Golongan Putih

Entah kenapa sekarang sedang tertarik dengan dunia pemilihan umum, baik legislatif negara ataupun politik kampus, entah di kosan, entah di kampus, dimanapun lah. Entah karena waktu yang semakin dekat, entah karena memang topik ini banyak dibicarakan orang, entah karena penasaran, entah karena apa. Siapa juga yang akan peduli pada alasan menulis seseorang? Tidak banyak orang yang mempertanyakan, kelihatannya tidak banyak juga yang penasaran, semua langsung saja menilai, mengritisi, dan lain sebagainya. Entah ingin diperhatikan dengan sok pintar, memang menyampaikan apa yang dia rasa benar atau berharap mendapatkan pencerahan dengan adanya diskusi, hm, sulit untuk menilai mana yang terjadi, toh kita tidak bisa mengetahui isi hati. Jika ada pesan yang perlu disampaikan kepada orang-orang yang cepat emosi, hm, mungkin ilustrasi The Muslim Show yang ini sesuai 🙂

944445_351769594945121_4485503_n

Dan pada umumnya orang-orang terbagi menjadi dua golongan dalam hal ini, golongan yang akan memilih dan golongan putih. Entah apa alasannya, tapi saat ini golongan putih entah kenapa dikesankan sebagai hal yang negatif, berbagai propaganda sedang disebarluaskan untuk meminimalisir jumlah golongan putih ini, iklan di televisi, grafis di internet, selingan di radio, gambar di koran, dan lain sebagainya. Entah apakah dalam waktu dekat akan ada sms atau e-mail yang masuk ke handphone kita dan menyuruh kita untuk ikut berpartisipasi aktif saat pemilu, hm, mungkin itu akan terjadi di masa depan, meskipun sms dan e-mail juga bergantung pada penggunanya, mau memilih disimpan dan dilaksanakan atau dihapus dan dilupakan. Tergantung individu yang punya kuasa atas handphone tersebut kan? Mungkin yang akan merepotkan adalah jika kedua golongan berdebat sedemikian rupa, seperti gambar di sebelah kanan dalam ilustrasi The Muslim Show lainnya berikut.

1004945_630204987042388_872062915_n

Gambar-gambar yang dibuat karikatur asal Prancis ini memang menarik dan lumayan tepat untuk menyindir, agak disayangkan gambar di bagian pertama masih belum diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, tapi yang tertarik pada ilustrasinya bisa mengunjungi Halaman Facebooknya dengan versi Bahasa Inggris di https://www.facebook.com/themuslimshow atau untuk halaman versi terjemahan Bahasa Indonesia https://www.facebook.com/muslimshowindonesia.

Ada dua buah tulisan yang, kebetulan sedang lumayan ramai dibicarakan oleh beberapa temanku, dan isinya lumayan bagus. Terkait politik dan pemilu, tulisan pertama dibuat oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Dema Fisipol UGM), dan tulisan berikutnya dibuat oleh Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI). Aku lebih suka mencari informasi atau pandangan politik dari universitas lain yang memang punya program studi di bidang perpolitikan, menganggap mereka lebih mengetahui ilmu dan apa yang mereka bicarakan. Tanpa bermaksud menganggap bahwa kajian yang selama ini diselenggarakan di universitasku tidak berguna dan lain sebagainya, hanya saja kadang kita perlu melihat dari sudut pandang lain, selain dari sudut pandang insinyur, ilmuwan, seniman dan bisnis manajemen. Lagipula, orang akan lebih percaya saat belajar dengan orang yang memang mempelajari ilmunya kan?

Berikut adalah link tulisannya:
Notes Facebook Dema Fisipol UGM – [Launching] PEMILU 2014 : Gerakan Menolak Bodoh: https://www.facebook.com/notes/dewan-mahasiswa-fisipol-ugm/launching-pemilu-2014-gerakan-menolak-bodoh/500965723346190

Artikel Semar UI – Tentang Advokasi “Mengawal Pemilu”: http://serikatmahasiswaprogresif.blogspot.com/2014/03/tentang-advokasi-mengawal-pemilu.html

Dan, ada satu artikel lagi yang lumayan menarik terkait golput: http://faldomaldini.tumblr.com/post/79895063350/perdebatan-seputar-golput

