Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan? 🙂

Rezeki

Percayakah kamu bahwa tiap makhluk memiliki jatah tersendiri atas rezekinya?

Pada liburan akhir tahun lalu kebetulan aku sedang berada di sebuah kota saat ada seseorang yang membutuhkan pendonor bergolongandarah sama sepertiku, dan karena saat itu aku memang sedang luang, akhirnya aku yang menjadi pendonor. Tawaran apa yang lebih menggiurkan bagi mahasiswa di perantauan selain makanan gratis dalam jumlah yang cukup banyak? Yah, setidaknya biskuit regal yang disajikan secara prasmanan bagi pendonor di kantor pmi itu bisa mengisi perut untuk sekali makan, bahkan mungkin bisa mencukupi kebutuhan dua hingga tiga hari jika pendonor terkait tidak malu membawa plastik untuk mebawanya pulang. Hahaha. Dan pada liburan ini saat aku sedang tidak berada di kota itu, skenario yang sama terulang dua kali, mungkin karena liburan pergantian tahun ajaran memang lebih lama. Dan saat kuhubungi, mereka menjawab telah mendapat pendonor masing-masing. Dan sekarang jadi terpikir, siapa nama yang tertulis sebagai pendonor mungkin merupakan ajang bagi para manusia untuk berlomba dalam kebaikan, tapi kepastian sang pasien mendapatkan transfusi mungkin merupakan bagian dari rezekinya.

Pengemis dan pengamen di persimpangan jalan atau warung makan pun begitu. Banyak yang mempropagandakan untuk tidak memberikan uang kepada mereka karena dikhawatirkan akan memberikan mental atau pola pikir yang salah untuk hanya meminta-minta tanpa perlu bekerja kepada mereka, tapi tetap saja ada yang memberikan. Beberapa orang lebih memilih menyumbang ke badan amal yang dianggap kredibel dalam mengurus sedekah karena tidak tahu mana yang membutuhkan dan mana yang sekedar malas untuk bekerja, dulu ada juga kawanku yang memilih menyumbangkan uang dalam bentuk makanan seperti roti untuk meminimalisir kemungkinan uang yang didapat digunakan untuk hal yang kurang baik bagi mereka seperti rokok dan lem untuk dihirup baunya, sayang gerakan itu saat ini sudah tidak terdengar lagi.

Mungkin itu juga yang menyebabkan masih banyak hewan yang bisa hidup. Memang jumlah spesies yang terancam kepunahan jauh lebih banyak daripada jumlah jari pada manusia, tapi tetap saja banyak yang menemukan makanan untuk bertahan, entah berupa pemberian alam, rasa kasihan orang, atau rasa tanggungjawab petugas kebun binatang. Kadang aku mempertanyakan terkait kematian seekor binatang, apakah itu karena binatang terkait merupakan rezeki bagi binatang lain yang kelaparan atau pengingat bagi beberapa oknum yang sibuk mengoleksi jasad atau bagian tubuh binatang demi keuntungan atau kepuasan pribadi jika makhluk terakhir dari sebuah spesies telah mati. Mungkin juga keduanya.

Belum lama ini ada seorang juniorku yang menanyakan tentang keadilan akan rezeki dariNya. Dia bertanya mengapa apakah adil jika perempuan memiliki waktu dimana dia tidak dapat berpuasa tapi wajib menggantinya di bulan yang pahalanya belum tentu sama dengan Ramadhan, dan dia mempertanyakan bagaimana kabar pahala dari amalannya. Jelas pertanyaan ini ditujukan kepada orang yang salah, mengingat yang ditanya bukanlah ahli dalam hal fiqih wanita ataupun pengatur besar-kecilnya pahala dari sebuah amal.

Dan aku pun teringat bahwa di bulan ini ada malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, Lailatul Qadar. Fakta bahwa panjang malam di tiap daerah berbeda-beda, ada yang sampai belasan jam, dan mungkin ada juga daerah yang tidak pernah merasakan malam. Ada situs yang menyebutkan bahwa di Argentina puasa hanya berlangsung selama 9 jam, berbanding dengan 21 jam di Islandia. Berhakkah untuk merasa iri pada mereka di daerah Argentina? Bisa karena waktu puasa yang lebih pendek, bisa juga karena kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar yang lebih besar, atau apapun itu, dingin tidak akan berpengaruh banyak jika disikapi dengan baik atau sudah beradaptasi, kan?

Jika dilihat dari sudut pandang lain, tetap ada potensi kebaikan yang dapat diraih perempuan ataupun orang yang berpuasa lebih lama. Yang perempuan dapat memberi bahan untuk berbukanya orang-orang yang berpuasa, yang berpuasa lebih lama pun memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal seperti bekerja atau berbelanja tanpa mengurangi waktu malamnya, dan mungkin mereka bisa memfokuskan waktu malamnya untuk beribadah semata. Sulit untuk melihat apakah ini rezeki atau bukan dan apakah ini adil atau tidak jika hanya berfokus pada satu argumen atau sudut pandang saja, lagipula, bukankah Dia Maha Pemberi Rezeki lagi Maha Adil?

Yah, walau ada beberapa makhluk yang mungkin mempertanyakan sifat-sifatNya itu, tetap saja Dia menyempurnakan rezekiNya bagi semua makhluk. Mungkin mempertanyakan merupakan salah satu langkah menuju kepercayaan. Terlepas dari itu, tiap makhluk mungkin juga menyikapi rezeki yang diterima dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri meski dalam pandangan orang lain apa yang dia dapat sangat sedikit, ada juga yang memaki dan meminta tambah meski rezekinya sudah sangat banyak menurut orang yang lain lagi.

Mungkin sekarang yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita menyikapi rezeki yang kita terima, akankah kita menggunakan rezeki kita untuk hal yang baik? Dan, masih ingatkah akan hak-hak orang lain dalam harta kita? Yah, itu salah satu fungsi zakat fitrah di akhir bulan ini, kan? 🙂

Selamat berjuang mendapatkan lailatul qadar di malam-malam terakhir Ramadhan, jangan lupa memberikan hak orang lain dalam harta kita kepada mereka yang berhak menerimanya.

Dan waktunya kembali fokus menyelesaikan perkuliahan laks, secepatnya. Tambahan biaya untuk menunda tidak sedikit, berusahalah agar itu menjadi rezeki pribadi 🙂

Ramadhan sebentar lagi…

Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka.
Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan?

Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan:

“Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika ada seorang presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita pasti kita akan direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya.
Kita pasti akan menata dan memperindah rumah kita, menyiapkan makanan istimewa dan lain-lain. Ramadhan lebih dari sekedar presiden atau pejabat tinggi lain atau apa pun saja. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa.
Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut.

1) Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.:

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun.
Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.

“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama.

Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

4) Persiapan fisik dan jasmani.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)
Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:
Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.
Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

3. Memperbanyak doa
Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

5. Bersedekah
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”
Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

7. Umroh
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”

8. Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin
Wakullu Am wa Antum bikhair

المراجع:
– كتيب “من أعمال رمضان” لسماحة الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله, دار ابن الأثير
– مطوية “رسالة عاجلة إلى من أدرك رمضان”, دار ابن خزيمة
– مطوية “أخي ماذا أعددت لرمضان” لأزهري أحمد محمود, دار ابن خزيمة
– موقع: http://www.pesantrenvirtual.com