Sikap Baik

Sikap baik adalah sesuatu yang tak akan disesali oleh seseorang. Kau tak akan berkata pada dirimu sendiri saat tua nanti, “Ah, seandainya saja aku bersikap tak baik pada orang itu”. Kau tak akan pernah berpikir begitu.

And The Mountain Echoed-Khaled Hosseini

Baru saja selesai membaca novelnya, resolusi yang ditawarkan bagus, dan salah satunya terkutip diatas. Pesan tentang keluarga dan identitas dirinya ngena. Entah kenapa novel kali ini terkesan lebih emosional, tapi worth it laah 😀

Dan sekarang jadi terpikir, benar kah kita tak akan berpikir begitu? Tiap orang punya tindakan yang dia sesali, tapi mungkinkah dia tidak akan menyesali kebaikan?

Dan mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri, menyesalkah kita akan perbuatan baik yang pernah kita lakukan?

Dan kalau jawabannya tidak, mengapa tidak melakukannya lagi? 🙂

*Laks, tolong, berbaikhatilah pada dirimu sendiri dan selesaikan laporan dalam bahasa inggris serta uts tentang akustik ruang kelas, sebelum semuanya terlambat :l

Pemimpin

Tadi ada materi menarik tentang pemimpin. Yap, seperti yang kita ketahui tiap orang bisa menjadi pemimpin. Tiap orang juga punya gaya, panutan, atau impian tersendiri terkait bagaimana cara memimpin orang lain. Dan saat ini aku tertarik untuk membahas pemimpin dari sudut pandangku sendiri, sosok yang kuanggap ada dan selalu menjadi panutan atau penyemangat untuk kuraih 🙂

Aku tidak berpikir bahwa pemimpin itu harus saklek pada sebuah tujuan. Dia harus punya kemauan untuk mencapai tujuannya, itu jelas, tapi jika dia menyadari bahwa tujuannya itu salah atau tidak baik, dia tidak boleh segan untuk merubah tujuannya. Kalau dia segan atau enggan untuk mengarahkan dirinya sesuai dengan nilai yang dia anut dan saat itu dia percaya benar, bagaimana dia bisa turut mengarahkan orang lain pada apa yang dia yakini? Dan untuk itu, dia juga perlu menciptakan lingkungan dimana orang-orang yang dipimpin tidak ragu untuk mengutarakan pendapat mereka terkait apa yang bisa diperbaiki sang pemimpin. Tidak ada manusia yang sempurna, itu fakta, dan begitu juga dengan sang pemimpin. Jika dia sadar bahwa dia berbuat kesalahan, dia perlu segera merubah haluan dan memperbaikinya. Tapi dia juga perlu menjelaskan alasan berubahnya tujuan tersebut kepada orang-orang yang dia pimpin, apa yang dia rasa tidak tepat dan mengapa dia beranggapan demikian. Bagaimanapun, pemimpin merupakan orang yang mengarahkan bukan?

Aku tidak menganggap pemimpin itu harus punya pengaruh yang besar pada tiap orang yang ditemuinya. Dan aku juga tidak menganggap bahwa pemimpin harus punya pengikut ratusan atau bahkan ribuan orang. Hei, kita sedang membicarakan orang yang memimpin, bukan pembuat trend atau sensasi di twitter yang meski followernya ribuan entah berapa orang yang benar-benar peduli pada dirinya. Tidak masalah memimpin yang berjumlah sedikit, selama sang pemimpin mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang dia pimpin. Seseorang tidak diakui orang lain karena dia memimpin, tapi dia memimpin karena diakui orang lain. Oke, terlalu banyak membaca naruto, tapi bukankah faktanya begitu? Itulah yang menurutku merupakan fungsi dari pemilu, untuk melihat sosok mana yang diakui rakyat pantas untuk memimpin mereka, terlepas dari segala intrik dalam prosesnya ya. Tapi, jika orang-orang yang dipimpin telah percaya, pemimpin juga perlu siap bekerja kan?

Aku juga tidak menganggap pemimpin harus lah orang terbaik dari sebuah kelompok. Mungkin oraang terbaik memang bisa menginspirasi beberapa orang untuk berbuat lebih, tapi mungkin ada juga beberapa orang yang akan minder atau menganggap standar yang dipasang terlalu tinggi karena itu. Aku lebih menyukai pemimpin yang dapat merangkul semua golongan dan mengajaknya untuk berbuat suatu hal yang bermanfaat dan sesuai dengan tujuan pemimpin itu dipilih.