Mungkin bagi yang berminat bisa membaca ketiga tulisan tersebut. Kesimpulan yang kutarik dari ketiga tulisan tersebut adalah, masalah yang dihadapi pemilu sekarang bukanlah golput atau tidak, melainkan kesadaran terhadap partisipasi politik diluar pemilu. Orang yang hanya memilih dalam pemilu tapi tidak melakukan apa-apa untuk mempertanggungjawabkan pilihannya dan orang yang golput tapi hanya berkicau di media sosial perihal kegolputannya atau masalah trivial lainnya sama-sama bukan hal yang diperlukan saat ini. Tertarik untuk mengutip perkataan dari Dema Fisipol UGM pada artikel mereka,

Partisipasi tak boleh diasosiasikan dengan tindakan mencoblos semata. Partisipasi politik, pada hakekatnya, adalah usaha untuk melakukan pembenahan politik. Bicara partisipasi politik berarti bicara soal perjuangan. Dan perjuangan bisa dilakukan lewat 1001 jalan. Namun, terlepas dari cara apapun yang seseorang pilih, perjuangan mensyaratkan satu hal: konsistensi. Perjuangan adalah ketekunan. Memperjuangkan demokrasi adalah ikhtiar tanpa putus-putus untuk terus maju. Memperjuangkan demokrasi adalah sebuah usaha yang jauh dari kata lelah dan bosan; apalagi rasa jijik.

Makna partisipasi semacam inilah yang sesungguhnya harus kita lindungi setiap saat. Ironisnya, jargon-jargon populer semacam ‘5 menit demi 5 tahun’ rawan sekali menggerus makna ini. Jargon ini cenderung melebih-lebihkan peran pemilu. Seolah-olah, hanya dalam lima menit kita bisa mengubah negeri ini. Seolah-olah, rakyat kita hanya diberi waktu lima menit untuk berbuat sesuatu. Dua hal ini salah kaprah. Pertama, pemilu tak bisa mengubah negeri ini begitu saja. Kedua, pemilu bukan satu-satunya momen di mana kita bisa berbuat sesuatu. Setiap detik, setiap menit, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun adalah momen untuk berdemokrasi. Setiap saat kita bisa berjuang. Slogan ‘5 menit demi 5 tahun’___jika kita ingin melakukan pencerdasan serius___semestinya dikubur di pemakaman umum dan diganti dengan ‘5 tahun untuk 5 tahun’. Pesan moralnya: Tak usah menunggu lima tahun untuk berbuat sesuatu.

Salah kaprah inilah yang harus kita luruskan. Pemilu bukan jin botol yang bisa mengabulkan semua keinginan kita dalam sekali elus. Kita bukan seorang Cinderella yang berubah nasibnya lewat sebuah pesta dansa. Kita tak bisa mengubah negeri ini dengan beberapa kali coblosan. Jika seseorang hendak membenahi demokrasi, hendaknya ia tak cuma terlibat dalam lima menit, melainkan terlibat dalam lima tahun. Jangan ribut sekarang kalau kemudian cuma nongkrong di toilet kampus selama lima tahun sambil bilang pada diri sendiri, “Akulah sang pembela demokrasi”. Tindakan itu delusional.

Jadi, mungkin masalahnya bukan golput atau tidak, tapi terlepas dari apapun pilihan kita (pilihan caleg, capres dan lain sebagainya, termasuk golput), siapkah kita mempertanggungjawabkannya dan terus berusaha memperjuangkannya?

Perkataan

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengatakan hal yang baik atau diam”

Aku lupa dimana aku pertama kali mendengarkan hadits tersebut, bahkan aku sempat lupa siapa yang meriwayatkan dan terpaksa harus terjun ke google untuk mencaritahunya. Dan berdasarkan artikel yang kutemukan di http://hadits.rumahilmu.or.id/2013/09/10/berkatalah-yang-baik-atau-diam/, berikut detail periwayatan hadits tersebut:
Hadits Riwayat Al Bukhari Bab Beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka jangan menyakiti tetangganya, Hadits nomor 6475. Riwayat Imam Muslim Bab Perintah untuk menghormati tetangga dan tamu serta tidak berbicara kecuali untuk hal yang baik, dan semua itu adalah tanda keimanan, Hadits nomor 47. Situs itu juga memberi keterangan, “Jika penggalan hadits ini diamalkan oleh banyak orang, maka tampaknya jejaring sosial akan sepi dari gunjingan, fitnah dan kata sia-sia, berganti dengan hal-hal baik dan nasehat-nasehat bermanfaat” dan “Salah satu ukurannya adalah “kemanfaatan”, jika ditimbang-timbang kata yang akan disampaikan ada manfaatnya, maka dia keluarkan, tapi jika sebaliknya, hanya sekedar hal yang sia-sia, atau bahkan memunculkan mudharat, maka ia tahan”.

