Persatuan

Entah mengapa, tiap tahun pemilu selalu begini. Semua orang tiba-tiba menjadi negarawan yang merasa handal dan pasti benar, entah memang percaya diri, entah dipengaruhi sahabat atau kenalan yang oknum partai tertentu, entah memang punya pengetahuan yang memadai dan kapabilitas untuk mengambil peran itu, tapi sulit membedakan semua itu kalau kita tidak mengenal orangnya. Dan entah mana pendapat yang valid dan mana yang tidak, entah, mungkin karena data yang diambil salah, diolah dengan cara yang kurang tepat atau dimanipulasi demi kepentingan suatu golongan. Kadang aku menyayangkan politik yang terlihat seperti perang, penuh dengan dusta dan tipu daya. Sebagaimana di pelajaran tadi, seorang sahabatku menceramahiku banyak hal saat aku mengutarakan kemungkinan golput, entah, antara informasi para calon legislatif yang terlalu sulit untuk ditemukan atau usahaku mencarinya yang kurang keras. Dia menyarankan memilih partai yang mudharatnya paling sedikit dan aku menjawab–selain karena belum menemukan oknum yang dapat kupercaya–belum menemukan data yang valid terkait mudharatnya, mengingat aku telah mencari beberapa data serupa dan data yang ter-blowup merupakan data yang dimanipulasi. Semacam black campaign, partai dengan jumlah koruptor terbanyak datanya banyak ditambahkan (ada beberapa oknum dengan posisi yang seharusnya tidak valid untuk dimasukkan ke dalam data), dan partai dengan jumlah koruptor tersedikit datanya banyak yang disembunyikan (tidak dimasukkan ke dalam perhitungan), pengolahan datanya pun tidak tepat, ada beberapa situs yang membahasnya, jelas lah datanya seperti itu, padahal data aslinya tidak terlalu jauh berbeda. Perang pemikiran, saat kebohongan diupayakan menjadi fakta yang dipercaya semua orang. Hebat dan rumit bukan?

Dan kalau ditanya apakah aku menyukai pemilu, tidak. Aku sama sekali tidak menyukainya. Karena tahun saat pemilu terjadi adalah tahun dengan sumpah serapah dan caci maki terbanyak, setidaknya begitulah yang kulihat pada lini masa akun media sosialku. Entah, kadang aku merasa orang indonesia memiliki sifat fanatisme yang berlebih, entah itu dari kegiatan seperti tawuran antar sekolah, geng motor, suporter sepak bola, organisasi dengan latar belakang tertentu, atau bahkan seperti yang ramai saat ini, partai politik ditambah golput. Bahkan aku pernah melihat sebuah riset terkait perceraian bahwa salah satu dari 5 besar hal yang menyebabkan perceraian adalah perbedaan pandangan politik, aku belum sempat melakukan validasi lagi terhadap riset itu dan berapa tingkat ketidakpastiannya, tapi kelihatannya aku bisa mengerti kenapa ayahku memilih untuk tidak terlibat saat ibuku memutuskan masuk dunia politik. Ah, ini selalu menjadi tahun dimana orang-orang berkicau kebaikan partainya, entah tahu benar apa yang dipikirkan oleh petinggi partainya, entah ditipu mereka, atau entah percaya buta. Orang-orang yang golput? Oh, kadang massa golput tidak berbeda dari sebuah partai politik dalam urusan cela-mencela golongan lain, bahkan bisa lebih parah. Bagaimana bisa kita membedakan jika kita hanya mengetahui apa yang tampak? Dan sebagai orang yang tidak menyukai keributan dan pertengkaran, kenapa aku perlu menyukainya? Masalah nasib negara 5 tahun ke depan? Oh, percayalah, negara tidak akan berubah jika ini terus berlanjut.