Dan masih terkait orang yang dipimpin, pemimpin itu bukan orang yang hanya menyuruh mereka yang dia pimpin untuk bekerjakeras membanting tulang tanpa tahu mengapa mereka melakukannya. Dia bukan pengendali boneka yang mengatur semua orang yang dia pimpin untuk berbuat sekehendaknya. Tapi dia harus mampu menempatkan orang dan menjelaskan hal sesuai dengan kemampuan orang tersebut dan menyiapkan orang tersebut agar siap untuk menghadapi dunia dan meraih tujuannya, baik dengan maupun tanpa sang pemimpin itu.

Aku tidak butuh pemimpin yang selalu berhasil tapi tidak ada yang bisa dipelajari dari prosesnya. Karena saat pemimpin ajaib seperti dia turun, kondisi akan kembali kacau, tidak ada hal yang dapat dipelajari dan dijadikan fondasi bagi tindakan generasi berikutnya, justru itu akan membuat sang penerus merasa terpuruk dan dapat dikucilkan oleh orang-orang yang dia pimpin karena tidak mampu membawa kejayaan yang sama dengan sang pendahulunya, turut berduka atas nasib penerus yang tidak punya keajaiban serupa. Aku lebih nyaman dengan pemimpin yang meski tidak selalu berhasil, tapi selalu mampu menunjukkan pada yang dipimpin apa yang dapat kita pelajari dari keberjalanan prosesnya. Dan yang dipimpin pun juga perlu punya kemauan untuk menjalankan dan memahami pelajaran tersebut, sebagai fondasi yang akan membangun langkah generasi berikutnya menuju tujuan.

Aku tidak suka pemimpin yang melaksanakan semua pekerjaannya dengan terburu-buru seolah sedang mengejar setoran. Mengetahui ada banyak hal yang perlu diurus itu baik, tapi apa perlu semuanya langsung dibereskan mengingat terburu-buru dapat menyebabkan kualitas pekerjaannya asal-asalan? Saat orang-orang terpikir deadline, umumnya mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati proses karena khawatir pekerjaannya terlambat selesai. Di satu sisi memang melatih kedisiplinan dan tepat waktu baik, khususnya bagi orang-orang dengan jam karet, tapi di sisi lain hal itu justru mampu menghilangkan kesempatan orang yang mengerjakan untuk menikmati dan merasakan pekerjaannya, mempertanyakan apa serunya pekerjaan ini dan kenapa ada orang yang mau memperjuangkannya. Tidak ada salahnya menikmati kehidupan kan? Toh kita tahu setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, terlepas dari sejauh mana kita sudah berjalan. Aku tidak berminat berlomba “siapa-yang-lebih-hebat” dan lain sebagainya dengan orang lain, lebih baik memilih kehidupan yang lambat tapi dapat dinikmati kan? Terburu-buru itu perlu dalam beberapa kondisi, khususnya pada kondisi dimana kondisi akan kacau jika keputusan apapun tidak segera diambil. Tapi jika semua pekerjaan dilaksanakan terburu-buru, apakah kualitas dari hasil, pelajaran yang didapat dan perkiraan kondisi di masa depan akan lebih baik? Jika tidak, mungkin kita perlu mencoret beberapa target 🙂

Aku tahu pemimpin itu perlu punya rasa tanggungjawab, terlepas dari dia senang atau sedih diberikan amanah. Karena kalau tidak, jelas dia merupakan orang yang tidak tahu diri. Dirinya adalah pemimpin, dan orang-orang yang dia pimpin telah memutuskan untuk mempercayai dia. Memperlakukan hak-hak orang yang dia pimpin secara seenaknya bukan hal yang pantas untuk dilakukan bukan? Entah lah, yang jelas aku berpendapat bahwa jika ada orang yang benar-benar percaya pada seseorang, maka hal terkecil yang orang itu perlu lakukan untuk menghormatinya adalah dengan sungguh-sungguh menjalankan kepercayaan itu sesuai dengan kemampuan seseorang, terlepas dari orang itu menyukainya atau tidak.