Oke, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, seingatku hadits dengan tingkat kepercayaan paling tinggi, setingkat diatas hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari atau Imam Muslim saja. Wah, membahas hal ini jadi kangen masa sma dulu, saat bergiliran membaca hadits dari Kitab Riyadush-Shalihin di mimbar Masjid Al-Ishlah selepas Shalat Ashar, saat murid sma dengan segala keterbatasan ilmunya mencoba untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Meskipun sekarang aku juga punya sahabat-sahabat yang serupa–dan yang baru saja mengingatkanku sebelum berbuat sebuah tindakan yang sangat gegabah–tetap saja, I miss that moment, really.

Entah kenapa jadi mengingat hadits tersebut saat sedang random membuka sebuah media sosial, kebetulan saja ada seorang kawan yang memasang status “Falyaqul khairan au liyasmut”, “Maka berkatalah yang baik atau diamlah”. Pengingat yang tepat untuk hari ini.

Baru tadi sore aku mendengar sebuah cerita, saat aku terlibat dalam sebuah rumah belajar yang dibuat seniorku untuk memfasilitasi anak-anak golongan menengah kebawah di dekat pasar tradisional, tentang banyaknya hal di sekitar kita yang terlupakan untuk disyukuri. Kejadiannya sebenarnya sudah agak lama, hampir setahun yang lalu, saat ada pameran sains di sebuah museum. Kebetulan aku juga sempat berada disana dan bertemu dengan dua orang seniorku yang sedang membawa anak-anak dari tempat mereka itu untuk melihat pameran tersebut. Dan, mereka sangat senang saat mendapat kesempatan untuk melihat pesawat, foto bareng astronot dan sebagainya, seperti anak-anak pada umumnya memang, jika kita melupakan fakta bahwa mereka bukan golongan yang dapat menikmati kemewahan dari internet. Saat itu aku sendiri malah sedang menyayangkan keterlambatanku, yang menyebabkan aku tidak dapat melihat beberapa proses reaksi dari senyawa kimia yang dipraktekkan di panggung pameran karena kurang berminat untuk mencari informasinya sendiri.

Ah, tetiba aku merasa kurang memanfaatkan kemewahan internet ini. Memang berkomunikasi dengan sahabat lama, mencari informasi dan inspirasi atau meluapkan emosi melalui tulisan bukan hal yang salah, tapi kelihatannya masih ada banyak hal dari internet yang dapat kumanfaatkan. Setidaknya aku lumayan yakin media sosialku tidak akan penuh dengan berbagai aib masa lalu yang diangkat-angkat jika semua orang memikirkan hal yang sama, meski sudah tidak aktual dan relevan tapi masih cukup untuk mempermalukan seseorang.

Kejadian pertama dimana menjaga perkataan penting adalah media sosial yang penuh oleh (benerapa hal yang mungkin dianggap) aib dari masa lalu seseorang. Terlepas dari alasannya baik itu melepas stres, mencairkan ketegangan dan lain sebagainya, aku tidak menyukainya. Di satu sisi memang itu merupakan pertanda bahwa orang yang mengganggu dan orang yang diganggu itu sudah dekat, yah, orang indonesia itu segan untuk bertindak kurang ajar dengan orang asing kan? Yah, mungkin ada beberapa anomali yang tidak segan memang, tapi melakukan hal tersebut di media sosial dimana tiap orang terhubung dengan orang yang dekat dan orang yang tidak terlalu dekat bukan tindakan yang baik. Oke, orang-orang yang sudah dekat mungkin memang tidak punya masalah. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak dekat yang terhubung? Yah, aku tidak tahu bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan tersebut, mungkin image seseorang akan rusak atau silaturahminya terputus, tapi apa peduli orang-orang yang melakukan itu hanya untuk kesenangan? Oh, ada beberapa orang yang lumayan peduli dengan kabar yang dia terima dari teman-temannya, ada orang yang memutuskan hubungan saat melihat akun seorang temannya sedang menyebarkan akun semacam video yang tidak legal untuk diedarkan dan dapat merusak generasi muda. Yah, memang pada akhirnya mereka berbaikan setelah mengetahui kejadian itu disebabkan oleh sebuah virus atau program tanpa kehendak sang pemilik akun, tapi tiap orang punya nilai tersendiri, dan siapa yang bisa melogikakan manusia?

