeda dengan gajah. Gajah berbeda dengan harimau. Harimau berbeda dengan manusia. Meski ada beberapa ilmuwan yang memaparkan tetap ada kesamaan, tapi tak bisa disangkal juga bahwa ada perbedaan diantara semua makhluk.

 

Kemudian, mengingat ada premis yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah unik, maka mungkin tiap manusia juga memiliki keunikannya tersendiri. “Tiap manusia berbeda”. Mungkin kalimat serupa sudah terdengar berulang kali di telinga kita hingga kita kategorikan sebagai sebuah kalimat yang klise bagi sebagian orang, kalimat yang terlalu sering digunakan, kadang hingga sampai pada suatu titik dimana perkataan tersebut kehilangan maknanya.

 

Mungkin itu salah satu alasan mengapa nasihat yang paling mengena merupakan nasihat yang hanya diucapkan pada waktu yang tepat, bukan yang diucapkan berulang-ulang. Setidaknya itu menurut pendapatku sih, tapi memang aku lebih mudah mengingat nasihat seperti itu, dan cenderung malas mengingat nasihat yang dikatakan berulang kali. “Nanti juga akan diingatkan lagi”, “Ah, itu lagi, itu lagi”, “Iya, iya, tahu, tahu”, uniknya, aku bisa langsung memikirkan berbagai respon negatif yang sangat mungkin muncul dalam menghadapi nasihat yang diberikan berulang-ulang. Berbeda dengan nasihat yang diberikan pada waktu yang tepat. Tidak ada argumen, tidak ada sanggahan, hanya diam dan menerima. Yah, mungkin nasihat bukan hal yang baik untuk dibuat klise.

 

Kadang aku berpikir bahwa kata “klise” tidak hanya dapat disematkan pada sebuah kutipan atau kalimat. Dalam beberapa kasus, pendidikan yang tidak disertai dengan pemaknaan pun dapat menjadi klise. Ya, bagaimanapun, waktu hidup kita yang kita habiskan di sekolah tidak lah sedikit. 12 tahun untuk pendidikan dasar, ditambah dengan 9 tahun atau mungkin lebih jika ditambah dengan pendidikan lanjutan di level universitas. Wajar jika ada saja keluhan bosan untuk belajar, bosan masuk sekolah, bosan untuk mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Kadang rutinitas memang membosankan.

 

Dan disini lah gunanya pemaknaan. Untuk kembali menyemangati diri saat ini terjadi. Kita belajar karena ingin mengetahui hal-hal baru yang kelak dapat kita manfaatkan untuk kebaikan kita atau orang lain, atau hal-hal yang memang membuat kita penasaran. Dan untuk menemukan apa yang membuat kita penasaran, mungkin kita juga perlu mengenal diri kita, minat kita, bakat kita, sifat kita, beserta segala keunikan kita. Dengan menemukan minat kita, mungkin kita akan lebih mudah menentukan pilihan apa yang ingin kita pelajari secara mendalam, yang pada gilirannya akan berlanjut pada menentukan program studi apa yang sesuai untuk kita masuki kelak. Dalam proses menemukannya, siapa saja dapat berperan, baik diri sendiri, sekolah, orangtua, sahabat atau kelompok sepermainan dan semacamnya. Dan di sisi lain, mungkin kita juga dapat lebih mengenal diri sendiri karenanya. Misalnya, untuk mendeskripsikanku? Banyak kata yang bisa digunakan, seperti penggalan lirik lagu Wishing Well karya Blink 182, “I’m a little bit shy. A bit strange and a little bit manic”, dengan minat yang timbul dari sebuah pengalaman kurang menyenangkan di bidang energi terbarukan. Oke, mungkin bukan pribadi yang keren atau gagah, tapi tidak masalah. Tiap orang berbeda, baik sikap, minat, dan lain sebagainya, jadi, apa kata yang kau anggap tepat untuk mendeskripsikanmu dan apa minatmu?