Aku tahu pemimpin itu harus adil. Bukan hanya memperlakukan orang yang dipimpin dengan cara yang sama atau setiap orang mendapatkan tugas yang sama. Hei, menyuruh semua binatang untuk memanjat pohon bukan tindakan yang adil kan, bagaimana nasib ikan? Mungkin dia hanya akan sampai di atas pohon setelah dimangsa oleh kucing atau burung, dalam kondisi sedang dicerna. Yap, adil itu sesuai dengan kadarnya. Tidak masalah memberikan orang yang mampu dan mau lebih banyak tugas daripada yang lain, selama hal tersebut tidak membuat orang lain yang dipimpin resah atau merasa dikesampingkan karenanya.

Aku ragu bahwa pemimpin itu harus pandai bertuturkata. Oh, ini pendapat personal, karena aku tidak pernah menganggap diriku baik dalam hal itu. Mungkin aku lumayan bisa berkomunikasi dengan lancar pada orang-orang yang kukenal atau berbicara secara personal, tapi mengingat aku tidak suka menjadi pusat perhatian dan kadang masih terbata-bata saat berbicara di depan umum. Dan aku juga tidak berminat untuk berorasi atau berpidato jika tidak ada hal yang kuanggap mendesak untuk disampaikan. Entah, aku menganggap diriku lebih ke tipe berbuat daripada berkata. Entah, mungkin terinspirasi dari berbagai kisah action yang pernah kubaca, dan memang salah satu kisah yang paling membuatku kagum adalah kisah perang hunain, dimana riwayat yang kudengar mengatakan bahwa saat keadaan kacau dan umat muslim lari ke belakang Rasulullah tetap bertahan di medan perang walau beliau hanya seorang diri. Mengingat lawannya berjumlah ribuan dan itu bukan permainan seperti Dynasty Warrior, sampai sekarang keputusan beliau di riwayat itu masih membuatku takjub. Tapi yang jelas keputusan itu juga yang menginspirasi umat muslim dalam memutuskan untuk kembali berperang. Itu juga kisah yang sering kugunakan untuk motivasi diri apabila orang-orang sedang malas diatur, mereka akan kembali jadi siapkan saja ruang untuk mereka beraksi jika saatnya tiba. Dan itu berjalan dengan baik. Aku memang tidak siap jika harus melakukan perbuatan seperti dalam riwayat tersebut, tapi aku tahu apa yang bisa kulakukan. Yah, setidaknya riwayat tersebut turut menegaskan bahwa perbuatan itu hebat dan dapat menginspirasi juga bukan?

Dan yang terakhir, aku ragu pemimpin itu haruslah orang yang kuat. Dia memang harus tahu sikap apa yang tepat untuk digunakan dalam suatu kondisi, khususnya pada kondisi saat semangat orang-orang yang dipimpin dapat naik setinggi-tingginya atau turun serendah-rendahnya tergantung pada sikap sang pemimpin. Dia juga perlu kemampuan untuk mengendalikan diri dalam rangka mewujudkan hal tersebut, bagaimana seseorang mampu bersikap dengan baik jika pikirannya kacau pada saat seperti itu? Tapi, bukankah tiap manusia punya kelebihan dan kelemahan tersendiri? Meski mewujudkan hal yang tidak mungkin dicapai jika sendirian adalah salah satu fungsi adanya pemimpin, aku tidak beranggapan bahwa pemimpin tidak boleh menunjukkan sisi lemah. Tidak apa menunjukkannya, asalkan pada orang yang tepat dan di saat yang tepat. Pidato di depan wartawan mungkin bukan momen yang tepat, tapi tidak salah kan jika seseorang menunjukkan kelemahannya dalam dekapan bunda, pangkuan ayah atau bahu seorang sahabat? Apa salahnya bersikap manusiawi? Ada alasan manusia disebut makhluk sosial kan?