Kembali ke cerita, saat aku telah pergi, kedua seniorku mengajak anak-anak pergi ke taman yang ada di seberang museum tempat pameran itu. Disana anak-anak mendapatkan makanan berupa ayam goreng, kentang dan telur dari sebuah restoran cepat saji ternama, makanan yang mungkin bisa didapatkan dengan mudah bagi para golongan menengah keatas. Tapi tidak bagi mereka. Dan respon mereka yang kudengar dari seniorku adalah berkomentar tentang ukuran ayamnya yang besar, mencuil sedikit potongan ayam tersebut dan kemudian membungkus ayam tersebut untuk dimakan di rumah sembari berkata bahwa telur sudah cukup bagi mereka. Oh, entah kenapa aku hanya bisa berpandangan dengan sahabatku, sama-sama tersenyum miris mendengarnya. Dari betapa banyaknya nikmat yang telah diberikan-Nya, maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Aku sempat menemukan kejadian serupa di daerah pedesaan dimana pendapatan para petani atau pemanen hasil perkebunan memang tidak seberapa dan sulit untuk membeli makanan dari restoran dengan franchise ternama, tapi aku tidak pernah menyangka akan menemukan kondisi serupa sedekat ini dari pusat kota Bandung, karena dari yang kulihat di desa tersebut memang mereka tidak kelihatan berminat dengan makanan mahal dan harga di desa tersebut tergolong murah jika dibandingkan harga di kota. Entah siapa yang pantas disalahkan atas kesenjangan sosial yang lumayan parah ini. Koruptor yang mengambil hak orang lain? Orang kaya yang tidak peduli nasib orang lain? Pemerintah yang belum berhasil menepati janji untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar? Orang miskinnya yang kurang berusaha untuk memperbaiki kehidupannya? Faktor X yang tidak diketahui siapapun? Apakah salah satu atau semua hal itu penyebabnya?

Dan aku pun tergelitik untuk mengatakan hal yang tidak-tidak terkait koruptor, pemerintah, orang kaya dan orang miskin, yang terhenti setelah menyadari banyak orang yang melakukan hal serupa dan tidak ada pengaruhnya selain tenaga yang habis. Meskipun berlelah-lelah dalam mencapai tujuan bukan masalah, tapi kalau jalan yang ditempuh tidak ada hasilnya buat apa dilanjutkan. Ah, kelihatannya aku tidak jadi membuat karya tulis tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana dan permainan dalam pembelajaran anak-anak dan remaja untuk pemilihan mapres. Yah, tujuanku memang lebih ke mempublikasikan ide yang kudapat dari pengalaman selama beraktivitas di Skhole dan BDSG tersebut, tapi dari segi probabilitas dimana kampusku hanya mengirimkan satu perwakilan dari seluruh mahasiswa, kecil kemungkinanku lolos hingga tahap dapat didengar orang yang berwenang. Hm, kelihatannya lebih baik aku menunggu kesempatan yang lebih mungkin untuk didengar pemerintah, agak menyayangkan ide yang muncul terlambat sehingga kesempatan dari open government terlewat. Lagipula setelah dipikir lagi kasihan bocah-bocah yang harus terus menyesuaikan diri dengan kurikulum baru, mungkin cara yang tepat untuk membuatnya dapat berfungsi dengan baik dapat dipikirkan setelah aku menyelesaikan studi S1, di tengah kesibukan mencari beasiswa dan (mungkin) mencoba part time dulu di tempat yang memungkinkan belajar metodologi riset. Oh, tapi kalau ada yang mau mengambil topik tersebut dipersilahkan kok, pastikan saja terdengar orang yang berwenang, haha.