 

Hal lain yang mungkin perlu diperhatikan adalah kondisi belajar di institusi yang ingin kita masuki. Ya, mungkin ada baiknya kita memeriksa bagaimana kondisi pendidikan di sebuah universitas sebelum memutuskan untuk masuk. Salah seorang juniorku pernah berminat untuk menyusup ke kelas di sebuah universitas karena penasaran akan kondisi perkuliahan saat dia sedang tidak sekolah. Yah, entah legal atau tidak, tapi kelihatannya seru juga jika kita memang ingin lebih tahu tentang kondisi sebuah universitas. Mungkin mengetahui seperti apa sikap kita juga akan membantu dalam menentukan institusi formal tujuan kita. Tidak selalu harus yang ternama, tapi dimana kira-kira yang akan menjadi lokasi terbaik bagi kita untuk belajar dan berkembang. Bagaimanapun, pilihan yang kita buat untuk pendidikan kita adalah pendidikan yang akan kita jalani kelak kan? Mungkin agak merepotkan, tapi semoga saat dijalani ternyata menyenangkan.

 

Yang jelas, jika kita memilih untuk melanjutkan pendidikan, cobalah cari hal yang menarik bagi kita dalam pilihan kita itu. Setidaknya dengan begitu, pilihan tersebut tidak hanya menjadi sekedar pilihan klise yang kehilangan maknanya 🙂

Random: Pilihan dalam Pendidikan

Dalam kehidupan, banyak pilihan yang harus dibuat, entah itu bagi diri kita, atau bagi hal-hal di sekitar kita. Dari sekedar hal sehari-hari seperti memilih baju apa yang ingin dikenakan ke kampus, memilih menu atau tempat sarapan atau memilih mau menggunakan laptop dengan operating system yang mana, hingga hal yang krusial seperti mau kuliah dimana atau jurusan apa, memilih siapa yang akan dijadikan pendamping hidup, memilih antara bekerja atau lanjut studi setelah lulus kuliah, memilih lokasi tujuan untuk mencari nafkah atau melanjutkan studi itu, serta memilih kapan akan mulai membuka buku untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian kompre sesi 2 besok siang (iya, jadi mau kapan, laks?).

Sebagaimana yang diceritakan adikku dua pekan lalu, yang menyatakan bingung ingin memilih jurusan atau universitas tujuan kuliah kelak. Saat kutanya ketertarikan terhadap pelajaran pun dia bingung. Ah, pelajaran sekolah saat ini memang jarang ada yang menarik. Jelas ada beberapa siswa yang tertarik, tapi dari puluhan juta siswa yang ada, berapa banyak yang tertarik pada setidaknya satu mata pelajaran?

Andai kita sempat diperlihatkan bagaimana bentuk dan cara kerja hovercraft saat sekolah dulu, mungkin jumlah peminat di bidang fisika (khususnya pada topik medan magnet dan material superkonduktor) saat ini jauh lebih banyak, dan mungkin tidak lama lagi kita punya mobil terbang (atau setidaknya, mengambang. Seperti prinsip kereta super cepat yang bergerak dengan gaya magnet sehingga menghilangkan gaya gesek yang memperlambat laju. Yah, setidaknya tinggal memikirkan bagaimana cara menghentikan benda melayang dalam jumlah banyak, kecelakaan karena tidak bisa mengerem jelas akan menurunkan daya tarik ide ini).