Harusnya tiap warga negara pernah mendengar kalimat “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi tetap satu juga. Kalimat yang bangsa ini pegang sejak zaman dahulu, yang mempersatukan sabang sampai merauke. Meski kita berbeda bahasa, suku, ras, budaya, agama dan lain sebagainya, kita tetap satu juga, bangsa indonesia. Ironisnya, saat ini justru persatuan tersebut tidak lagi terlihat, dengan orang-orang punya golongan tertentu yang tidak disukai, dan menyebarkan ketidaksukaannya terhadap organisasi tersebut. Entah dari aktivitasnya, orang-orangnya, dan lain sebagainya, padahal dalam kehidupan bernegara, orang-orang tersebut juga bagian dari negara. Jadi ingat perkataan Chief Nyanta saat Shiroe berniat untuk membangun sebuah guild dalam anime Log Horizon, “Saat kita berada di Debauchery Tea Party (komunitas mereka yang lama), semua hal disana terasa menyenangkan karena semua orang berusaha membuatnya begitu, termasuk kau dan aku”. Dan bukankah memang begitu, terlepas dari apakah itu sebuah komunitas, organisasi, ataupun negara, bukankah perlu partisipasi aktif dan niat baik dari seluruh komponen dan manusia yang terlibat untuk membuatnya nyaman? Aku masih ragu sistem saat ini mampu membuat situasi seperti demikian. Entah apakah ini pengaruh dari sistemnya yang kurang sesuai karena masih punya kekurangan atau manusia yang menjalankannya kurang baik karena kurang paham maksud dari sistemnya.

Padahal harusnya kita bersatu, tapi entah kenapa sepertinya tidak mudah. Aku punya banyak pertanyaan terkait tingkah laku manusia saat ini, di negeri ini.

Pekan lalu saat salah satu stasiun televisi menyiarkan berita tentang hilangnya pesawat MH370, lagu “Leaving on a Jetplane” diputar sebagai latar belakang berita tersebut. Selain itu video kesedihan keluarga yang diputar pun selalu sama dan berulang-ulang. Entah apakah kejadian ini perlu didramatisir untuk meningkatkan rating acara tersebut, tapi apakah menayangkan berita seperti itu merupakan cara yang tepat untuk bersimpati dengan para korban? Sering kita melihat kesedihan dan cerita dari korban suatu musibah ditayangkan di berita, tapi aku penasaran akan dua hal. Apakah berita ditayangkan dengan mempertimbangkan perasaan korban? Dan, apakah proses peliputannya berlangsung dengan baik atau perlu merugikan beberapa pihak? Entah dengan kode etik jurnalistik, aku belum membaca semuanya dan kurang mengetahui isi lengkapnya. Tapi tidak masalah kan jika sebuah berita hanya menyampaikan fakta, tanpa embel-embel opini yang dapat menjerumuskan pada kesimpulan yang salah?

Belum lama ini saat masa kampanya pemilu, ada partai berbasis islam yang melakukan kampanye di dalam tempat yang dilarang dalam Undang-Undang (googling sekilas, katanya UU nomor 8 tahun 2012 yang mengatur pemilu ya?), di daerah kampus, dan di dekat rumah ibadah. Hal ini langsung memicu banyak jenis argumen, dari komentar lucu-labil-nan galau karena kebetulan yang jadi model perempuan semua seperti “Aduhhh ukhti nya lucu skali” atau bahkan “ukhti, jika aku suamimu di masa depan, terus terang aku cemburu wajah indahmu dilihat oleh banyak orang :3 #eh” (epik sih ini, hahahaha), komentar yang menyindir–dan sebaiknya tidak dibahas karena jelas-jelas menyerang partai ini langsung, malas terlibat black campaign, hehe–secara frontal, komentar yang mengingatkan macam “Masjid harus terbebas dari segala bentuk transaksi jual beli apalagi transaksi kepentingan politik” dan “Diingetin/tegur langsung aja atuh, kasian itu ukhti-ukhti mejeng di profil akhi-akhi kayak kamu haha”, atau komentar miris macam “Tuhan aja dijadikan komoditas, masa’ gak sekalian rumahNya?” dan “adek2 tersebut di ingatkan saja tentang kampus yang sebaiknya bersih dari segala macam unsur kampanye politik praktis”. Entah digubris atau tidak. Contoh diambil karena dari pengamatan sementara, sindiran seperti ini yang paling ringan, dalam kasus beberapa partai lain sih sudah masuk tingkatan cacian yang terlewat parah.