Anyway, membicarakan kewenangan pun jadi teringat pemilu. Entah, belum lama ini internet sempat gempar oleh pencapresan seorang tokoh yang sedang menjabat sebagai pemimpin di sebuah daerah, kelihatannya banyak respon negatif. Aku menyayangkan keputusan dari partai yang terlibat memang, meski aku juga mengakui pemimpin itu punya kapasitas. Setidaknya saat sempat mengunjungi daerah tersebut awal tahun lalu memang banyak lokasi jalan rusak yang sudah dibenahi, dan entah perasaanku saja atau memang kemacetan di daerah itu berkurang jika dibandingkan dengan saat aku sma dulu. Tapi tetap saja sayang karena masalahnya belum beres sepenuhnya, tapi ada juga yang berargumen bahwa yang butuh pemimpin itu bukan cuma daerah itu. Entah ya, sampai saat ini aku masih belum menemukan partai yang bisa kupercaya, meskipun pernah terlibat lumayan jauh setengah dekade lalu. Entah kenapa aku sulit untuk percaya pada visi dan misi yang ditulis di dalam situs sebuah partai, benarkah masih sama? Entah lah. Dan aku juga menyayangkan sikap masyarakat diluar daerah yang pernah pemimpin itu pimpin yang skeptis-negatif. Kenapa orang yang bukan warga yang dia pimpin yang mengkritisi pencapresannya? Kecewa, ikut campur karena ingin memberi sebuah kesan atau memang peduli? Entah, sahabatku yang mempelajari ilmu politik dalam hubungan internasional pun agak malas berkomentar tentang orang yang tidak belajar tentang politik sama sekali tapi bisa berkomentar banyak saat ini. Entah karena pendapatnya terlalu bagus dan tidak perlu tambahan atau hanya malas berdebat atau membenarkan karena terlalu banyak hal yang tidak beres. Mungkin tidak ada masalah jika apa yang dikatakannya adalah kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan, tapi saat yang dikatakan adalah kebencian, fakta yang diragukan dan lain sebagainya, hm, oke, kejadian kedua dimana menjaga perkataan itu penting.

Sebagai tambahan, mungkin hal yang sama juga berlaku bagi para tim sukses atau orang-orang yang mempromosikannya, jadi ingat kondisi politik kampus tahun lalu, saat aku diminta salah satu calon untuk terlibat dalam video yang mempromosikannya. Awalnya aku agak ragu karena belum tahu visi-misi dan lain sebagainya, cuma kenal dan memang pribadinya baik dan kritis. Ya sudah, awalnya memutuskan jalan dahulu untuk bertanya lebih lanjut dalam prosesnya. Agak disayangkan karena setelah aku datang malah diminta untuk langsung terlibat dalam video kampanye itu. Aku tidak sempat bertanya terkait visi-misi dan saat menyatakan aku masih belum tentu memilih calon itu mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan. Dan satu hal yang sempat membuat clash adalah saat tim produksinya berkata, “udah, cariin aja anak kecil satu, habis itu langsung rekam”. Jadi aku diminta untuk berperan sesuai jabatanku saat itu, ketua skhole, organisasi pengabdian masyarakat di bidang pendidikan, yang diceritakan baru selesai mengajar dan berkata-kata indah dengan kutipan quotes dan lain sebagainya untuk mempromosikan gagasan calon tersebut. Sebenarnya gagasannya bagus, kuakui itu, namun aku tidak suka dengan kata-kata yang mereka ucapkan saat itu. Entah, tapi cara penyampaian saat itu mengesankan anak mana saja tidak masalah selama aku bisa berakting. Benar sih, tapi aku tidak suka akting, terlalu banyak hal yang harus diingat dan dibayangkan, jauh lebih merepotkan daripada menyampaikan sebuah kebenaran yang sederhana. Yah, lagipula aku juga bukan tipikal orang yang suka menggunakan quotes apapun ke siapapun kok, asal memilih kata tanpa tahu siapa yang kuhadapi sangat tidak sesuai dengan kepribadianku, aku lebih suka menggunakan quotes saat ada hal yang ingin kusampaikan pada seseorang yang kuanggap dekat, someone that matters, dan hanya pada saat dibutuhkan tapi tidak punya kata-kata yang tepat. Mengingat aku harus mempertanggungjawabkan tiap kata, ke tiap orang yang mendengar dan (mungkin) memilih calon tersebut, juga mempertanggungjawabkan keputusan dan kepengurusan bila ada hal buruk yang terjadi karena aku meminta orang-orang percaya ke dia. Repot. Aku tidak punya masalah pribadi kok dengan kelompok tersebut, kita hanya melakukan hal yang kita percaya dengan cara yang berbeda. Yah sudah lah, entah karena sifat kekanakan yang sedang kumat dan hanya tidak suka pada cara penyampaian kata-katanya atau memang dikombinasikan dengan fakta pertanggungjawaban yang akan repot, akhirnya aku memutuskan untuk netral saja, yah, ini membantu memang saat terjadi kericuhan antara kedua calon. Tapi akhirnya justru calon yang memintaku terlibat itu tidak kupilih, alasannya sederhana, aku baru sadar jika dia percaya padaku maka ada kemungkinan besar aku akan dilibatkan dalam kepengurusannya, dan meskipun memang menjadi sebuah kehormatan untuk dipercaya, aku tidak suka repot. Apalagi rapat berpuluh-puluh jam untuk membahas program kerja, tanggungjawab, dan lain sebagainya, ah, lebih baik aku memanfaatkan waktuku untuk hal lain. Toh aku lumayan percaya apa yang terjadi di dalam kampus ini tidak akan berpengaruh banyak pada negara ini, terlalu banyak faktor yang harus diatur untuk membuatnya berpengaruh. Lagipula aku bukan tipikal orang teoritis yang punya daya tahan rapat yang tinggi, setengah jam kuliah saja pikiranku sudah berada entah dimana, haha. Yaah, manusia tidak harus bertarung di semua pertarungan yang ada di hadapannya kan? You just need to fight in the ones that matters. Dan aku menganggap politik kampus yang mengurus urusan anak muda yang sudah mandiri bukanlah salah satunya, ada hal lain yang lebih perlu diperjuangkan. Toh sudah banyak orang yang aktif disana juga.