Mungkin juga akan lebih banyak murid yang tertarik terhadap sejarah jika tiap kita berkunjung ke museum tidak ada resume yang perlu dibuat, waktu yang digunakan untuk mencari informasi dan menuliskannya jauh lebih banyak daripada waktu yang digunakan untuk melihat-lihat dan bertanya-tanya apa ini, siapa itu, serta kapan, dimana, mengapa dan bagaimana itu terjadi. Sisi menarik museum sebagai dokumentasi dari perkembangan peradaban tidak terlihat, minat untuk menggali informasi secara mandiri tidak muncul, dan aku tidak menyukai museum hingga sma, setidaknya hingga bertemu dengan sahabat yang punya minat tinggi di bidang persenjataan dan strategi militer. Obrolan tentang bagaimana cara menggunakan keris untuk menghabisi musuh. Dulu aku menganggap keris hanya jenis dagger yang kurus dan berlekuk-lekuk, tidak berbeda dengan dagger lainnya (maklum, sebagai gamer yang suka permainan rpg, action, logic dan strategi, senjata yang ada di game hanyalah dagger). Lalu temanku itu bercerita tentang bagaimana jika keris ditusukkan ke perut, kemudian diputar 90 derajat dan dicabut, pengaruhnya fatal. Tekstur keris yang ramping mampu membuatnya menyelip di sela-sela organ dalam lawan, memutarnya dan mencabutnya dapat menyebabkan organ dalam lawan terburai keluar tubuhnya. Oke, bahasan yang sedikit sadis, tapi kupikir kita perlu mengetahui keunggulan, kelemahan dan cara pakai tiap senjata agar jika suatu saat kita berada dalam kondisi diancam suatu senjata kita dapat menentukan tindakan terbaik. Itu juga mengubah pandanganku dan menarik minatku terhadap orang-orang zaman dahulu, keris jauh lebih berbahaya daripada dagger.

Mungkin aku juga tidak akan tertarik masuk ke jurusan fisika jika tidak dijebak menjadi perwakilan olimpiade sains fisika dan menemukan sisi menarik dari fisis dunia ini saat sma dahulu (terkait prestasi, yaah, satu tahap sebelum masuk tingkat nasional memang, tapi sebagai posisi terakhir dari semua yang sampai di tahap itu, hahaha). Karena itu, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan adikku, aku sendiri mengakui pelajaran saat sekolah tidak cukup menarik untuk membuat orang-orang yang belajar tertarik, setidaknya di sekolah yang pernah menjadikanku murid disana.

Tekanan diminta masuk ke perguruan tinggi ternama pun turut menjadi masalah yang sama sekali tidak membantunya, harus masuk sini, harus masuk situ, semua agar masa depannya lebih terjamin. Benar kah? Entah, sejak berada di salah satu perguruan tinggi ternama itu aku lumayan sering mendengar komentar “Dahulu nama kampus ini dibesarkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini, sekarang dimana nama mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini lah yang dibesarkan oleh kampus ini” atau komentar senada lainnya. Lupa tepatnya kapan, kalau tidak salah di momen seperti saat menyindir kurangnya minat mahasiswa universitas ini dalam beberapa jenis perlombaan. Oh, jangan salah, meski ada beberapa lomba yang tidak diminati kampus ini tidak miskin prestasi, bagaimanapun kita (yang setidaknya saat masa orientasi dahulu dijuluki) putra-putri terbaik bangsa berada disini. Tapi, dahulu kampus ini juga bukan merupakan apa-apa. Karena itu apa salahnya masuk ke kampus yang saat ini belum jadi apa-apa? Jika dia nyaman terhadap situasi disana, siapatahu dia jadi pelopor perubahan disana. Meningkatnya level universitas lain adalah hal yang bagus bagi negeri ini bukan?

Lagipula, benarkah dengan kita menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ternama itu berpengaruh terhadap kesuksesan masa depan kita? Aku skeptis.

Memang di universitas ini jumlah orang yang hebat tidak sedikit, tapi di universitas lain di kota yang sama juga kelihatannya jumlahnya tidak kalah banyak. Jika kita dapat menjadi baik dengan bergaul di lingkungan berstandar tinggi, lingkungan seperti itu dapat dibentuk di universitas manapun. Atau cobalah bergabung di organisasi luar kampus yang punya lingkungan serupa. Saat ini pun aku lebih memilih aktif di organisasi luar kampus, dengan sebagian besar anggotanya sudah menyelesaikan pendidikan strata-1. Menganggap lingkungan ini lebih profesional dan tidak kalah bermanfaat dengan organisasi yang ada di dalam kampus, sembari berharap sikap-sikap yang tidak profesional seperti deadliners bisa berubah perlahan disini.