Di saat kita harus bersatu pun, kenapa menjaga perasaan orang lain terkesan sangat sulit untuk dilakukan? Apakah para pencaci terlalu vokal, para oportunis mampu memanfaatkan situasi secara profesional, atau karena orang-orang yang baik terlalu lama mendiamkan? Entah yang mana, tapi, tidak salah kan orang-orang yang menyimpan asa akan persatuan bangsa, dari partai apa pun, suporter klub bola mana pun, atau golongan mana pun, dan bergerak bersama demi kebaikan bangsa di masa depan?

Negara dan Agama

Ah, aku sedang ingin meracau. Belum lama ini membaca sebuah tulisan berjudul “Negara (Tanpa) Agama”, tentang bagaimana kehidupan muslim di Amerika sana, yang katanya tidak se”seram” gambaran di beberapa media. Karena aku belum pernah melihat kondisi disana, aku tidak bisa berkomentar banyak, meski memang kuakui sulit untuk percaya pada media–terutama di Indonesia–saat ini, setidaknya itu kesimpulanku setelah mengunjungi jepang dan mendengar cerita dari muslim di prancis (saat Muslim Show berada di Bandung).

 

Di masa perpolitikan seperti ini, sering kita dengar “Negara dan Agama itu tidak boleh dipisahkan”. Ada benarnya kalau mau melihat ke zaman dahulu, selagi Negara dan Agama masih bersatu di jazirah Arab, tapi sekarang entah kenapa kalimat tersebut lebih terkesan berbau kepentingan politik partai berbasis islam yang menjadi umat mayoritas di nusantara, apa lagi saat pemilu semakin dekat seperti ini. Tapi, saat ini aku terpikir hal lain, apakah kita memisahkan Agama dengan Negara? Ambil contoh yang sederhana saja, masjid. Saat ini mayoritas masjid yang pernah kutemui hanyalah sebuah bangunan besar tempat untuk wudhu dan shalat. Aku tidak mengatakan semuanya begitu, tapi harus diakui bahwa kebanyakan seperti itu. Aku mencoba melihat peran masjid pada jaman Rasulullah dahulu di internet.

 

Dan hasilnya, well, bisa ditebak, banyak. Salah satu situs yang mungkin dapat dijadikan rujukan adalah http://pajatangka.wordpress.com/2012/08/05/fungsi2-masjid-pada-zaman-rasulullah-saw/ dan http://suffahstudy.blogspot.com/2011/02/peranan-masjid-di-zaman-awal.html?m=1, artikelnya setidaknya mencantumkan nama ulama yang dijadikan rujukan, meskipun sebetulnya memasukkan kata kunci peran masjid jaman Rasulullah pun juga akan menemukan banyak artikel serupa 🙂

 

Salah satu hasil yang kudapat menyatakan bahwa peranan masjid pada zaman Rasulullah intinya adalah sebagai tempat ibadah, pusat pemerintah, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi. Oke, kira-kira berapa banyak masjid yang mencakup hal ini? Jika kita melihat masjid-masjid di dalam sekolah, mencakup kantin, tempat pendidikan dan riset (apalagi jika ekskul KIR di sekolah tersebut aktif), budaya, kesehatan (PMR dan DoCil), hm, cuma kekurangan fungsi pusat pemerintahan sepertinya, berbeda dengan beberapa masjid di luar sekolah yang kutemui. Tapi memang, itu adalah asumsi jika sekolah lah yang dimiliki oleh masjid, bukan masjid yang dimiliki oleh sekolah. Dan itu pun hanya terjadi jika ada masjid di dalam sekolah, agak miris karena sempat mendengar kabar bahwa masjid di beberapa sekolah telah dihancurkan. Sudah agak lama memang, tapi tetap saja tindakan tersebut patut disayangkan.