Haha, yah, sampai saat ini aku memang masih sosok yang kekanak-kanakkan dan berkeras ingin menemukan jalanku sendiri memang, mungkin karena itu aku lumayan sering keluar-masuk organisasi dan mencari yang cocok dengan sikapku itu. Aku tidak suka diberitahu jalan mana yang harus kutempuh, dan jika diminta untuk tidak menempuh suatu jalan pasti akan banyak bertanya jika aku tidak mengerti mengapa. Seminar terakhir yang kuikuti adalah Seminar Sukses Di Kampus, sayangnya aku mendapat ip lumayan bagus tanpa mempedulikan seminar tersebut, well, kelihatannya aku juga sudah lupa apa yang kakak pembicara waktu itu sampaikan, dan aku tidak punya minat apapun untuk mengikuti kegiatan yang memberitahu kamu harus begini dan kamu harus begitu, semua orang keren jika mereka mengetahui diri mereka dengan baik dan mau menonjolkan kelebihannya. Dan karena itu poin terakhir yang kuanggap penting bagi seorang pemimpin adalah kesabaran dan keteguhan hati, karena nyatanya ada orang yang belum mengerti dan mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan usaha yang sangat besar untuk membuatnya mengerti. Menyebalkan memang, karena itu pemimpin perlu sabar dan teguh. Tapi jika berhasil, mungkin hasilnya akan jauh lebih worth it daripada apa yang seseorang bisa bayangkan, percayalah.

Ada yang bilang pemimpin itu harus tulus dan mencintai apa yang dia pimpin, tapi aku beranggapan jika poin diatas dapat dipenuhi semua sang pemimpin itu juga akan belajar untuk tulus dan mencintai, jadi ya sudah lah ya.

Wah, sebulan lagi pemilu, dan aku masih belum menemukan calon mana yang sesuai dengan kriteriaku. Masih ragu untuk abstain, tapi belum menemukan calon yang tepat. Kadang aku berharap punya kemampuan deduksi terhadap isi hati orang agar mengetahui mana yang tulus dan mana yang dusta, atau kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang sangat luas apa yang terjadi jika seseorang terpilih sebagai legislatif atau presiden. Yah, ilmu saat ini belum cukup memang, masih banyak yang perlu kuketahui dan pelajari. Lagipula tiap orang pasti punya rahasia yang hanya ingin diketahui oleh dirinya dan Tuhannya kan? Mungkin ada baiknya begini saja 🙂

Pathetic

Bersahabat adalah hal yang menyenangkan, namun bagaimana jika ada perbedaan pendapat yang menimbulkan perpecahan? Sebagai manusia yang berbeda, wajar jika pendapat kita tidak selalu sama. Dan secara teoritis, persahabatan dapat berlangsung jika semua pihak dapat menerima perbedaan tersebut. Sayangnya, menerima perbedaan tidak lah semudah mengatakannya. Dan itu lah hal yang terjadi padaku baru-baru ini, ada seorang sahabat yang memilih untuk memutuskan silaturahmi disebabkan adanya perbedaan pendapat di kelompok persahabatanku. Kebetulan memang dia merupakan orang yang memiliki pandangan yang agak beda sendiri dengan semua orang di dalam kelompok itu, karena beberapa orang yang pandangannya serupa dengan dia tidak terlalu terlihat. Entah apa faktor utamanya memutuskan silaturahmi, perbedaan pendapat dalam hal yang fundamental, perasaan kesepian karena tidak ada yang mengerti pendapatnya, perasaan diserang dan disudutkan atau debat yang terlalu panas.

Awalnya ini hanyalah perdebatan mengenai sebuah golongan, yang telah jelas punya perbedaan prinsip dengan prinsip yang kami percaya. Seingatku tidak ada yang menyangkal bahwa prinsip yang golongan itu anut berbeda, dan merupakan pandangan yang salah berdasarkan prinsip kami. Hal yang diperdebatkan adalah apa yang perlu dilakukan kepada para penganut prinsip tersebut.

Dia berpendapat untuk membasmi pemikirannya. Pendapat yang setelah kupikir lagi mungkin akan kusetujui jika disampaikan dengan kata-kata yang enak didengar, namun aku saat itu lebih mengkritisi bahasa dia yang kuanggap menyeramkan. Aku lupa bagaimana detailnya karena postingannya telah dihapus (dan memang jika mudharat lebih banyak daripada manfaatnya seharusnya dihapus saja kan?), namun aku termasuk salah satu pihak yang menyudutkan dia karena aku tidak menyukai bahasa yang dia gunakan. Dan mungkin agak keterusan, perdebatan saat itu lumayan panas, dan juga agak melebar ke masalah lain yang memang sejak awal sudut pandang kita dalam hal itu berbeda.