Aku tidak menyangkal kelebihan berupa fasilitas yang relatif bagus serta jaringan yang ada di perguruan tinggi ternama merupakan daya tarik yang sangat menggoda untuk melanjutkan perkembangan disini. Tapi dalam beberapa kasus, kita tidak perlu terdaftar sebagai mahasiswa disana untuk menikmati fasilitas dan koneksinya. Cobalah perbanyak berkenalan dengan mahasiswa di jurusan dengan fasilitas yang kalian ingin gunakan, siapatahu kelak kalian bisa berkenalan dengan kepala progam studinya atau organisasi kemahasiswaan yang punya akses terhadap fasilitas tersebut. Dan siapatahu kalian berkesempatan untuk menggunakan fasilitasnya. Setidaknya itu pengalaman temanku yang tidak terdaftar tapi dapat menggunakan fasilitas di sebuah unit. Mungkin agak ilegal, tapi jika ada kemauan, akan terbuka jalan kan?

Aku juga tidak menyangkal bahwa perusahaan sangat mungkin lebih tertarik menjadikan mahasiswa cendekia dari universitas ternama sebagai tenaga kerjanya. Tapi aku juga mengenal beberapa senior dengan nilai indeks prestasi yang, hm, rata-rata lah. Namun beliau aktif di berbagai tempat dan membangun banyak koneksi sehingga beliau memiliki akses terhadap lumayan banyak informasi, sembari berargumen bahwa dia akan mengandalkan koneksinya untuk mencari lowongan close recruitment, saat perusahaan hanya mencari beberapa orang saja, dan umumnya berdasarkan rekomendasi orang dalam. Pada akhirnya, yaah, setahuku akhirnya dia mendaftar melalui jalur biasa, dan dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan energi multinasional. Yah, mungkin indeks prestasi dan asal perguruan tinggi bukan satu-satunya faktor penentu rezeki. Lagipula, soal rezeki sudah ada yang mengatur kan? Mungkin tinggal masalah seberapa keras kita mau mengambil rezeki yang ditakdirkan untuk kita saja 🙂

Jelas tiap orangtua menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Dan tiap anak juga berhak memilih lingkungan terbaik dimana mereka dapat belajar dan berkembang menjadi apapun yang mereka inginkan. Tapi mungkin tidak selamanya juga asal memilih jurusan di perguruan tinggi ternama merupakan pilihan yang bijak. Saat aku baru masuk universitas pun, jumlah sahabatku yang mengeluh merasa dirinya salah jurusan tidak sedikit. Kayaknya lebih cocok di mesin lah, kayaknya lebih cocok di desain lah, kayaknya lebih cocok di kedokteran lah, dan umumnya hal ini berujung pada penerimaan terhadap takdir atau usaha untuk pindah ke tempat atau program studi lain. Meski memang mungkin karir kita tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pelajari saat kuliah, mengingat bahwa kita akan terjebak untuk belajar selama 4 tahun (atau mungkin lebih) lagi, mengapa tidak sekalian belajar tentang apa yang kita sukai? 🙂

Masih ada banyak yang menarik untuk dibahas terkait hal ini, meracau tentang kehidupan selalu seru meski tidak pernah jelas apakah racauan ini ada implikasinya atau tidak pada kehidupan, hahaha. Jadi ingat sebuah pertanyaan yang, menurutku, orang yang bisa menjawabnya mungkin tidak akan terlalu repot untuk mempermasalahkan pilihan-pilihan dalam kehidupannya, baik itu pendidikan atau apapun.

What makes you, you?
Apa yang membuat kamu menjadi dirimu?