 

Dalam pendapat idealku, aku akan mengajukan Masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan, Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat dan Masjid Salman di ITB sebagai masjid termirip dengan kriteria masjid jaman dahulu tersebut. Aku yakin masih banyak masjid serupa namun belum kutemukan (atau aku lupa) saja. Aku memilih ketiga masjid itu karena dari apa yang kulihat, masjid itu hidup. Tidak hanya hidup dari orang-orang yang shalat, berzikir dan kajian islam saja, tapi juga hidup dengan berbagai kegiatan lainnya.

al-azhar

Masjid Al Azhar Kebayoran Baru

Sumber Gambar: http://simbi.bimasislam.com/simas/public/upload/images/medium/al-azhar.jpg

Masjid Al Azhar terletak di kompleks Sekolah Al Azhar, yang lantai 7nya menjadi tempat pelatihan OSN Fisika saat aku mengikutinya, kerepotan dan kegemporan saat naik-turun tangga karena liftnya penuh itu kenangan yang unik, haha. Tapi kegiatan masjid ini beragam, sebut saja Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, tentu selain kegiatan ibadah shalat harian yang rutin dilakukan, masjid ini hidup. Setidaknya itu juga yang kurasakan meskipun daftar kegiatan disini kukutip dari http://simbi.bimasislam.com/simas/index.php/profil/masjid/60/?tipologi_id=6, haha.

masjid-istiqlal

Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Sumber Gambar: http://travelerfolio.com/jakarta-holiday-itinerary/

 

Masjid istiqlal, yah, tidak kalah. Masjid terbesar se-Asia Tenggara ini juga memiliki lantai dasar seluas 2.5 hektar sebagai tempat perkantoran, ditambah dengan berbagai fasilitas seperti Koperasi, Taman Kanak-Kanak dan Poliklinik, serta berbagai lembaga keagamaan yang berpusat disana, sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII), Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) tingkat nasional, Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI), dan masih banyak lagi, seperti yang dituliskan pada http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/09/07/sejarah-singkat-masjid-istiqlal/. Haha, meskipun sempat mengunjungi tempat tersebut beberapa kali, baru sekarang berminat pada aspek kenegaraan dari masjid, jika diberi kesempatan lagi untuk main ke Al-Azhar Kebayoran Baru dan Istiqlal semoga sempat (dan ingat) untuk memeriksa kebenaran situs-situs diatas.

 

39943383

Masjid Salman ITB

Sumber Gambar: http://www.panoramio.com/photo/39943383

Yang terakhir adalah Masjid Salman ITB, yang lumayan sering kukunjungi karena selain merupakan masjid di universitasku, aku juga berdomisili tidak jauh dari masjid itu. Dan yah, bisa dikatakan untuk yang ini aku bisa mendeskripsikan lumayan baik meski tanpa mengacu pada sebuah situs. Masjid ini memiliki dua buah tempat makan (Kantin Salman dan baru-baru ini Restoran Saji Kelinci turut buka lapak disana) dan beberapa pedagang kaki lima yang turut menjajakan dagangannya di daerah Salman, sebuah Minimarket (Toko ISTEK Salman), daerah perkantoran (dari tempat fotokopi dan print, toko obat-obatan herbal, hingga tempat lensa dan busana jilbab), sebuah asrama (yang area ikhwan dan akhwatnya terpisah), sebuah aula dan beberapa ruang rapat, serta sebuah gedung kayu yang dijadikan sekretariat bagi para badan pengurus masjid dan organisasi kemahasiswaan atau unit yang berpusat di Masjid Salman. Ya, bukan berpusat di ITB, tapi berpusat di Salman. Mahasiswa yang terdaftar pun lintas universitas, tidak hanya dari ITB saja, Unpad, UPI, Unpar, Unisba, Polban, UIN dan beberapa universitas lain di Bandung punya mahasiswa yang beraktivitas disini. Dan tiap hari, selalu ada kegiatan, baik itu berupa kajian keislaman, belajar bersama baik dalam bentuk les ataupun tidak, aktivittas unit Salman, dan masih banyak lagi. Dalam hal kemegahan, mungkin Masjid Salman memang tidak semegah kedua masjid yang dijadikan pembanding di awal, namun dalam menilai “hidup”nya masjid, dapat kukatakan masjid ini tidak kalah dari kedua masjid itu.