Dan aku juga masih perlu menjaga mulutku sendiri terkait kejadian ketiga. Aku memang bukan orang yang banyak bicara, lebih karena aku tidak punya topik pembicaraan ataupun melihat perlunya berbicara, tapi aku agak keterlaluan kalau terbawa suasana. Baru saja malam ini, saat sedang bersendagurau dengan kawan dari sebuah kegiatan mengajar di sebuah panti tunanetra, aku bercanda agak berlebih. Tidak akan kusebutkan detailnya, tapi aku secara tidak langsung mengolok-olok orang-orang yang memiliki disabilitas, dan aku tidak berpikir keceplosan merupakan alasan yang baik untuk kupertahankan. Tulisan ini kubuat sebagai permintaan maaf bagi para penyandang disabilitas yang sempat kuolok-olok dan pengingat agar kita lebih hati-hati dalam bertuturkata.

Bagi penyandang disabilitas, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Bagi khalayak umum, semoga bermanfaat 🙂

Random: Dua Mata, Dua Telinga, Satu Mulut

Pernah dengar pernyataan seperti, “Kamu tahu kenapa kita punya dua telinga dan satu mulut? Supaya kita lebih banyak mendengarkan daripada bicara” kah? Entah kenapa aku sedang tertarik untuk membahas pernyataan tersebut malam ini.

Kenapa kita punya dua mata, dua telinga dan dua lubang hidung tapi hanya punya satu mulut? Sepengetahuanku, kita memiliki dua buah mata agar kita dapat memprediksi jarak antara diri kita dengan benda yang kita lihat secara akurat, karena jarak benda dari mata kiri dan dari mata kanan berbeda. Informasi jarak yang berbeda itu kemudian akan diolah di otak agar kita dapat memperkirakan jarak benda secara akurat. Begitu juga dengan lubang hidung dan telinga. Sama dengan mata, karena jarak antara sumber bau dengan lubang hidung kanan dan kiri atau jarak antara sumber suara dengan telinga kanan dan kiri berbeda, kita dapat menentukan bau atau suara tersebut berasal dari mana.

Jika kita hanya memiliki satu mata, kepekaan kita terhadap jarak berkurang. Coba lah tutup sebelah mata lalu melakukan kegiatan seperti mengambil suatu benda atau melempar gumpalan kertas ke keranjang sampah, harusnya hal tersebut akan lebih sulit dilakukan jika dibandingkan dengan melakukannya dengan kedua mata terbuka. Begitu juga dengan telinga, jika kita hanya memiliki satu telinga yang berfungsi, akan sulit menentukan dimana letak sumber suara secara tepat.