————————————————————————————————

Mungkin lain waktu akan dibahas lagi, sekarang waktunya fokus ke ujian besok dahulu 😀

Golongan Putih

Entah kenapa sekarang sedang tertarik dengan dunia pemilihan umum, baik legislatif negara ataupun politik kampus, entah di kosan, entah di kampus, dimanapun lah. Entah karena waktu yang semakin dekat, entah karena memang topik ini banyak dibicarakan orang, entah karena penasaran, entah karena apa. Siapa juga yang akan peduli pada alasan menulis seseorang? Tidak banyak orang yang mempertanyakan, kelihatannya tidak banyak juga yang penasaran, semua langsung saja menilai, mengritisi, dan lain sebagainya. Entah ingin diperhatikan dengan sok pintar, memang menyampaikan apa yang dia rasa benar atau berharap mendapatkan pencerahan dengan adanya diskusi, hm, sulit untuk menilai mana yang terjadi, toh kita tidak bisa mengetahui isi hati. Jika ada pesan yang perlu disampaikan kepada orang-orang yang cepat emosi, hm, mungkin ilustrasi The Muslim Show yang ini sesuai 🙂

944445_351769594945121_4485503_n

Dan pada umumnya orang-orang terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini, golongan yang akan memilih dan golongan putih. Entah apa alasannya, tapi saat ini golongan putih entah kenapa dikesankan sebagai hal yang negatif, berbagai propaganda sedang disebarluaskan untuk meminimalisir jumlah golongan putih ini, iklan di televisi, grafis di internet, selingan di radio, gambar di koran, dan lain sebagainya. Entah apakah dalam waktu dekat akan ada sms atau e-mail yang masuk ke handphone kita dan menyuruh kita untuk ikut berpartisipasi aktif saat pemilu, hm, mungkin itu akan terjadi di masa depan, meskipun sms dan e-mail juga bergantung pada penggunanya, mau memilih disimpan dan dilaksanakan atau dihapus dan dilupakan. Tergantung individu yang punya kuasa atas handphone tersebut kan? Mungkin yang akan merepotkan adalah jika kedua golongan berdebat sedemikian rupa, seperti gambar di sebelah kanan dalam ilustrasi The Muslim Show lainnya berikut.

1004945_630204987042388_872062915_n

Gambar-gambar yang dibuat karikatur asal Prancis ini memang menarik dan lumayan tepat untuk menyindir, agak disayangkan gambar di bagian pertama masih belum diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, tapi yang tertarik pada ilustrasinya bisa mengunjungi Halaman Facebooknya dengan versi Bahasa Inggris di https://www.facebook.com/themuslimshow atau untuk halaman versi terjemahan Bahasa Indonesia https://www.facebook.com/muslimshowindonesia.

Ada dua buah tulisan yang, kebetulan sedang lumayan ramai dibicarakan oleh beberapa temanku, dan isinya lumayan bagus. Terkait politik dan pemilu, tulisan pertama dibuat oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Dema Fisipol UGM), dan tulisan berikutnya dibuat oleh Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI). Aku lebih suka mencari informasi atau pandangan politik dari universitas lain yang memang punya program studi di bidang perpolitikan, menganggap mereka lebih mengetahui ilmu dan apa yang mereka bicarakan. Tanpa bermaksud menganggap bahwa kajian yang selama ini diselenggarakan di universitasku tidak berguna dan lain sebagainya, hanya saja kadang kita perlu melihat dari sudut pandang lain, selain dari sudut pandang insinyur, ilmuwan, seniman dan bisnis manajemen. Lagipula, orang akan lebih percaya saat belajar dengan orang yang memang mempelajari ilmunya kan?