 

Kadang agak sedih melihat masjid-masjid yang hanya terisi saat adzan berkumandang saja, apalagi jika hanya sedikit orang yang mengisinya. Jika para organisasi politik berbasis islam memiliki kesibukan meneriakkan “Negara tidak bisa dipisahkan dengan Agama” selama dua tahun (saat Pemilihan Kepala Daerah hingga Pemilihan Presiden), bagaimana jika tiga tahun berikutnya digunakan untuk membuktikan bahwa Agama memang tidak bisa dipisahkan dengan Negara? Ramaikan dan hidupkanlah masjid, akan lebih baik lagi jika masjid-masjid yang ada dikembangkan menjadi pusay perekonomian di lingkungannya, sehingga saat ada wacana masjid ingin dirubuhkan, warga akan bersatupadu menentang perubuhan bangunan yang bermanfaat bagi mereka. Jika telah ada kegiatan serupa, kembangkanlah! Karena aku sebagai warga biasa saat ini masih belum merasakan manfaatnya, dan agak sayang jika kegiatan tersebut terhenti separuh jalan bukan? 🙂

 

Memang masjid bukanlah satu-satunya hal dimana Islam berperan dalam mengatur hidup kenegaraan. Akan menarik jika ada yang berminat untuk membahas Sedekah, Zakat dan Baitul Maal yang punya peranan penting dalam perekonomian masyarakat di masa lalu, yang sayangnya saat ini kurasa peranan pentingnya tak terlihat lagi. Selain itu, mungkin ada juga yang perlu menjelaskan tentang hukum syariah. Mungkin memang media luar terlalu membesar-besarkan “hukuman potong tangan jika mencuri” tanpa menilai kondisi yang berlaku saat hukuman tersebut diberikan. Hei, bukankah ada cerita dimana orang yang sangat kaya dihukum ketika mufti (hakim) melihat tetangganya yang sangat miskin mencuri dari dirinya? Selain itu, hukum syariah juga sepengetahuanku memiliki aturannya tersendiri bagi orang-orang yang bukan muslim untuk memperoleh ketenangan dalam kehidupannya di negara tersebut, sayang aku tidak bisa berbicara banyak tentang itu, keterbatasan ilmu. Belum sempat mencaritahu lagi saat ini, ada yang berminat membahas atau menuliskannya mungkin? Karena bagaimanapun, aku hanyalah pengamat kehidupan yang masih amatir, dengan ilmu yang sangat sedikit tapi penasaran terhadap apa yang akan terjadi jika begini dan begitu 🙂

Cerita

Kadang aku terlalu mudah terbawa cerita. Novel, komik, majalah, buku apapun lah. Dan sekarang juga begitu, sedang terbawa oleh novel seri young sherlock holmes karya andrew lane. Dan sampai sekarang kalau membuka google dan browsing tentang film-film di jaman dahulu seperti lorong waktu dan si unyil, meski aku tidak sepenuhnya ingat cerita lengkapnya tetap saja ada perasaan nostalgia tersendiri. Aku juga penasaran dengan sinetron seperti keluarga cemara dan si doel anak sekolahan yang dulu sempat booming, terutama setelah membaca http://m.kompasiana.com/post/read/510591/3/lima-sinetron-legendaris-indonesia, haha. Sayang keempat judul tersebut agak sulit dicari di internet. Hanya menemukan beberapa musim lorong waktu, lumayan lah buat nostalgia. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai serial jadul seperti ini daripada serial indonesia yang ada saat ini, yah, semua orang berhak untuk punya preferensi tersendiri kan?