Salah satu momen yang kuingat adalah ada temanku yang menyindir dia “pathetic” atau menyedihkan atas sudut pandang yang bahasanya kusindir itu, dan setelah itu juga sindiran yang dia terima dari teman-temannya lumayan keras dan kurang menyenangkan untuk dibaca, dan kata “pathetic” itu lah yang membuatku ingin membahas ini. Yah, memang beberapa temanku merupakan aktivis rangkap kritikus tajam, agak menyebalkan jika orang awam bertanya, pengalaman personal saat pendapatku disindir akibat kurangnya info yang kuketahui. Dan itu kelihatannya merupakan salah satu faktor yang membulatkan tekadnya untuk memutuskan silaturahmi, karena dia juga sempat membuat postingan yang menyatakan orang yang menyindir dia lah yang pathetic dengan bahasa yang emosional, namun tak lama kemudian postingannya dihapus, dan pertemanan kita di media sosial diputus.

Semua kecewa atas keputusan tersebut. Karena memang kita tidak ingin memutuskan persahabatan meski pendapat kita berbeda. Namun sampai saat ini juga belum ada yang berniat untuk minta maaf. Entah apakah karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa seperti itu jadi mereka sudah mengerti konsekuensi akan dibenci banyak orang tapi mereka tetap menyuarakan apa yang mereka anggap benar, entah lah.

Terkait pathetic, dalam hal ini aku menganggap kami semua merupakan orang yang pathetic dalam hal ini. Jika ada dari kalian yang terlibat yang membaca ini, mungkin lebih baik kita bahas di tempat lain saja agar tidak ketahuan siapa yang kumaksud, silahkan kirim pesan privat ke media sosialku kalau ada hal yang menurut kalian perlu diluruskan. Karena tulisan ini lebih diniatkan untuk instropeksi dan evaluasi, perdebatan lebih baik dilakukan di tempat lain 🙂

Sahabatku yang memutus silaturahmi itu pathetic karena caranya menanggapi pendapat kami yang kurang bijak. Dunia ini dipenuhi oleh berbagai jenis manusia yang punya pendapat yang berbeda, jika kita hanya menganggap satu pandangan benar dan pandangan selain itu salah, agak menyebalkan. Bukankah menyepelekan apa yang dikatakan orang lain dan menolak kebenaran yang disampaikannya jika ada merupakan bentuk kesombongan? Selain itu aku pernah dengar bahwa orang yang dapat hidup dengan pandangan seperti itu hanyalah orang yang sangat kuat, atau orang yang sangat bodoh. Karena mereka tidak menyesuaikan pandangan mereka berdasarkan fakta yang ada, tapi mereka menyesuaikan atau mengubah fakta agar sesuai dengan pandangan mereka. Dan untuk melakukan itu jelas perlu kekuatan atau kebodohan yang sangat untuk menyesuaikan fakta dengan pemikirannya. Merasa tersindir? Buktikanlah bahwa kita tidak seperti itu, carilah informasi dari berbagai sumber, bacalah berbagai artikel dengan sudut pandang yang berbeda untuk memperkaya wawasan. Mungkin memang mengetahui hal yang benar bukan hal yang mudah, tapi dengan mengetahui berbagai sudut pandang setidaknya kita dapat berperilaku dengan lebih bijak saat kita mendukung salah satu kubu, dan itu akan membantu menjaga silaturahmi kita.

Sahabatku yang memberikan kritikan pedas itu juga pathetic. Dia menganggap pandangan temanku salah, tapi dia tidak menyampaikan pendapatnya dengan bijak sehingga orang yang seharusnya dia cerahkan malah pergi dan menjauh dari pendapatnya dengan kebencian. Kebencian tidak akan menghasilkan suatu hal yang baik kan? Aku juga pernah membaca ilustrasi terkait ini. Saat kita ingin menyampaikan kebenaran–atau setidaknya apa yang kita anggap benar–kepada orang lain, itu seperti kita ingin memberikan berlian kepada orang lain. Namun jika kita memberikannya dengan cara melemparnya sekeras mungkin, orang justru akan marah, kesakitan dan tidak suka. Memang kita tidak dapat membenarkan semua pendapat orang, dan mungkin beberapa komentar akan kurang nyaman untuk didengar, tapi bukankah mungkin masih ada yang mau mendengar walaupun sedikit?

