Menilai Manusia

Dan kali ini kebiasaan procrastinating kembali beraksi -_- Disaat seharusnya lagi hectic tugas dan fokus, malah buka media sosial dan nemu status menarik yang sedikit menggelitik dan membuatku penasaran, jika kita harus menilai manusia, apakah yang akan kita nilai?

 

Akankah kita menilai dari berapa negara yang sudah disinggahi, untuk mengagumi kesempatan yang dia dapatkan, berkenalan dengan orang-orang hebat di luar negeri, bersantap makanan tradisional yang mungkin belum pernah kita dengar atau lihat, berinteraksi dengan orang-orang dari suku, agama, dan ras yang berbeda dan berbagai pengalaman yang mungkin tak akan pernah kita alami lainnya?

 

Atau akankah kita melihat dari kedekatannya dengan alam, berapa gunung yang sudah didaki, tempat apa saja yang sudah dikunjungi, binatang dan tumbuhan apa saja yang ditemui, pengalaman ter-ekstrim apa yang sudah dihadapi, dan berbagai pengalaman mengesankan lainnya?

 

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi orang-orang seperti itu, kelihatannya sekarang kita sudah bisa mendapatkan semua pengetahuan yang ada di internet, bahkan untuk melihat permukaan pluto tanpa perlu jauh-jauh pergi kesana pun sudah dapat dilakukan (coba tulis “the surface of pluto” di google). Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk melihat dan mengetahui segala hal, dari kebudayaan, makanan tradisional, statistik dan data, dan masih banyak lagi, jadi bagaimana bisa hal ini membedakan?

 

Oke, mungkin bakal ada argumen bahwa “merasakan sendiri itu beda”. Untuk menjawab itu, ada novel menarik berjudul “Measuring the World” yang dibuat oleh Daniel Kehlmann. Ceritanya merupakan bayangan seorang penulis mengenai 2 orang jerman yang mengukur dunia dengan caranya masing-masing, yaitu Carl Friedrich Gauss, matematikawan jerman yang tertutup dan sangat jarang bersosialisasi namun dapat membuktikan bahwa ruang angkasa itu melengkung tanpa perlu meninggalkan rumahnya, dengan Alexander von Humboldt, ahli ilmu bumi jerman yang naturalis dan aristokrat, hobi berpetualang, bahkan dikatakan tak ada gua dan bukit yang ditinggalkan tanpa terjelajah dan terukur. Kesimpulan yang diambil novel ini menarik, mengutip dari buku tersebut, “sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa yang sudah mengukur dunia lebih jauh” Bagi yang penasaran terhadap alasannya, silahkan baca sendiri :p

 

Bagi yang berargumen, “yang penting itu kan perjalanannya, perjuangan selama kita melangkah. Lagian banyak pelajaran yang didapat di sepanjang perjalanan kok”, aku sepakat, toh aku juga orang yang menyukai perjalanan. Cuma, semua kembali ke orangnya. Jadi ingat, setelah film “5 cm” keluar, dikatakan jumlah pendaki gunung semeru meningkat. Sayangnya, peningkatan ini diiringi dengan peningkatan jumlah sampah yang dibawa oleh para pendaki baru dan dibuang disana, dan aku tidak melihat itu sebagai tingkah laku orang yang mendapatkan pelajaran dari perjalanannya. Kembali lagi ke tujuan awal kita, untuk kebanggaan, atau untuk pelajaran?

 

Yah, semoga memang ada pelajaran yang didapatkan oleh para pendaki yang bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya 🙂

 

Oiya, untuk yang menyukai perjalanan, ada perkataan yang bagus dari shawn spencer di film “psych”:

 

Take lots of pictures. Not of sights. Don’t take pictures of buildings. Take pictures of moments, ’cause that’s what matters. Capture ‘em here [points to his head], and hold on to ‘em here [points to his heart]… At least that’s what I would do.

 

Ambillah gambar yang banyak, tapi jangan ambil gambar pemandangan, jangan juga ambil gambar bangunan. Ambillah gambar dari momen-momen yang ada, kejadian-kejadian yang istimewa, karena itu lah yang penting. Masukkanlah gambar-gambar itu ke kepala, dan simpanlah mereka di dalam hati, setidaknya itu yang akan kulakukan 🙂

 

Oke, kembali ke topik. Apa lagi yang dapat kita nilai dari seseorang?

 

Akankah kita menganggap kecerdasan lah yang utama, bagaimana dia selalu mendapat nilai tinggi di sekolah, bagaimana dia selalu menjadi juara dalam olimpiade, bagaimana dia menyelesaikan pendidikan lebih cepat daripada orang-orang seusia dia, dan menilai segala penghargaan yang telah dia dapatkan?

 

Atau akankah kita mengagumi pola pikirnya, bagaimana dia bisa menghadapi masalah dengan tenang meski masalah itu belum pernah dihadapi siapapun sebelumnya, bagaimana tingkah lakunya yang dewasa dapat menenangkan orang-orang saat terjadi masalah, bagaimana kebijaksanaannya menginspirasi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan tingkah laku menakjubkan lain yang pernah kita lihat pada dirinya?

 

Bagi orang-orang yang tertarik pada dunia psikologi atau pernah membaca mengenai multiple intelligence atau talent mapping, seharusnya pengetahuan bahwa setiap orang itu berbeda dan punya kelebihannya masing-masing merupakan pengetahuan umum, sehingga sulit untuk menilai manusia hanya dengan melihat tanpa mendalami alasan yang menyebabkan seseorang berlaku seperti itu, bukan? Tapi ini hal yang bagus kok, toh aku bisa membayangkan hambarnya dunia kalo semua orang itu sama, hehe.

 

Oke, lalu apa lagi yang dapat kita nilai?

 

Akankah kita menganggap tinggi hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia selalu menyapa para tetangganya dengan rendah hati, bagaimana orang-orang yang mengenal dia memperlakukannya dengan baik, dan takjub pada interaksi yang terjadi antara dirinya dan lingkungannya yang terkesan selalu positif?

 

Akankah kita takjub pada apa yang telah dia lakukan untuk masyarakat, bagaimana dia mengatur waktunya sedemikian rupa hingga dapat tetap menebar manfaat pada sekitar, apa saja yang dia korbankan untuk kebaikan orang lain, apa saja yang telah dia lakukan dan berikan meski mungkin tidak ada orang yang tahu, dan berbagai aktivitas mengagumkan lain yang kita lihat dari dirinya?

 

Akankah kita terpukau dengan pengetahuan agamanya serta kemampuannya untuk konsisten dalam menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupannya, bagaimana orang-orang belajar dari caranya beribadah, bagaimana dia mengingatkan orang-orang yang salah dan menjelaskan mengapa hal ini dilarang, bagaimana tingkah lakunya terhadap manusia dan alam, dan berbagai hal menakjubkan lainnya yang ada pada dirinya?

 

Entah lah.

 

Sudah hampir 2 dekade aku berada di dunia ini, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana cara menilai manusia?