Yang jelas jaman dahulu itu lorong waktu merupakan satu-satunya sinetron yang kuikuti, dan entah kenapa selalu jadi pengingat dan pembelajar yang kusukai. Sayang eranya sudah berakhir, hahaha, kelihatannya ini salah satu contoh sulitnya move on dari masa lalu ya. Agak merasa sayang karena sudah berakhir sih, tapi senang lah karena sempat punya kesempatan mengenal sinetron macam itu, memang tidak semua aspek dari sinetron itu bagus sih, aku juga tahu kok ada beberapa hal yang kurang sesuai. Tapi kalau melihat sinetron yang sekarang lebih banyak kekurangannya, hm, ya sudah lah ya, haha.

Hm, kembali ke novel young sherlock holmes pertama, Death Cloud. Salah satu bagian yang kusuka dari novel ini adalah bagian dimana Amyus Crowe memberikan tebak-tebakan yang, sebenarnya sudah lumayan populer dan sering diceritakan. Salah satu versi bahasa indonesianya adalah begini, “A dan B patungan masing-masing 50juta untuk membeli mobil seharga 100juta dari C. Ternyata C memberikan cashback (atau kembalian) 3juta sebagai pelayanan khusus. Karena senang, maka A dan B sepakat untuk memberikan 1juta sebagai bonus bagi C, lalu masing-masing mengambil kembali 1juta. Sehingga A dan B masing-masing hanya menyumbang 49juta pada akhirnya. Pertanyaannya, jika A dan B masing-masing menyumbang 49juta, ditambah dengan uang bonus 1juta yang diberikan kepada C, totalnya adalah 99juta, kemana sisa 1jutanya?”

Pertanyaan trik. Karena 1juta yang diberikan kepada C merupakan bagian dari 98juta, total yang diberikan A dan B. Jelas jumlah itu tidak bisa ditambahkan, pertanyaan ini sejak awal sudah salah. Dan yang menarik, Amyus Crowe yang saat itu berlaku sebagai guru yang mengajarkan metode berpikir kepada Sherlock muda mengatakan, “Permasalahannya ada pada deskripsi. Memang benar 49juta dikali 2 itu 98juta, tapi uang bonus 1juta itu sudah termasuk di dalamnya. Kalau kamu menyusun ulang masalahnya, kamu akan sadar bahwa A dan B membayar 97juta untuk mobil dan 1juta untuk uang bonus. Maka yang kita pelajari adalah …?”

Dan Sherlock muda pun menjawab, “Jangan biarkan orang lain mempengaruhimu dengan opininya, karena mereka mungkin akan mengarahkanmu pada arah yang salah. Ambillah fakta-fakta yang ada, lalu olah semua informasi tersebut dan pandanglah sebuah masalah dari sudut pandang yang logis dan memungkinkanmu menyelesaikannya.” Begitulah nyatanya, dalam pertanyaan trik itu semua akan selesai jika kita hanya memandang fakta berikut, “A dan B menyumbang masing-masing 50juta”, “C memberikan cashback 3juta kepada A dan B” dan “A dan B memberikan bonus 1juta kepada C dan masing-masing mengambil kembali 1juta”.

Tiap cerita pasti melibatkan fakta dan opini, terlepas dari apakah cerita itu hanya khayal fiksi ataupun bukan. Tapi, jika kita langsung percaya begitu saja pada semua yang kita dengar, ada kemungkinan kita justru akan menjadikan informasi palsu atau opini sebagai fakta, dan hal tersebut justru dapat menyesatkan kita. Entah kenapa aku menganggap hal ini perlu kita beri perhatian khusus, apalagi di tahun ini, tahun pemilihan umum, tahun yang katanya penuh dengam intrik politik, muslihat kotor dan lain sebagainya. Pemilu juga kelihatannya merupakan cerita yang paling populer di saat ini. Waktunya kita belajar untuk membedakan fakta dan opini dari sebuah cerita, memeriksa ulang kebenaran fakta yang disampaikan dan lebih cerdas dalam menarik kesimpulan.