Dan begitu juga dengan informasi yang kita terima. Kita perlu melihat informasi tersebut dari berbagai sudut pandang, mendengar pendapat dari kubu yang berbeda, dan mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum dapat menarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Itulaj sebabnya kita punya dua buah mata, dua buah telinga, hidung, lidah dan kulit, agar kita dapat memperoleh informasi sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Tapi, untuk menyebarluaskan kesimpulan yang kita peroleh, satu mulut saja cukup bukan?

Menurutku ini merupakan salah satu pengingat untuk tidak terpaku kepada satu sumber informasi saja. Karena, ada orang yang dapat berbicara begitu memukau meskipun perkataan yang diucapkan tidak berguna, ada orang yang hanya menampakkan sebagian informasi untuk mengarahkan orang kepada keburukan, ada orang yang hanya mengatakan apa yang ingin kita dengar, hei, bukankah Quran telah banyak menyebutkan golongan orang-orant serupa? Karena itu, carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum menyebarluaskan hasil analisis kita 🙂

Renungan dari kelas psikologi sosial kemarin, dimana ada kawan sekelas yang saat sekelompok denganku berhasil menebak sifat yang, hm, bisa dikatakan tidak terlalu baik. Aku tidak terlihat punya tujuan yang jelas, kelihatannya diperoleh dari menganalisis kalimat yang kugunakan dalam mendeskripsikan kegiatanku sehari-hari. Yah, aku tidak menyangkal, aku memang sedang tidak terlalu bersemangat untuk terburu-buru mencapai tujuan. Entah, mungkin salah satu pengaruh dari kelas akselerasi yang kuikuti ketika smp dulu, aku tidak menyukai kehidupan yang serba cepat dan terburu-buru. Untuk apa? Toh kematian akan menjemput baik dalam kondisi kita sudah menjadi pribadi yang sangat hebat ataupun saat kita masih perlu belajar banyak. Saat ini aku lebih suka menikmati perjalanan sambil berbagi ilmu, cerita dan pengalaman kepada orang lain, dan aku menganggap kegiatan sederhana seperti ini lebih menyenangkan daripada terburu-buru mengejar target, baik itu target mendapat beasiswa, target waktu nikah, target penghasilan tinggi, target apa pun lah. Bukan berarti aku tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Aku tetap yakin akan fokus mengembangkan bidang energi di Indonesia, karena memang itu janjiku saat lulus sma dulu kepada kawanku. Entah dia masih ingat atau tidak, haha, lucu juga sih bagaimana sebuah komentar berisi janji pada notes facebook bisa menjadi motivasi yang kuat bagi diri untuk meraih mimpi. Lagipula aku juga sedang terpikir untuk meminta tolong sesuatu kepada seorang kawan terkait salah satu target tersebut. Yah, setidaknya saat ini aku sudah terpikir langkah yang akan kuambil setelah ini. Tapi yang jelas, aku masih tetap ingin berjalan perlahan, menikmati perjalanan serta berbagi ilmu dan pengalaman kepada beberapa kawan. Tidak apa selama hal-hal yang kulakukan dan kuberikan bisa dipertanggungjawabkan kan?

Harus diakui, paragraf terakhir ini memang tidak ada hubungannya dengan paragraf-paragraf sebelumnya, entah kenapa setelah menulis tiba-tiba ingin meracau, kelihatannya karena uts masih agak lama (4 hari lagi) dan deadline tugas belum terlalu mepet. Semoga kebiasaan ini tidak terbawa pada tes kelancaran berbahasa deh, kedengarannya gagal tes karena terlalu banyak tulisan yang out of topic itu terlalu menyedihkan dan memalukan, hahaha. Ya sudah lah, waktunya beristirahat, oyasuminasai! 😀

Meninggalkan Shalat?

Meninggalkan Shalat?

Haha, masih terkait shalat tapi agak beda konteks. Gambarnya ngena. Bagaimanapun juga, saat seorang yang mengaku dirinya muslim dan memilih islam sebagai jalan hidupnya, tapi masih belum bisa menepati konsekuensi dan dari pengakuannya itu, perkataan seperti ini dari orang lain kelihatannya sangat mungkin terjadi.
Yah, tiap pilihan perlu dipertanggungjawabkan bukan? 🙂