Berikut adalah link tulisannya:
Notes Facebook Dema Fisipol UGM – [Launching] PEMILU 2014 : Gerakan Menolak Bodoh: https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/launching-pemilu-2014-gerakan-menolak-bodoh/500965723346190

Artikel Semar UI – Tentang Advokasi “Mengawal Pemilu”: http://serikatmahasiswaprogresif.blogspot.com/2014/03/tentang-advokasi-mengawal-pemilu.html

Dan, ada satu artikel lagi yang lumayan menarik terkait golput: http://faldomaldini.tumblr.com/post/79895063350/perdebatan-seputar-golput

Mungkin bagi yang berminat bisa membaca ketiga tulisan tersebut. Kesimpulan yang kutarik dari ketiga tulisan tersebut adalah, masalah yang dihadapi pemilu sekarang bukanlah golput atau tidak, melainkan kesadaran terhadap partisipasi politik diluar pemilu. Orang yang hanya memilih dalam pemilu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mempertanggungjawabkan pilihannya dan orang yang golput tapi hanya berkicau di media sosial perihal kegolputannya atau masalah trivial lainnya sama-sama bukan hal yang diperlukan saat ini. Tertarik untuk mengutip perkataan dari Dema Fisipol UGM pada artikel mereka,

Partisipasi tak boleh diasosiasikan dengan tindakan mencoblos semata. Partisipasi politik, pada hakekatnya, adalah usaha untuk melakukan pembenahan politik. Bicara partisipasi politik berarti bicara soal perjuangan. Dan perjuangan bisa dilakukan lewat 1001 jalan. Namun, terlepas dari cara apapun yang seseorang pilih, perjuangan mensyaratkan satu hal: konsistensi. Perjuangan adalah ketekunan. Memperjuangkan demokrasi adalah ikhtiar tanpa putus-putus untuk terus maju. Memperjuangkan demokrasi adalah sebuah usaha yang jauh dari kata lelah dan bosan; apalagi rasa jijik.

Makna partisipasi semacam inilah yang sesungguhnya harus kita lindungi setiap saat. Ironisnya, jargon-jargon populer semacam ‘5 menit demi 5 tahun’ rawan sekali menggerus makna ini. Jargon ini cenderung melebih-lebihkan peran pemilu. Seolah-olah, hanya dalam lima menit kita bisa mengubah negeri ini. Seolah-olah, rakyat kita hanya diberi waktu lima menit untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini salah kaprah. Pertama, pemilu tak bisa mengubah negeri ini begitu saja. Kedua, pemilu bukan satu-satunya momen di mana kita bisa berbuat sesuatu. Setiap detik, setiap menit, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun adalah momen untuk berdemokrasi. Setiap saat kita bisa berjuang. Slogan ‘5 menit demi 5 tahun’___jika kita ingin melakukan pencerdasan serius___semestinya dikubur di pemakaman umum dan diganti dengan ‘5 tahun untuk 5 tahun’. Pesan moralnya: Tak usah menunggu lima tahun untuk berbuat sesuatu.

Salah kaprah inilah yang harus kita luruskan. Pemilu bukan jin botol yang bisa mengabulkan semua keinginan kita dalam sekali elus. Kita bukan seorang Cinderella yang berubah nasibnya lewat sebuah pesta dansa. Kita tak bisa mengubah negeri ini dengan beberapa kali coblosan. Jika seseorang hendak membenahi demokrasi, hendaknya ia tak cuma terlibat dalam lima menit, melainkan terlibat dalam lima tahun. Jangan ribut sekarang kalau kemudian cuma nongkrong di toilet kampus selama lima tahun sambil bilang pada diri sendiri, “Akulah sang pembela demokrasi”. Tindakan itu delusional.

Jadi, mungkin masalahnya bukan golput atau tidak, tapi terlepas dari apapun pilihan kita (pilihan caleg, capres dan lain sebagainya, termasuk golput), siapkah kita mempertanggungjawabkannya dan terus berusaha memperjuangkannya?

Meninggalkan Shalat?

Meninggalkan Shalat?

Haha, masih terkait shalat tapi agak beda konteks. Gambarnya ngena. Bagaimanapun juga, saat seorang yang mengaku dirinya muslim dan memilih islam sebagai jalan hidupnya, tapi masih belum bisa menepati konsekuensi dan dari pengakuannya itu, perkataan seperti ini dari orang lain kelihatannya sangat mungkin terjadi.
Yah, tiap pilihan perlu dipertanggungjawabkan bukan? 🙂