Ada banyak berita terkait partai, tokoh, dan berbagai informasi lainnya yang dapat ditemukan di media massa, internet, poster atau selebaran dan lain sebagainya. Dan nyatanya, berapa banyak berita tersebut yang merupakan informasi yang salah atau opini?

Entah lah, lima tahun yang lalu sebuah pengalaman unik membuatku terlibat dengan pemilu meskipun belum punya hak untuk memilih, dan dalam keberjalanan saat itu juga aku melihat berbagai jenis orang. Ada orang yang percaya buta pada tokoh atau partai yang dia pilih dan yakin apapun yang dilakukan oleh yang dipilih itu benar. Ada yang memilih hanya karena ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan organisasi atau teman sepergaulannya tanpa tahu apa langkah yang diusung sang calon dan tidak membandingkannya dengan calon-calon lainnya. Ada yang mendukung penuh seorang calon, tapi langsung berbalik dan menyebarkan keburukan calon tersebut saat ada insiden yang terjadi. Ada orang yang menjual suaranya dengan harga tertentu. Ada yang idealis dan memang mendukung calon yang sangat dia sepakati visi dan misinya, tapi merasa terkhianati saat ada insiden lain yang menyebabkan dia kehilangan kepercayaan pada pilihannya, dan entah apakah pilihannya itu benar-benar menjalankan (atau setidaknya mencoba melakukan) janji-janji yang dibuat. Ada juga yang idealis dan terus mengingatkan calon yang terpilih akan janji-janjinya dan kepentingan rakyat melalui demonstrasi, yang entah didengar atau tidak oleh para wakil rakyat itu. Haha, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi apatis-sinis terhadap pemilu, aku juga masih bertanya-tanya kenapa.

Malam kemarin ada cerita yang menarik terkait ini, ada yang berbagi cerita di bidang motivasi, organisasi dan politik. Sayang ada beberapa bagian yang kuanggap kurang tepat perumpamaannya, seperti saat dia menggambarkan tentang motivasi. Bayangkan kita berada di atap sebuah gedung, dimana ada gedung lain yang tingginya sama dan dapat dicapai dengan meloncat, maukah kita meloncat kesana? Saat itu belum ada yang mau, tapi aku sudah tahu arah pembicaraan dan bergumam, “tergantung, kalau gedungnya terbakar aku loncat.” Salah satu hal yang kurang menyenangkan dari sikap logis adalah kamu kehilangan kesenangan dan rasa “oh, iya juga” saat orang lain mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan melalui perumpamaan jika kamu berhasil menebaknya duluan. Oke, dia yang mendengar juga berucap, “nanti dibahas”. Dia pun memberikan perubahan situasi, dengan menambahkan kondisi menaruh uang satu milyar di atap gedung sebelahnya yang diperuntukkan bagi orang yang berhasil meloncat. Masih belum banyak yang mau memilih meloncat. Di skenario ketiga baru lah dia mengganti variabel uang di gedung sebelah dengan variabel singa di atas gedung yang sama, mau meloncat ke gedung sebelah kalau ada singa yang kelaparan di atap gedung yang sama? Aku diam karena mengerti dan memang ingin membiarkan dia menyampaikan poin penting yang ingin dia buat, bahwa tiap orang perlu motivasi untuk melakukan suatu hal, baik berupa uang di gedung seberang, keselamatan nyawa dari singa dan lain sebagainya. Tapi jika itu ditanyakan padaku, aku pasti akan memilih menetap di atap gedung itu dan mencari cara untuk menjatuhkan singanya, karena jika aku berhasil melompat, aku yakin singa itu pasti juga berhasil melompat. Hal lain yang kurang menyenangkan menjadi orang yang logis, teknis dan pendiam itu adalah kejadian seperti ini, perlu perumpamaan yang memang tepat untuk menyampaikan maksud yang mengena dengan baik. Ah, sudah lah, toh aku memang bukan orang yang suka berbicara ataupun menjadi pusat perhatian orang lain, senang ada yang mau menyampaikan informasi tersebut, tapi sayang perumpamaannya kurang tepat. Ah, sudah lah, terlalu mengandalkan logika itu kadamg menyebalkan juga ya.