Dan aku juga menganggap diriku pathetic, hanya dapat berkomentar dan mengkritisi hal yang telah terjadi, dan lumayan lama setelah hal itu berlalu. Kurang mampu untuk bertindak juga bukan hal yang menyenangkan jika hasilnya seperti ini, dan sekarang hanya berandai apa yang akan terjadi jika aku tidak terbawa rasa malas untuk berkomentar saat situasi memanas dan mengingatkan kawan agar tidak berlebihan dalam berkomentar. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas aku tidak akan berharap andai aku berbuat begini dan begitu dahulu. Kehilangan teman kelihatannya bukan hal yang menyenangkan untuk dikenang bukan?

Jika dipikir lagi, mungkin akan selalu ada sudut pandang yang menganggap apapun yang kita lakukan pathetic. Bagaimanapun, ada terlalu banyak sudut pandang dan berlaku benar di semuanya jelas mustahil. Setidaknya berlakulah dengan landasan yang kita anggap benar, dan jelas itu merupakan Quran dan hadits bagi muslim. Yah, mengetahui sudutpandang yang menunjukkan ke-pathetic-an diri kita memang baik untuk pandangan lain, tapi mungkin terlalu berlebihan menyikapinya juga bukan hal yang baik. Memang kita yang menentukan apakah diri kita pathetic atau tidak, tapi cobalah sikapi pendapat yang berbeda dengan bijak. Bukan agar tidak dibenci orang lain, tapi untuk menjaga silaturahmi. Kita mungkin tidak selalu sependapat, tapi kita tidak perlu menjadikan hubungan kita sebagai hal yang pathetic bukan?

Saat Sebuah Masjid di Inggris Didemo

Saat Sebuah Masjid di Inggris Didemo

Ini salah satu link yang menurutku menarik sih. Tentang apa yang dilakukan sebuah masjid di Inggris saat mereka didemo. Semoga kita dapat menyikapi segala sesuatu dengan lebih tenang dan bijak 🙂

 

*Procrastinating kali ini udah sampe level parah, hahaha, anak-anak FTI 2010 pasti pada tahu sih apa yang bisa bikin stres sampai aku perlu procrastinating separah ini, tapi ya sudah lah ya. Hidup emang gak bisa diprediksi, jalanin aja, tetap menarik kok 🙂

Ramadhan sebentar lagi…

Segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai penghulu bulan-bulan dan melipatgandakan pahala kebaikan di dalamnya. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya sebagai petunjuk, rahmat, nasehat, dan penyembuh bagi manusia.

Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka.
Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan?

Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan:

“Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika ada seorang presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita pasti kita akan direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya.
Kita pasti akan menata dan memperindah rumah kita, menyiapkan makanan istimewa dan lain-lain. Ramadhan lebih dari sekedar presiden atau pejabat tinggi lain atau apa pun saja. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa.
Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut.

1) Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.:

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.
Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun.
Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.

“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama.

Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

4) Persiapan fisik dan jasmani.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)
Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:
Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.
Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

3. Memperbanyak doa
Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

5. Bersedekah
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).
Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”
Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

7. Umroh
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”

8. Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.
“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin
Wakullu Am wa Antum bikhair

المراجع:
– كتيب “من أعمال رمضان” لسماحة الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله, دار ابن الأثير
– مطوية “رسالة عاجلة إلى من أدرك رمضان”, دار ابن خزيمة
– مطوية “أخي ماذا أعددت لرمضان” لأزهري أحمد محمود, دار ابن خزيمة
– موقع: http://www.pesantrenvirtual.com

Falsafah Buah

Hai semua, assalamu’alaykum warahmatullahi wabaraktuh… 🙂
Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang lumayan malas membuat cerita baru, tapi berhubung saya sudah lama tidak nge-blog, saya akan mem-post beberapa artikel yang inspirasional dari teman-teman saya atau punya saya sendiri yang saya salin dari sebuah jejaring sosial milik saya…

1. Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet.
Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu?monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.

Artinya : Jangan suka pamer

2. Jadilah pohon Pisang.
Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.

Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

3. Jadilah Duren, jangan kedondong
Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.

Artinya : Don’t Judge a Book by The Cover.. jangan menilai orang dari Luarnya saja.

4. Jadilah bengkoang.
Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih.

Artinya : Jagalah hati jangan kau nodai.

5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan.
Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang gede.

Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

6. Jadilah Cabe.
Makin tua makin pedas.

Artinya : Makin tua makin bijaksana.

7. Jadilah Buah Manggis
Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.

Artinya : Jangan Munafik

8. Jadilah Buah Nangka
Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.

Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baik).

Sumber : ziziheart
Achmad Puariesthaufani Nugroho