Yang jelas, lumayan banyak yang kusetujui, baik fakta yang disampaikan atau pun opini yang kebetulan sama. Namun tidak sedikit juga opini yang kupertanyakan. Terkait politik, dia bercerita bahwa saat ini banyak orang hukum yang tidak mengerti teknis, dan menganggap bahwa akan lebih mudah jika mengajarkan hukum kepada orang-orang teknis. Mungkin ada benarnya, tapi jika melihat kondisi lapangan saat ini, aku menganggap bahwa meskipun ceritanya mengandung fakta yang benar, bukan itu inti masalah politik yang ada saat ini. Karena dari apa yang kulihat dan kuamati selama ini, salah satu penyebab dari minimnya partisipasi politik adalah karena orang-orang tidak percaya bahwa suaranya dapat membuat perubahan.

Pernah mendengar kalimat seperti, “udah lah ya, siapapun yang kepilih toh kita bakal tetap gini-gini aja”, “semua partai sama aja busuknya”, “pemilu itu cuma permainan politik” dan lain sebagainya? Menurutku itu lebih merupakan ungkapan ketidakpercayaan kepada pemerintahan yang ada. Kenapa? Karena kita tidak tahu apakah suara atau aspirasi yang kita berikan memang dapat merubah sesuatu, entah itu nasib bangsa, masa depan, atau hal-hal lainnya. Mungkin ini perlu dijadikan prioritas dpr di jaman berikutnya, bagaimana cara agar masyarakat tahu bahwa ada aspirasi mereka yang memang dapat mengubah sesuatu. Menurutku hal itu akan lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat, apalagi bagi anak muda yang punya ideologi dan ekspektasi tinggi. Iya, ini memang cuma opini yang kesimpulannya kutarik dari fakta-fakta yang kuketahui, mungkin benar dan mungkin salah sebagaimana opini tiap orang, tapi bukankah semua orang berhak untuk punya opini tersendiri?

Jadi ingat waktu itu ada forum dimana ada seseorang yang berniat menjadi calon presiden dan menceritakan apa yang akan dia lakukan jika terpilih. Aku tidak punya masalah dengan ceritanya, tapi masalahnya lebih kepada keterlambatan beliau. Entah kenapa aku menganggap seorang eksekutor itu harus paham teknis lapangan, seperti manajemen waktu dan pemanfaatan teknologi. Aku mempertanyakan alasan keterlambatannya dan kenapa dia tidak menggunakan teknologi seperti video call skype untuk meminimalisir kekesalan para peserta. Entah lah, aku menganggap penting bagi seorang eksekutor untuk mengetahui langkah terbaik apa yang dapat diambil dan menghargai orang-orang yang dia pimpin, dan aku menganggap keterlambatan yang sangat parah sebagai sebuah pernyataan bahwa orang-orang yang hadir tidak dia anggap penting. Ini memang bukan acara debat yang diselenggarakan stasiun tv dan disaksikan banyak orang, tapi kita tetap warga yang akan dia pimpin kalau terpilih kan?

Ah, sudah lah. Sekarang kelihatannya membahas cerita politik memang sedang seru, setidaknya meracau untuk melepaakan ketegangan uts yang akan dihadapi pekan depan itu hal yang wajar kan? Yah, memang di semester ini aku masih punya tanggungan lain selain tugas akhir, haha. Ya sudah lah, semoga pikiran cepat plong dari uts dan dapat fokus kembali ke tugas akhir dan rencana memperoleh beasiswa S2 di tempat yang bagus lah ya. Dan jelas untuk dapat mewujudkannya, aku tidak bisa menjadi orang yang terus-terusan hanyut oleh cerita orang, apa jadinya kalau teknologi dibuat dengan kesalahan informasi? Waktunya berusaha dan terus mengevaluasi diri, bismillaah 😀